JONI NASUTION

MAKALAH PERKEMBANGAN PESERTA DIDIK

BAB I

PENDAHULUAN

Ditinjau dari Perpektif Psikologi Perkembangan, Manusia adalah makhluk yang senantiasa mengalami perubahan atau ‘change overtime’. Sejak dari masa konsepsi hingga meninggal dunia secara bertahap mengalami proses pertumbuhan dan perkembangan . salah satu aspekpewrkembanganpsikososial yang dialami manusia adalah Perkembanagan Tingkah Laku Prososial.

Psikososial secara sederhana adalah sebuah cabang displin ilmu dalam ilmu psikologi. bila anda bertanya makna maka psikososial adalah sebuah cara pandang melihat suatu permasalahan komunal dalam masyarakat yang mempunyai pengaruh terhadap atribut perilaku tiap individu di dalam masyarakat tersebut. tetapi bila arti yang ditanyakan maka psikososial (menurut definisi ilmu psikologi ) sebuah cabang ilmu psikologi yang mempelajari atribut2 sosial dalam perilaku individu dalam sebuah masyarakat.

BAB II

PEMBAHASAN

PERKEMBANGAN TINGKAH LAKU PROSOSIAL PESERTA DIDIK

  1. Pengertian Tingkah Laku Prososial

Secara sederhana Psikososial merupakan singkatan dari dua kata yaitu Psiko dan Sosial, dimana arti dari Psiko merupakan Psikis yaitu adalah keadaan kondisi kejiwaan seseorang, dan Sosial merupakan tempat dimana individu hidup dan beraktivitas dengan individu lainnya atau dengan kata lain tatanan kehidupan dalam masyrakat, kedua hal ini saling mempengaruhi individu dalam kehidupannya, yaitu jika individu dalam sisi kejiwaan tidak baik atau tertanggu maka akan mempengaruhi dirinya maupun lingkungan sosialnya demikian juga sebaliknya jika lingkungan sosialnya tertanggu maka akan mempengaruhi kondisi pribadi individu tersebut.

Dalam memberikan definisi tentang Tingkah Laku Propsosial, ada beberapa ahli yang mengemukakannya sebagai berikut:

a. Barfon Byrne (1991)

Tingkah laku Prososial adalah tindakan menolong orang lain.

b. Sears,dkk (1992)

Tingkah laku Prososial adalah segala tindakan yang dilakukan atau direncanakan untuk menolong orang lain, tanapa memperdulikan motiv-motiv sipenolong.

c. Sri Utari Pidada (dalam Jurnal ISPSI No.5.1994)

Tingkah laku Prososial adalahsuatau tingkah laku yang mempunyai suatu akaibat atau konsekuensiposotif bagi sipartner interaksi.

d. Janusz Reskowski (dalam Esscimberg, 1982)

Tingkah laku Prososial adalah mencakaup sejumlah fenomena yang luas, seperti menolong, berbagi, pengorbanan diri, dan mematuhi norma.

e. Lead (dalam Staub, 1978)

Menurut lead ada tiga criteria yang menetukan tingkah laku Altruistik (Prososial)

1. Tindakana yang bertujuan khusus menguntungkan orang lain tanpa mengharapakan reward external.

2. Tindakan yang dilakukan dengan suka rela.

3. Tindalakan yang menghasilakan sesauatu yang baik.

Berdasarkan pendapat dari para pakar diatas jadi dapat kita pahami bahawa Tingkah laku prososial ini merupan suatu tingkah laku sosial positif yang bersifat spontan maupun direncanakan dengan tujuan memberikan bantuan dan pertolongan pada orang lain tanpa paksaan dan juaga mengharapkan balasan (reward).

  1. Perkembangan Tingkah Laku Prososial

Perkembanagan tingkah laku prsosial ini memiliki enam tahapan yaitu sbb:

a. Compliance & Concrete, Defined Reinsforment

pada thapan ini, individu melakukan tindakan menolong karenakan permintaan atau jaga karena perintah yang disertai dahulu dengan reward atau punishment.

Contohnya; Seoarang ibu meminta tolong kepada anak -anaknya untuk menyapu halaman rumah, maka setelah itu sang anak diberikan kue.

b. Compliance

Pada tahap ini, individu mewlakukan tindakan menolong karena tunduk pada ototritas, sedangkan ia sendiri tidak berinisitaif melakukannya.

c. Internal Initiative & Concrete Reward

Pada tahap ini, individu menolong karena tergantung pada penerimaan reward (hadiah) yang diterima.

d. Normative Behavior

Pada tahap ini, individu menolong orang lan untuk memenuhi tuntutan masyarakat karena ia ingin menjadi orang baik dimata masyarakat. Selain itu, tindakan sipenolong dipengaruhi oleh norma-norma sosial yang ada didalam masyarakat.

e. Generalized Reciprocity

Pada tahap ini, tingkah laku menolong didasari atas prinsip-prinsip universal dan pertukaran, yakni seseorang memberikan pertolongan karena dia percaya ketika juga membutuhkan pertolongan maka akan mendapatkan pertolongan.

f. Altruistic Behavior

Pada tahap ini, individu melakukan tindakan menolong secara suka rela, tapa mengharapkan hadiah dan balasan.

Dari penjelasan diatas jadi tahapan tahapan ini sebenarnya tergantung pada niat seseorang dalam memberikan pertolongan pada orang lain. Apakah itu karena permintaan, perintah atau karena menghapkan balasannya dan juga sudah kebiasaannya menolong orang lain.

  1. Factor-factor yang Mempengaruhi

Factor-factor yang mempengaruhi prilaku Prososial ini menurut Para ahli, antara lain:

a. Menurut Staub (Daya Kisni & Hudaniah, 2006) terdapat beberapa factor yang mendasari seseorang untuk bertindak prososial, yaitu:

- Self-Gain

Adalah harapan seseorang untuk memperoleh atau menghindari kehilangan sesuatau, misalnya: ingin mendapatkan pengakuan, pujian atau takut dikucilkan.

- Personal Values and Norms

Adanya nilai-nilai dan norma sosial yang di amalkan atau diterapkan oleh individu selama proses sosialisasi yang meliputi, norma memberi dan norma tanggung jawab.

- Emphty

Adalah kemampuan seseorang untuk ikut merasakan perasaan atau penglaman orang lain.

  1. Menurut Faturocman (2006) Factor-faktornya adalah sbb:

- Situasi Sosial

Adanya korelasi negative antara pemberian pertolongan dengan jumlah pemerhati, makin banyak orang yang melihat suatu kejadian yang memerlikan pertolongan maka makin kecil munculnya dorongan untuk menolong.

- Biaya menolong

Dengan keputusan membrikan pretolongan berarti akan ada cost tertentu yang dikeluarkan untuk menolong.

- Karakterristik orang-orang terlibat

Makin banyak kesamaan antara sipenolong dengan yang ditolong, maka makin besar pula peluang untuk munculnya pemberian pertolongan.

- Mediator internal mood

Ada kecendrungan bahwa orang yang baru melihat atau mengalami kesediahan lebih sedikit memberi bantuan dari pada orang yang baru melihat atau mengalami hal-hal yang menyenagkan, tergantung perasaan(situasi dan kondisi).individu

- Emphaty

- Latar Belakang Kepribadian Individu

Individu yang memmpunyai orientasi sosial yang tinggi cendrung lebih mudah memberi pertolongan, demikian juga orang yang memiliki tanggung jawab sosial yang tinggi.

  1. Implikasi Perkembangan Tingkah Laku Prososial Dengan Pembelajaran

Sekolah merupakan tempat yang penting dan mendukung dalam mengembangkan keterampilan sosial yaitu bagi peserta didik.

Berikut ini ada beberapa srategi yang dapat digunakan oleh seorang guru dalam upaya membantu dan mendorong peserta didik dalam memperoleh dan mewujudkan tingkah laku interpersonal yang efektif, yaitu:

a. Mengajarkan keterampilan sosisial dan strategi pemecahan masalah sosial

yaitu melalui intruksi verbal serta dorongan-dorongan dan tingkah laku pemodelan.

b. Menggunakan Strategi Pembelajaran Kooperatif

Mengarahkan dan mengajarkan kepada siswa bagaimana cara memberi pertolongan ,mencari pertolongan dan keterampilan dalm resolusi konflik serta pemahaman tentang keadilan.

c. Memberikan Label Prilaku Yang Pantas

Meningkatkan kesadaran siswa terhadap efektifitas ketereampilan sosial dengan mengidentifikasi dan membri pujian atas tindakan-tindakannya itu.

d. Meminta siswa untuk memikirkan dampak dari prilaku yang dimiliki.

Bagimana siswa mampu memikirkan konsekuensi serta manfaat dari setiap tindakan yang dilakukannya.

e. Mengembagkan Program Mediasi Teman Sebaya.

Bagaimana siswa melakukan intervensi terhadap perselisishan interpersonal yang terjadi dalam kelas secara efektif dan baik.

f. Memberikan penjelasan bahwa tingkah laku tiagrsif yang merugikan baik fisik maupun psikologis orang lain tidak dibenarkan disekolah.

BAB III

PENUTUP

1. Kesimpulan

Berdasarkan penjelasan diatas jadi dapat kita pahami bahwa Tingkah laku prososial ini merupakan suatu tingkah laku sosial positif yang bersifat spontan maupun direncanakan dengan tujuan memberikan bantuan dan pertolongan pada orang lain tanpa paksaan dan juga mengharapkan balasan (reward).

Perkembanagan tingkah laku prsosial ini memiliki enam tahapan yaitu sbb:

a. Compliance & Concrete, Defined Reinsforment

b. Compliance

c. Internal Initiative & Concrete Reward

d. Normative Behavior

e. Generalized Reciprocity

f. Altruistic Behavior

Tahapan ini sebenarnya tergantung pada niat dan usaha seseorang dalam memberikan pertolongan pada orang lain.

Implikasinya terhadap prrkembangan peserta didik dalam proses pembelajaran sebenarnya adalah sebagai intervensi segala tindakan yang akan dilakukan dalam menjalin hubungan sebagai makhluk sosial yang saling melengkapi dan membutuhkan, baik dalam aspek manapun.

2. Saran

Dalam penulisan makalah ini penulis merasa, masih kurang sempurna karena keterbatasan ilmu dan pengetahuan serta sumber yang diperoleh. Jadi Penulis berharap kepada pembaca tulisan ini agar bersedia memberikan kritik dan sarannya untuk kesempurnaan makalah ini.untuk itu kami mengucapkan ribuan terima kasih banyak.


DAFTAR PUSTAKA

Desmita. (2009). Psikologi Perkembangan Peserta Didik. Bandung. PT REMAJA ROSDAKARYA

http://mautanya.com/questions/360/apa-sih-sebenarnya-psychosocial-psikososial-itu

http://moshimoshi.netne.net/materi/psikologi_pendidikan/bab_4.htm

http://wartawarga.gunadarma.ac.id/2010/05/perkembangan-fisik-motorik-kognitif-psikososial-pada-anak/

1

yang anda maksud dengan psikososial sebagai makna akan berbeda dengan arti. psikososial adalah sebuah cabang ilmu psikologi yang mempelajari atribut2 sosial dalam perilaku manusia sehari2 dalam kaitan interaksi di dalam lingkungan kesehariannya. namun psikososial juga bisa berarti cara pandang untuk melihat permasalahan komunal dalam kehidupan sehari2 yang menimbulkan atribut tertentu dalam perilaku masyarakat.

0

psikososial secara sederhana adalah sebuah cabang displin ilmu dalam ilmu psikologi. bila anda bertanya makna maka psikososial adalah sebuah cara pandang melihat suatu permasalahan komunal dalam masyarakat yang mempunyai pengaruh terhadap atribut perilaku tiap individu di dalam masyarakat tersebut. tetapi bila arti yang ditanyakan maka psikososial (menurut definisi ilmu psikologi ) sebuah cabang ilmu psikologi yang mempelajari atribut2 sosial dalam perilaku individu dalam sebuah masyarakat.

0

secara sederhana psikososial merupakan singkatan dari dua kata yaitu psiko dan sosial, dimana arti dari psiko merupakan psikis yaitu adalah keadaan kondisi kejiwaan seseorang, dan sosial merupakan tempat dimana individu hidup dan beraktivitas dengan individu lainnya atau dengan kata lain tatanan kehidupan dalam masyrakat, kedua hal ini saling mempengaruhi individu dalam kehidupannya, yaitu jika individu dalam sisi kejiwaan tidak baik atau tertanggu maka akan mempengaruhi dirinya maupun lingkungan sosialnya demikian juga sebaliknya jika lingkungan sosialnya tertanggu maka akan mempengaruhi kondisi pribadi individu tersebut.

PERKEMBANGAN PSIKOSOSIAL DAN MORAL

PERKEMBANGAN PERSONAL DAN SOSIAL

Pakar psikologi yang mengembangkan teori perkembangan personal dan sosial adalah Erik Erikson. Dia menyatakan bahwa seseorang dalam kehidupannya akan melewati delapan tahap psikososial, yaitu:

1. Tahap kepercayaan VS ketidakpercayaan (0 – 1 tahun)

Jika pada tahap ini bayi diasuh dengan rasa nyaman maka akan timbul kepercayaan. Apabila diasuh dengan negatif atau diabaikan akan menimbulkan rasa ketidakpercayaan.

2. Tahap otonomi VS malu dan ragu (1 – 2 tahun)

Pada tahap ini jika bayi mempercayai pengasuhnya, mereka akan menegaskan independensi dan menyadari kehendaknya sendiri. Jika bayi terlalu banyak dibatasi, mereka akan mengembangkan sikap malu dan ragu.

3. Tahap inisiatif VS rasa bersalah (3 – 5 tahun)

Pada tahap ini anak akan mempunyai inisiatif apabila mengemban tanggung jawab. Anak akan merasa bersalah bila tidak bertanggung jawab dan merasa cemas.

4. Tahap upaya VS inferioritas (6 – 10 tahun)

Saat imajinasi mereka berkembang, anak yang punya inisiatif akan bersemangat untuk belajar. Bahayanya, anak menjadi rendah diri, tidak produktif dan inkompetensi.

5. Tahap identitas VS kebingungan (10 – 20 tahun)

Pada tahap ini, apabila remaja diberi kesempatan untuk melakukan eksplorasi guna memahami identitasnya, remaja akan menemukan identitasnya. Bila tidak diberi kesempatan remaja akan mengalami kebingungan mengenai identitas dirinya.

6. Tahap intimasi VS isolasi (20 – 40 tahun)

Pada tahap ini, setelah menemukan identitasnya, orang akan mulai membentuk hubungan yang positif dengan orang lain. Bila tidak, orang akan terisolasi secara sosial.

7. Tahap generativitas VS stagnasi (40 – 60 tahun)

Pada tahap ini orang dewasa akan membantu generasi muda untuk mengembangkan hidup yang berguna. Di sisi lain ada pula orang dewasa yang tidak melakukan apapun untuk membantu generasi muda.

8. Tahap integritas VS putus asa (60 tahun ke atas)

Pada tahap ini orang tua akan merenungi kembali hidupnya. Apabila evaluasinya positif, mereka akan mengembangkan rasa integritas. Apabila evaluasinya negatif, mereka akan putus asa.

Perkembangan sosial lebih diwarnai dengan dua aktivitas yang berlawanan yaitu otonomi dan keterikatan. Di sisi lain remaja dapat mengatur diri sendiri dan mencapai kebebasan (otonomi), di sisi lain remaja masih terikat hubungan dengan orang tua.

Faktor-faktor yang mempengaruhi perkembangan sosial antara lain:

- keluarga : Cara mendidik anak yang digunakan orang tua sangat berpengaruh terhadap sikap dan perilaku anak.

- sekolah : Di sekolah, guru memasukkan pengaruhnya terhadap sosialisasi anak.

- masyarakat : Penerimaan dan penghargaan secara baik dari masyarakat terhadap diri anak mendasari perkembangan sosial yang sehat, citra diri yang positif dan rasa percaya diri yang mantap.

http://moshimoshi.netne.net/materi/psikologi_pendidikan/bab_4.htm

4. Perkembangan Psikosial
Pada tahap ini, anak dapat menghadapi dan menyelesaikan tugas atau perbuatan yang dapat membuahkan hasil, sehingga dunia psikosial anak menjadi semakin kompleks. Anak sudah siap untuk meninggalkan rumah dan orang tuanya dalam waktu terbatas, yaitu pada saat anak berada di sekolah. Melalui proses pendidikan ini, anak belajar untuk bersaing (kompetitif), kooperatif dengan orang lain, saling memberi dan menerima, setia kawan dan belajar peraturan – peraturan yang berlaku. Dalam hal ini proses sosialisasi banyak terpengaruh oleh guru dan teman sebaya. Identifikasi bukan lagi terhadap orang tua, melainkan terhadap guru. Selain itu, anak tidak lagi bersifat egosentris, ia telah mempunyai jiwa kompetitif sehingga dapat memilah apa yang baik bagi dirinya, mampu memecahkan masalahnya sendiri dan mulai melakukan identifikasi terhadap tokoh tertentu yang menarik perhatiannya.