Oleh:

WINTO : 127 030

MUSRADIAN : 127 0 17

THOMAS HENDRIKO : 205 085

PENDAHULUAN

Secara garis besar psikolinguistik atau psikologi bahasa ialah kajian faktor-faktor psikologi dan neurobiologi yang membolehkan manusia memperoleh, menggunakan, dan memahami bahasa. Penglibatan-penglibatan singkat dalam bidang ini pada mula-mulanya merupakan usaha-usaha falsafah, diakibatkan sebahagian besarnya oleh kekurangan data-data yang padu tentang bagaimana otak manusia berfungsi. Penyelidikan modern mempergunakan biologi, neurosains, sains kognitif, dan teori maklumat untuk mengkaji bagaimana otak memperoses bahasa. Adadnya beberapa subdisiplin; umpamanya, teknik-teknik tak invasif untuk mengkaji pengerjaan neurologi otak semakin digunakan, dengan neurolinguistik kini merupakan sebuah bidang baru pada dirinya.

Dalam makalah ini pemakalah akan membahas :

1. Bagaimana teori psikolinguistik menurut aliran Behavioristik

2. Bagaimana teori psikolinguistik menurut aliran Kognitif

3. Bagaimana teori psikolinguistik menurut aliran mentalistik

Semoga penyajian makalah ini dapat menjadi sebuah refrensi yang rasional dan objektif dalam memahami mata kuliah Ilmu Lughah an Nafsi (Psikolinguistik) ini. Dan mampu kita manfaatkan proses pembelajaran lain.

Batusangkar, Februari 2010

Penulis

PEMBAHASAN

ALIRAN – ALIRAN PSIKOLINGUISTIK

  1. Aliran Behavioristik

Teori Behavioristik pertama kali dimunculkan oleh Jhon B.Watson (1878-1958). Dia adalah seorang ahli psikologi berkebangsaan amerika. Dia mengembangkan teori Stimulus-Respons Bond (S – R Bond) yang telah diperkenalkan oleh Ivan P.Pavlov. Menurut teori ini tujuan utama psikologi adalah membuat prediksi dan pengendalian terhadap prilaku, dan sedikitpun tidak ada hubungannya dengan kesadaran. Yang dikaji adalah benda-benda atau hal-hal yang diamati secara langsung, yaitu rangsangan (stimulus) dan gerak balas(respons) [1].

Eksperimen yang dilakukan oleh Watson dalam membuktikan kebenaran teori behaviorismenya terhadap manusia adalah percobaan terhadap bayi yang bernama albert berusia 11 tahun dan tikus putih. Dimana kesimpulan akhirnya adalah pelaziman dapat merubah prilaku seseorang secara nyata.

Dalam pembelajaran yang didasarkan pada hubungan stimulus respon, Watson mengemukakan dua hal penting:

1. Recency Principle (prinsip kebaruan)

Yaitu Jika suatu stimulus baru saja menimbulkan respons, maka kemungkinan stimulus itu untuk menimbulkan respons yang sama apabila diberikan umpan lagi akan lebih besar daripada kalau stimulus itu diberikan umpan setelah lama berselang.

2. Frequency Principle (prinsip frekuensi)

Menurut prinsip ini apabila suatu stimulus dibuat lebih sering menimbulkan satu respons, maka kemungkinan stimulus itu akan menimbulkan respons yang sama pada waktu yang lain akan lebih besar.

Selain itu. Watson mengatakan bahwa keyakinan pada adanya kesadaran berkaitan dengan keyakinan masa-masa nenek moyang mengenai tahayul. Magis-magis senantiasa hidup. Konsep-konsep warisan masa praberadab ini telah membuat kebangkitan dan pertumbuhan psikologis ilmiah menjadi sangat sulit. Kriteria Watson dalam menentukan apakah sesuatu itu ada atau tidak ada adalah berdasarkan apakah hal tersebut dapat diamati atau tidak dapat diamati.[2]

Selanjutnya Bell (1981:24) mengungkapkan pandangan aliran behaviorisme yang dianggap sebagai jawaban atas pertanyaan bagaimanakah sesungguhnya manusia memelajari bahasa, yaitu:

1. Dalam upaya menemukan penjelasan atas proses pembelajaran manusia, hendaknya para ahli psikologi memiliki pandangan bahwa hal-hal yang dapat diamati saja yang akan dijelaskan, sedangkan hal-hal yang tidak dapat diamati hendaknya tidak diberikan penjelasan maupun membentuk bagian dari penjelasan.

2. Pembelajaran itu terdiri dari pemerolehan kebiasaan, yang diawali dengan peniruan.

3. Respon yang dianggap baik menghasilkan imbalan yang baik pula.

4. Kebiasaan diperkuat dengan cara mengulang-ulang stimuli dengan begitu sering sehingga respon yang diberikan pun menjadi sesuatu yang bersifat otomatis.[3]

  1. Aliran Kognitif

Menurut teori ini bahasa bukanlah suatu ciri ilmiah yang terpisah, melainkan salah satu diantara beberapa kemampuan yang berasal dari kematangan kognitif. Bahasa di instruksikan oleh nalar. Perkembangan bahasa harus berlandaskan pada percobaan yang lebih mendasar dan lebih umum di dalam kognisi. Jadi urutan-urutan perkembnagan kognitif menentukan perkembangan bahasaMenurut teori kognitif yang utama sekali harus dicapai adalah perkembangan kognitif, barulah pengetahuan dapat keluar dalam bentuk keterampilan berbahasa semenjak lahir sampai umur 18 bulan bahasa belum ada, si anak memahami dunia melalui indranya[4]

Adapun tokoh yang terkenal dengan teori kognitif ini adalah Noam Chomsky menyatakan bahwa manusia dilahirkan dengan akal yang berisi pengetahuan batin yang berkait dengan sejumlah bidang yang berbeda-beda. Salah satu dari pengetahuan tersebut berkait dengan bahasa. Chomsky menyebut pengetahuan batin yang berkait dengan bahasa ini sebagai Language Acquisition Device atau yang lebih populer sebagai LAD, yang dalam modul disebut sebagai Alat Pemerolehan Bahasa atau APB. Chomsky berpendapat bahwa daya-daya dalam bidang yang berbeda yang disebut di atas, relatif mandiri satu sama lain. Artinya tidak saling berkait. Bahkan dalam kaitan dengan pemerolehan bahasa, Chomsky berpendapat bahwa bagi pemerolehan bahasa, pengetahuan batin saja sudah cukup dan pengetahuan matematis serta pengetahuan logika tidak diperlukan dalam kegiatan ini.

Masih menurut Chomsky behaviorisme (S-R), sangat tidak memadai untuk menerangkan proses pemerolejhan bahasa. Sebab masukan data linguistiknya sangat sedikit untuk membangkitkan rumus-rumus linguistic. pada bagian akhir subpokok bahasan diketengahkan argumen-argumen yang dikemukakan Chomsky dalam mempertahankan APB yang tertuang dalam bentuk empat argumen, yakni (1) keunikan tata bahasa, (2) data masukan yang tidak sempurna, (3) ketidakselarasan intelegensi, dan (4) kemudahan dan kecepatan pemerolehan bahasa anak.

  1. Aliran Mentalistik

Pada subpokok bahasan ini, kita telah membahas sejumlah konsep pendapat-pendapat para teorisi mengenai bagaimana seseorang memahami dan merespons terhadap apa-apa yang ada di alam semesta ini. Kita telah berbicara mengenai pandangan-pandangan kaum mentalis dan kaum bahavioris, terutama dalam kaitan dengan keterhubungan antara bahasa, ujaran dan pikiran. Menurut kaum mentalis, seorang manusia dipandang memiliki sebuah akal (mind) yang berbeda dari badan (body) orang tersebut. Artinya bahwa badan dan akal dianggap sebagai dua hal yang berinteraksi satu sama lain, yang salah sati di antaranya mungkin menyebabkan atau mungkin mengontrol peristiwa-peristiwa yang terjadi pada bagian lainnya. Dalam kaitan dengan perilaku secara keseluruhan, pandangan ini berpendapat bahwa seseorang berperilaku seperti yang mereka lakukan itu bisa merupakan hasil perilaku badan secara tersendiri, seperti bernapas atau bisa pula merupakan hasil interaksi antara badan dan pikiran. Mentalisme dapat dibagi menjadi dua, yakni empirisme dan rasionalisme.

Kedua pendapat ini pun memiliki pandangan-pandangan yang berbeda dalam memahami persoalan gagasan-gagasan batin atau pengetahuan. Semua kaum mentalis bersepakat mengenai adanya akal dan bahwa manusia memiliki pengetahuan dan gagasan di dalam akalnya. Meskipun demikian, mereka tidak bersepakat dalam hal bagaimana gagasan-gagasan tersebut bisa ada di dalam akal. Apakah gagasan-gagasan tersebut seluruhnya diperoleh dari pengalaman (pendapat kaum empiris) atau gagasan-gagasan tersebut sudah ada di dalam akal sejak lahir (gagasan kaum rasional). Bahkan di dalam kedua aliran ini pun, terdapat perbedaan pendapat yang rinciannya akan kita bahas nanti.

Kemudian, diketengahkan pembahasan mengenai empirisme. Dalam kaitan ini telah dibahas kenyataan bahwa kata empiris dan empirisme telah berkembang menjadi dua istilah yang memiliki dua makna yang berbeda. Setelah itu, dibahas pula isu lain yang mengelompokkan kaum empiris, yakni isu yang berkenaan dengan pertanyaan apakah gagasan-gagasan di dalam akal manusia yang membentuk pengetahuan bersifat universal atau umum di samping juga bersifat fisik.

PENUTUP

  1. Kesimpulan

Teori/Aliran Behavioristik tujuan utama psikologi adalah membuat prediksi dan pengendalian terhadap prilaku, dan sedikitpun tidak ada hubungannya dengan kesadaran. Yang dikaji adalah benda-benda atau hal-hal yang diamati secara langsung, yaitu rangsangan (stimulus) dan gerak balas(respons)

Teori Kognitif berpandangan Menurut teori ini bahasa bukanlah suatu ciri ilmiah yang terpisah, melainkan salah satu diantara beberapa kemampuan yang berasal dari kematangan kognitif

Kaum mentalis berpendapat seorang manusia dipandang memiliki sebuah akal (mind) yang berbeda dari badan (body) orang tersebut. Artinya bahwa badan dan akal dianggap sebagai dua hal yang berinteraksi satu sama lain,

  1. Saran

Makalah yang kami sajikan ini masih jauh dari kesempurnaan. Sebuah harapan berupa saran, dan kritikan yang bersifat konstruktif dan rasional kami harapkan dari kawan-kawan semua terutama dari dosen pembimbing kita. Semoga kita mendapatkan ilmu yang ingin kita harapkan bersama.

DAFTAR PUSTAKA

Abdul chaer, Psikolinguistik kajian teoritik, PT Rineka putra, Jakarta 2003

http://prasastie.multiply.com/journal/item/38

[1] http://massofa.wordpress.com/2008/01/24/menengok-bahasan-psikolinguistik/ OLEH PAKDE SOFA

http.//www.scrib.com



[1] Abdul chaer, Psikolinguistik kajian teoritik, PT Rineka putra, Jakarta 2003

[3] http://massofa.wordpress.com/2008/01/24/menengok-bahasan-psikolinguistik/ OLEH PAKDE SOFA

[4] http.//www.scrib.com

Labels: edit post