Senin, 31 Januari 2011

PAKEM (Aktif, Kreatif, Efektif, dan Menyenangkan)

PAKEM (Aktif, Kreatif, Efektif, dan Menyenangkan)

Januari 2009

Diakses hari selasa 23 maret 2010.

A. PENGERTIAN.

Aktif dimaksudkan bahwa dalam proses pembelajaran guru harus menciptakan suasana sedemikian rupa sehingga siswa aktif bertanya, mempertanyakan, dan mengemukakan gagasan. Belajar memang merupakan suatu proses aktif dari si pembelajar dalam membangun pengetahuannya, bukan proses pasif yang hanya menerima kucuran ceramah guru tentang pengetahuan. Sehingga, jika pembelajaran tidak memberikan kesempatan kepada siswa untuk berperan aktif, maka pembelajaran tersebut bertentangan dengan hakikat belajar. Peran aktif dari siswa sangat penting dalam rangka pembentukan generasi yang kreatif, yang mampu menghasilkan sesuatu untuk kepentingan dirinya dan orang lain.

Kreatif juga dimaksudkan agar guru menciptakan kegiatan belajar yang beragam sehingga memenuhi berbagai tingkat kemampuan siswa.

Menyenangkan adalah suasana belajar-mengajar yang menyenangkan sehingga siswa memusatkan perhatiannya secara penuh pada belajar sehingga waktu curah perhatiannya tinggi. Menurut hasil penelitian, tingginya waktu curah terbukti meningkatkan hasil belajar. Keadaan aktif dan menyenangkan tidaklah cukup jika proses pembelajaran tidak efektif, yaitu tidak menghasilkan apa yang harus dikuasai siswa setelah proses pembelajaran berlangsung, sebab pembelajaran memiliki sejumlah tujuan pembelajaran yang harus dicapai. Jika pembelajaran hanya aktif dan menyenangkan tetapi tidak efektif, maka pembelajaran tersebut tak ubahnya seperti bermain biasa.

PAKEM adalah singkatan dari Pembelajaran yang Aktif, Kreatif, Efektif, dan Menyenangkan. Fokus PAKEM adalah pada kegiatan siswa di dalam bentuk group, individu, dan kelas, partisipasi di dalam proyek, penelitian, penelidikan, penemuan, dan beberapa macan strategi yang hanya dibatas dari imaginasi guru.
Secara garis besar, gambaran PAKEM adalah sebagai berikut:

1. Siswa terlibat dalam berbagai kegiatan yang mengembangkan pemahaman dan kemampuan mereka dengan penekanan pada belajar melalui berbuat.

2. Guru menggunakan berbagai alat bantu dan cara membangkitkan semangat, termasuk menggunakan lingkungan sebagai sumber belajar untuk menjadikan pembelajaran menarik, menyenangkan, dan cocok bagi siswa.

3. Guru mengatur kelas dengan memajang buku-buku dan bahan belajar yang lebih menarik dan menyediakan ‘pojok baca’.

4. Guru menerapkan cara mengajar yang lebih kooperatif dan interaktif, termasuk cara belajar kelompok.

5. Guru mendorong siswa untuk menemukan caranya sendiri dalam pemecahan suatu masalah, untuk mengungkapkan gagasannya, dan melibatkam siswa dalam menciptakan lingkungan sekolahnya.

B. Apa yang harus diperhatikan dalam melaksanakan PAKEM?

1. Memahami sifat yang dimiliki anak.

Pada dasarnya anak memiliki sifat: rasa ingin tahu dan berimajinasi. Anak desa, anak kota, anak orang kaya, anak orang miskin, anak Indonesia, atau anak bukan Indonesia – selama mereka normal – terlahir memiliki kedua sifat itu. Kedua sifat tersebut merupakan modal dasar bagi berkembangnya sikap/berpikir kritis dan kreatif.

Kegiatan pembelajaran merupakan salah satu lahan yang harus kita olah sehingga subur bagi berkembangnya kedua sifat, anugerah Tuhan, tersebut. Suasana pembelajaran dimana guru memuji anak karena hasil karyanya, guru mengajukan pertanyaan yang menantang, dan guru yang mendorong anak untuk melakukan percobaan, misalnya, merupakan pembelajaran yang subur seperti yang dimaksud.

2. Mengenal anak secara perorangan

Para siswa berasal dari lingkungan keluarga yang bervariasi dan memiliki kemampuan yang berbeda. Dalam PAKEM (Pembelajaran Aktif, Menyenangkan, dan Efektif) perbedaan individual perlu diperhatikan dan harus tercermin dalam kegiatan pembelajaran. Semua anak dalam kelas tidak selalu mengerjakan kegiatan yang sama, melainkan berbeda sesuai dengan kecepatan belajarnya. Anak-anak yang memiliki kemampuan lebih dapat dimanfaatkan untuk membantu temannya yang lemah (tutor sebaya). Dengan mengenal kemampuan anak, kita dapat membantunya bila mendapat kesulitan sehingga belajar anak tersebut menjadi optimal.

3. Memanfaatkan perilaku anak dalam pengorganisasian belajar

Sebagai makhluk sosial, anak sejak kecil secara alami bermain berpasangan atau berkelompok dalam bermain. Perilaku ini dapat dimanfaatkan dalam pengorganisasian belajar. Dalam melakukan tugas atau membahas sesuatu, anak dapat bekerja berpasangan atau dalam kelompok. Berdasarkan pengalaman, anak akan menyelesaikan tugas dengan baik bila mereka duduk berkelompok. Duduk seperti ini memudahkan mereka untuk berinteraksi dan bertukar pikiran. Namun demikian, anak perlu juga menyelesaikan tugas secara perorangan agar bakat individunya berkembang.

4. Mengembangkan kemampuan berpikir kritis, kreatif, dan kemampuan memecahkan masalah.

Pada dasarnya hidup ini adalah memecahkan masalah. Hal ini memerlukan kemampuan berpikir kritis dan kreatif. Kritis untuk menganalisis masalah; dan kreatif untuk melahirkan alternatif pemecahan masalah. Kedua jenis berpikir tersebut, kritis dan kreatif, berasal dari rasa ingin tahu dan imajinasi yang keduanya ada pada diri anak sejak lahir. Oleh karena itu, tugas guru adalah mengembangkannya, antara lain dengan sering-sering memberikan tugas atau mengajukan pertanyaan yang terbuka. Pertanyaan yang dimulai dengan kata-kata “Apa yang terjadi jika …” lebih baik daripada yang dimulai dengan kata-kata “Apa, berapa, kapan”, yang umumnya tertutup (jawaban betul hanya satu).

5. Mengembangkan ruang kelas sebagai lingkungan belajar yang menarik.

Ruang kelas yang menarik merupakan hal yang sangat disarankan dalam PAKEM.Hasil pekerjaan siswa sebaiknya dipajangkan untuk memenuhi ruang kelas seperti itu. Selain itu, hasil pekerjaan yang dipajangkan diharapkan memotivasi siswa untuk bekerja lebih baik dan menimbulkan inspirasi bagi siswa lain. Yang dipajangkan dapat berupa hasil kerja perorangan, berpasangan, atau kelompok. Pajangan dapat berupa gambar, peta, diagram, model, benda asli, puisi, karangan, dan sebagainya. Ruang kelas yang penuh dengan pajangan hasil pekerjaan siswa, dan ditata dengan baik, dapat membantu guru dalam PEMBELAJARAN karena dapat dijadikan rujukan ketika membahas suatu masalah.

6. Memanfaatkan lingkungan sebagai sumber belajar.

Lingkungan (fisik, sosial, atau budaya) merupakan sumber yang sangat kaya untuk bahan belajar anak. Lingkungan dapat berperan sebagai media belajar, tetapi juga sebagai objek kajian (sumber belajar). Penggunaan lingkungan sebagai sumber belajar sering membuat anak merasa senang dalam belajar. Belajar dengan menggunakan lingkungan tidak selalu harus keluar kelas. Bahan dari lingkungan dapat dibawa ke ruang kelas untuk menghemat biaya dan waktu. Pemanfaatan lingkungan dapat men-gembangkan sejumlah keterampilan seperti mengamati (dengan seluruh indera), mencatat, merumuskan pertanyaan, berhipotesis, mengklasifikasi, membuat tulisan, dan membuat gambar/diagram.

7. Memberikan umpan balik yang baik untuk meningkatkan kegiatan belajar

Mutu hasil belajar akan meningkat bila terjadi interaksi dalam belajar.Pemberian umpan balik dari guru kepada siswa merupakan salah satu bentuk interaksi antara guru dan siswa. Umpan balik hendaknya lebih mengungkap kekuatan daripada kelemahan siswa. Selain itu, cara memberikan umpan balik pun harus secara santun. Hal ini dimaksudkan agar siswa lebih percaya diri dalam menghadapi tugas-tugas belajar selanjutnya. Guru harus konsisten memeriksa hasil pekerjaan siswa dan memberikan komentar dan catatan. Catatan guru berkaitan dengan pekerjaan siswa lebih bermakna bagi pengembangan diri siswa daripada hanya sekedar angka.

8. Membedakan antara aktif fisik dan aktif mental.

Banyak guru yang sudah merasa puas bila menyaksikan para siswa kelihatan sibuk bekerja dan bergerak. Apalagi jika bangku dan meja diatur berkelompok serta siswa duduk saling berhadapan. Keadaan tersebut bukanlah ciri yang sebenarnya dari PAKEM. Aktif mental lebih diinginkan daripada aktif fisik. Sering bertanya, mempertanyakan gagasan orang lain, dan mengungkapkan gagasan merupakan tanda-tanda aktif mental. Syarat berkembangnya aktif mental adalah tumbuhnya perasaan tidak takut: takut ditertawakan, takut disepelekan, atau takut dimarahi jika salah. Oleh karena itu, guru hendaknya menghilangkan penyebab rasa takut tersebut, baik yang datang dari guru itu sendiri maupun dari temannya. Berkembangnya rasa takut sangat bertentangan dengan ‘PAKEMenyenangkan.’

C. Bagaimana Pelaksanaan PAKEM?

Gambaran PAKEM diperlihatkan dengan berbagai kegiatan yang terjadi selama PEMBELAJARAN. Pada saat yang sama, gambaran tersebut menunjukkan kemampuan yang perlu dikuasai guru untuk menciptakan keadaan tersebut. Berikut tabel beberapa contoh kegiatan pembelajaran dan kemampuan guru :
Kemampuan Guru Pembelajaran

Guru menggunakan alat bantu dan sumber belajar yang beragam. Sesuai mata pelajaran, guru menggunakan, misal: Alat yang tersedia atau yang dibuat sendiri
Gambar
Studi kasus
Nara sumber
Lingkungan

Guru memberi kesempatan kepada siswa untuk mengembangkan keterampilan
Siswa:

1. Melakukan percobaan, pengamatan, atau wawancara.

2. Mengumpulkan data/jawaban dan mengolahnya sendiri.

3. Menarik kesimpulan.

4. Memecahkan masalah, mencari rumus sendiri .

5. Menulis laporan/hasil karya lain dengan kata-kata sendiri.

Guru memberi kesempatan kepada siswa untuk mengungkapkan gagasannya sendiri secara lisan atau tulisan Melalui:

1. Diskusi.

2. Lebih banyak pertanyaan terbuka.

3. Hasil karya yang merupakan pemikiran anak sendiri.

Guru menyesuaikan bahan dan kegiatan belajar dengan kemampuan siswa. Siswa dikelompokkan sesuai dengan kemampuan (untuk kegiatan tertentu) Bahan pelajaran disesuaikan dengan kemampuan kelompok tersebut.Tugas perbaikan atau pengayaan diberikan.

Guru mengaitkan PEMBELAJARAN dengan pengalaman siswa sehari-hari. Siswa menceritakan atau memanfaatkan pengalamannya sendiri.
Siswa menerapkan hal yang dipelajari dalam kegiatan sehari-hari
Menilai PEMBELAJARAN dan kemajuan belajar siswa secara terus menerus. Guru memantau kerja siswa
Guru memberikan umpan balik

surur

http://www.padepokan-ilmu.co.cc/2010/01/pakem-aktif-kreatif-efektif-dan.html.

Pembelajaran Aktif, Kreatif, Efektif dan Menyenangkan (PAKEM)

Unit 1

7. Memberikan umpan balik yang baik untuk meningkatkan kegiatan belajar Mutu hasil belajar akan meningkat bila terjadi interaksi dalam belajar. Pemberian umpan balik dari guru kepada siswa merupakan salah satu bentuk interaksi antara guru dan siswa. Umpan balik hendaknya lebih meng- ungkap kekuatan daripada kelemahan siswa. Selain itu, cara memberikan umpan balik pun harus secara santun. Hal ini dimaksudkan agar siswa lebih

percaya diri dalam menghadapi tugas-tugas belajar selanjutnya. Guru harus konsisten memeriksa hasil pekerjaan siswa dan memberikan komentar dan catatan. Catatan guru berkaitan dengan pekerjaan siswa lebih bermakna bagi pengembangan diri siswa daripada hanya sekedar angka (nilai).

8. Membedakan antara aktif fisik dan aktif mental

Banyak guru yang sudah merasa puas bila menyaksikan para siswa kelihatan sibuk bekerja dan bergerak, apalagi jika bangku dan meja diatur berkelompok serta siswa duduk saling berhadapan. Keadaan tersebut bukanlah ciri yang sebenarnya dari PAKEM. Aktif mental lebih diinginkan daripada aktif fisik. Sering bertanya, mempertanyakan gagasan orang lain, dan mengungkapkan gagasan merupakan tanda-tanda aktif mental.Syarat berkembangnya aktif mental adalah tumbuhnya perasaan tidak takut. Banyak siswa merasa takut ditertawakan, takut disepelekan, atau takut dimarahi jika salah. Oleh karena itu, guru hendaknya menciptakan suasana kelas di mana guru tidak marah kepada siswa dan siswa tidak menertawakan siswa lain jika mereka memberi jawaban yang tidak benar. Siswa harus didorong untuk mencoba, dan berbuat kesalahan adalah bagian penting dari belajar. Guru juga tidak menyepelekan siswa. Pada dasarnya guru harus berusaha menghilangkan penyebab rasa takut, baik yang datang dari guru itu sendiri maupun dari temannya. Berkembangnya rasa takut sangat bertentangan dengan PAKEM.

BAGAIMANA PELAKSANAAN PAKEM?

Gambaran PAKEM diperlihatkan dengan berbagai kegiatan yang terjadi selama Kegiatan Belajar Mengajar (KBM). Pada saat yang sama, gambaran tersebut menunjukkan kemampuan yang perlu dikuasai guru untuk menciptakan keadaan tersebut. Berikut adalah tabel beberapa contoh KBM dan kegiatan guru. Pajangan hasil karya anak menunjukkan penghargaan terhadap hasil karya mereka dan memberi motivasi belajar

Pembelajaran Aktif, Kreatif, Efektif dan Menyenangkan (PAKEM)

Unit 1

Kegiatan Guru.

Kegiatan Belajar Mengajar:

1. Guru merancang dan mengelola KBM yang mendorong siswa untuk berperan dan berpikir aktif dalam pembelajaran.

Guru melaksanakan berbagai KBM seperti:

* Percobaan

* Diskusi kelompokMemecahkan masalah

* Mencari informasi

* Menulis laporan/cerita/puisiBerkunjung keluar kelas

* Bermain peran

2. Guru menggunakan alat bantu dan sumber belajar yang beragam.

Sesuai mata pelajaran, guru dapat menggunakan:

* Alat yang tersedia atau yang dibuat sendiri

* Gambar

* Studi kasus

* Nara sumber

* Lingkungan

3. Guru memberi kesempatan kepada siswa untuk mengembangkan keterampilan Siswa:

* Melakukan percobaan, pengamatan, atau Wawancara.

* Mengumpulkan data/jawaban dan mengolahnya sendiri

* Menarik kesimpulan

* Memecahkan masalah atau mencari rumus Sendiri

* Menulis laporan/hasil karya lain dengan kata-kata sendiri

4. Guru memberi kesempatan kepada siswa untuk mengungkapkan gagasannya sendiri secara lisan atau tulisan.

Melalui:

* Diskusi

* Lebih banyak pertanyaan terbuka

* Hasil karya yang merupakan pemikiran anak sendiri

5. Guru menyesuaikan bahan dan kegiatan belajar dengan kemampuan siswa.

* Siswa dikelompokkan sesuai dengan kemampuan (untuk kegiatan tertentu)

* Bahan pelajaran disesuaikan dengan kemampuan kelompok tersebut

* Tugas perbaikan atau pengayaan diberikan

6. Guru mengaitkan KBM dengan pengalaman siswa sehari-hari.

* Siswa menceritakan atau memanfaatkan pengalamannya sendiri

* Siswa menerapkan hal yang dipelajari dalam kegiatan sehari-hari

7. Guru menilai KBM dan kemajuan belajar siswa secara terus menerus.

* Guru memantau kerja siswa

* Guru memberikan umpan balik

Pembelajaran Aktif, Kreatif, Efektif dan Menyenangkan (PAKEM)

Unit 1

Peran Komite Sekolah, Orang TuA, dan Masyarakat

Menurut Keputusan Menteri Pendidikan Nasional Republik Indonesia Nomor 044/

U/2002 Komite Sekolah berperan sebagai:

1. Pemberi pertimbangan dalam penentuan dan pelaksanaan kebijakan pendidikan

di satuan pendidikan.

2. Pendukung (baik yang berwujud finansial, pemikiran maupun tenaga) dalam pe-

nyelenggaraan pendidikan di satuan pendidikan.

Pengontrol dalam rangka transparansi dan akuntabilitas penyelenggaraan dan keluaran pendidikan di satuan pendidikan.Mediator antara pemerintah dengan masyarakat di satuan pendidikan. Peran tersebut selanjutnya diwujudkan dalam bentuk fungsi nyata dalam penyelenggaraan persekolahan terutama dalam meningkatkan mutu pembelajaran. Fungsi nyata Komite Sekolah dalam pengembangan pembelajaran adalah sebagai berikut:

1. Membantu sekolah mengembangkan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (se-

suai dengan UU Sisdiknas No. 20/2003 Pasal 36 Ayat 2).

2. Mendorong tumbuhnya perhatian dan dukungan masyarakat terhadap penye-

lenggaraan pembelajaran yang bermutu.

3. Melakukan kerjasama dengan masyarakat (perorangan/organisasi/dunia usaha/

dunia industri) dan pemerintah berkenaan dengan penyelenggaraan pembelajar-

an yang bermutu.

4. Mendorong orangtua dan masyarakat berpartisipasi dalam pendidikan guna

mendukung peningkatan mutu pembelajaran.

5. Menggalang dana masyarakat dalam rangka pembiayaan penyelenggaraan

pembelajaran yang bermutu.

6. Melakukan evaluasi dan pengawasan terhadap kebijakan, program, penyeleng-

garaan, dan keluaran pendidikan di satuan pendidikan.

Dukungan bagi pelaksanaan PAKEM tidak hanya datang dari Komite Sekolah saja tetapi juga dari masyarakat dan orang tua siswa. Pasal 9 UU Sisdiknas No. 20/2003

menyatakan bahwa masyarakat berkewajiban memberikan dukungan sumber daya

dalam penyelenggaraan pendidikan. Masyarakat dapat terlibat dalam memberikan

bantuan dana, pembuatan gedung, ruang kelas, pagar, dan sebagainya. Masyarakat

juga sebetulnya dapat terlibat dalam bidang Teknis Edukatif, seperti dalam proses

belajar mengajar, menyediakan diri menjadi tenaga pengajar, membicarakan pelak-

sanaan kurikulum, memantau kemajuan belajar, dan sebagainya.

Orang tua juga harus berperan serta dalam kegiatan pembelajaran. Dalam pelaksanaan PAKEM orang tua dapat berperan:

1). Menjadi mitra anak dalam belajar di rumah.

2). Menyediakan sarana dan prasarana yang diperlukan dalam pelaksanaan PAKEM.

3). Menciptakan situasi belajar yang kondusif bagi pengembangan kreativitas anak,

misalnya dengan banyak memberikan pertanyaan, mengecek hasil karya anak, dan mendorong kreativitas anak.

Pembelajaran Aktif, Kreatif, Efektif dan Menyenangkan (PAKEM)

LEMBAR kERJA PESERTA

Format 1.1: Pengamatan Pemodelan PakEM komponen pembelajaran Hal baru yang berbeda dengan kebiasaan pembelajaran selama ini:

1. Kegiatan siswa.

a.

b.

2. Kegiatan guru

a.

b.

3. Interaksi antar siswa

a.

b.

4. Interaksi siswa dengan guru

a.

b.

5. Bentuk tugas yang dikerjakan siswa

a.

b.

6. Sumber belajar yang digunakan

a.

b.

7. Lainnya: …

a.

b.

Pembelajaran Aktif, Kreatif, Efektif dan Menyenangkan (PAKEM)

Format 1.2: Peran komite Sekolah, Masyarakat, dan Orang Tua Siswa dalam PakEM Peran komite Sekolah, Masyarakat, dan Orang Tua Siswa dalam PakEM Komite Sekolah

Menggalang dana masyarakat dalam rangka pembiayaan

penyelenggaraan PAKEM

a. ....

b.

Masyarakat

a. Memberikan dukungan sumber daya yang diperlukan dalam PAKEM.

b. Dapat menjadi nara sumber

c. ......

Orang Tua

a. Menjadi mitra anak belajar di rumah

b. Memberi bantuan dalam pengadaan sumber belajar.

c. .......

Pembelajaran Aktif, Kreatif, Efektif dan Menyenangkan (PAKEM)

Unit 1

Langkah kegiatan

Pembelajaran Aktif, Kreatif, Efektif dan Menyenangkan

Diskusi kelompok tentang unsur unsur PAKEM Diskusi kelompok tentang hal-hal yang baru dalam pemodelan Pemodelan PAKEM Pengantar Singkat Diskusi peran Komite,

masyarakat dan orang tua dalam PAKEM Tayangan tentang PAKEM hasil diskusi kelompok

Pembelajaran Aktif, Kreatif, Efektif dan Menyenangkan (PAKEM)

Unit 1

PAkEM: Apa dan Mengapa?

Pembelajaran

Berpusat pada guru

Berpusat pada siswa

Pembelajaran Aktif, Kreatif, Efektif dan Menyenangkan (PAKEM)

Unit 1

Pembelajaran Berpusat pada guru

Pembelajaran Berpusat pada guru

* Siswa pasif

* Komunikasi satu arah (guru ke siswa)

* Pertanyaan tertutup

* Sering sekedar hafalan

* Siswa bekerja untuk menyenangkan guru

* Tidak ada kerjasama/ interaksi antar siswa (sosial)

* Jawaban harus sama dengan guru (kunci jawaban)

* Guru mendiktekan apa yang harus dilakukan

* Guru memberi contoh

* Ceramah

* Hanya menggunakan buku paket.

http://74.125.153.132/search?q=cache:SQMS40xRv3UJ:www.mgpbe.depdiknas.go.id/ ms/upload/publikasi/m01u01c.pdf+bagaimana+bentuk+peningkatan+keterampilan+berb cara+melalui+PAKEM%28pembelajaran+aktif,kreatif,efektif+dan+menyenangkan%29 3F&cd=2&hl=id&ct=clnk&gl=id&client=firefox-a

PEMBELAJARAN AKTIF, INOVATIF, KREATIF, EFEKTIF, DAN MENYENANGKAN

11 November 2008
oleh A. Tarmizi Ramadhan

Mengawali tulisan ini, saya ingin memberikan beberapa pemikiran dalam rangka upaya untuk mengembangkan mutu pendidikan melalui proses pembelajaran. Pokok-pokok pikiran ini merupakan bagian dari visi dan misi sekolah.

Pendidikan merupakan kunci untuk semua kemajuan dan perkembangan yang berkualitas, sebab dengan pendidikan manusia dapat mewujudkan semua potensi dirinya baik sebagai pribadi maupun sebagai warga masyarakat. Dalam rangka mewujudkan potensi diri menjadi multiple kompetensi harus melewati proses pendidikan yang diimplementasikan dalam proses pembelajaran.

Berlangsungnya proses pembelajaran tidak terlepas dengan lingkungan sekitar. Sesungguhnya pembelajaran tidak terbatas pada empat dinding kelas. Pembelajaran dengan pendekatan lingkungan menghapus kejenuhan dan menciptakan peserta didik yang cinta lingkungan.

Berdasarkan teori belajar, melalui pendekatan lingkungan pembelajaran menjadi bermakna. Sikap verbalisme siswa terhadap penguasaan konsep dapat diminimalkan dan pemahaman siswa akan membekas dalam ingatannya.

Buah dari proses pendidikan dan pembelajaran akhirnya akan bermuara pada lingkungan. Manfaat keberhasilan pembelajaran akan terasa manakala apa yang diperoleh dari pembelajaran dapat diaplikasikan dan diimplementasikan dalam realitas kehidupan. Inilah salah satu sisi positif yang melatarbelakangi pembelajaran dengan pendekatan lingkungan.

Model pembelajaran dengan pendekatan lingkungan, bukan merupakan pendekatan pembelajaran yang baru, melainkan sudah dikenal dan populer, hanya saja sering terlupakan. Adapun yang dimaksud dengan pendekatan lingkungan adalah suatu strategi pembelajaran yang memanfaatkan lingkungan sebagai sasaran belajar, sumber belajar, dan sarana belajar. Hal tersebut dapat dimanfaatkan untuk memecahkan masalah lingkungan dan untuk menanamkan sikap cinta lingkungan (Karli dan Yuliaritiningsih, 2002).

Pembelajaran dengan pendekatan lingkungan sangat efektif diterapkan di sekolah dasar. Hal ini relevan dengan tingkat perkembangan intelektual usia sekolah dasar (7-11 tahun) berada pada tahap operasional konkret (Piaget, dalam Wilis:154). Hal senada dikatakan Margaretha S.Y., (2002) bahwa kecenderungan siswa sekolah dasar yang senang bermain dan bergerak menyebabkan anak-anak lebih menyukai belajar lewat eksplorasi dan penyelidikan di luar ruang kelas.

Konsep-konsep sains dan lingkungan sekitar siswa dapat dengan mudah dikuasai siswa melalui pengamatan pada situasi yang konkret. Dampak positif dari diterapkannya pendekatan lingkungan yaitu siswa dapat terpacu sikap rasa keingintahuannya tentang sesuatu yang ada di lingkungannya. Seandainya kita renungi empat pilar pendidikan yakni learning to know (belajar untuk mengetahui), learning to be (belajar untuk menjadi jati dirinya), learning to do (Belajar untuk mengerjakan sesuatu) dan learning to life together (belajar untuk bekerja sama) dapat dilaksanakan melalui pembelajaran dengan pendekatan lingkungan yang dikemas sedemikian rupa oleh guru.

Penulis terilhami menuangkan tulisan ini dengan maksud untuk dikembangkan menjadi visi misi sekolah sebagai prioritas untuk meningkatkan mutu pendidikan. Mudah-mudahan tulisan singkat ini dapat menjadi bahan masukan bagi para guru untuk menengok lingkungan sekitar yang penuh arti sebagai sumber belajar dan informasi yang mendukung tercapainya tujuan pembelajaran secara efektif. Model pendekatan ini pun relevan dengan pembelajaran aktif, inovatif, kreatif, efektif, dan menyenangkan (PAIKEM), sehingga pada gilirannya dapat mencetak siswa yang cerdas dan cinta lingkungan.

Siswa boleh saja berpikir secara global, tetapi mereka harus bertindak secara lokal. Artinya, setiap orang/siswa perlu belajar apa pun, bahkan mencari hikmah dari berbagai macam pengalaman bangsa-bangsa lain di seluruh dunia, namun pengetahuan tentang pengalaman bangsa-bangsa lain tersebut dijadikan sebagai pembelajaran dalam tindakan di lingkungan secara lokal. Dengan cara kerja seperti itu, kita tidak perlu melakukan trial and error yang berkepanjangan, melainkan kita belajar dari kesalahan-kesalahan orang lain, sementara kita sekadar meneruskan kerja dari paradigma yang benar.

Bekerja dan belajar yang berbasis lingkungan sekitar memberikan nilai lebih, baik bagi si pembelajar itu sendiri maupun bagi lingkungan sekitar. Katakanlah belajar ilmu sosial atau belajar ekonomi, maka lingkungan sosial dan ekonomi sekitar dapat menjadi laboratorium alam. Pembelajaran ini dapat dilakukan sembari melakukan pemberdayaan (empowering) terhadap kehidupan sosial dan ekonomi masyarakat, sementara si pembelajar dapat melakukan proses pembelajaran dengan lebih baik dan efisien. Mohamad Yunus, penerima Nobel asal Bangladesh adalah orang yang banyak belajar berbasis lingkungan untuk mengembangkan ekonomi. Dengan mendirikan Grameen Bank, dia belajar sekaligus memberdayakan masyarakat sekitar.

Dasar Pemikiran

Pembelajaran dilandasi strategi yang berprinsip pada:

1). Berpusat pada peserta didik.

2). Mengembangkan kreativitas peserta didik

3). Suasana yang menarik, menyenangkan, dan bermakna

4). Prinsip pembelajaran aktif, Inovatif, kreatif, efektif, dan menyenangkan (PAIKEM)

5). Mengembangkan beragam kemampuan yang bermuatan nilai dan makn

6). Belajar melalui berbuat, peserta didik aktif berbuat

7). Menekankan pada penggalian, penemuan, dan penciptaan

8). Pembelajaran dalam situasi nyata dan konteks sebenarnya

9). Menggunakan pembelajaran tuntas di sekolah

A. Pengertian PAIKEM.

PAIKEM adalah singkatan dari Pembelajaran Aktif, Inovatif, Kreatif, Efektif, dan Menyenangkan. Aktif dimaksudkan bahwa dalam proses pembelajaran guru harus menciptakan suasana sedemikian rupa sehingga siswa aktif bertanya, mempertanyakan, dan mengemukakan gagasan.

Pembelajaran inovatif bisa mengadaptasi dari model pembelajaran yang menyenangkan. Learning is fun merupakan kunci yang diterapkan dalam pembelajaran inovatif. Jika siswa sudah menanamkan hal ini di pikirannya tidak akan ada lagi siswa yang pasif di kelas, perasaan tertekan dengan tenggat waktu tugas, kemungkinan kegagalan, keterbatasan pilihan, dan tentu saja rasa bosan.

Membangun metode pembelajaran inovatif sendiri bisa dilakukan dengan cara diantaranya mengakomodir setiap karakteristik diri. Artinya mengukur daya kemampuan serap ilmu masing-masing orang. Contohnya saja sebagian orang ada yang berkemampuan dalam menyerap ilmu dengan menggunakan visual atau mengandalkan kemampuan penglihatan, auditory atau kemampuan mendengar, dan kinestetik. Dan hal tersebut harus disesuaikan pula dengan upaya penyeimbangan fungsi otak kiri dan otak kanan yang akan mengakibatkan proses renovasi mental, diantaranya membangun rasa percaya diri siswa.

Kreatif dimaksudkan agar guru menciptakan kegiatan belajar yang beragam sehingga memenuhi berbagai tingkat kemampuan siswa. Menyenangkan adalah suasana belajar-mengajar yang menyenangkan sehingga siswa memusatkan perhatiannya secara penuh pada belajar sehingga waktu curah perhatiannya (“time on task”) tinggi.

Menurut hasil penelitian, tingginya waktu curah perhatian terbukti meningkatkan hasil belajar. Keadaan aktif dan menyenangkan tidaklah cukup jika proses pembelajaran tidak efektif, yaitu tidak menghasilkan apa yang harus dikuasai siswa setelah proses pembelajaran berlangsung, sebab pembelajaran memiliki sejumlah tujuan pembelajaran yang harus dicapai. Jika pembelajaran hanya aktif dan menyenangkan tetapi tidak efektif, maka pembelajaran tersebut tak ubahnya seperti bermain biasa.

B. Penerapan PAIKEM dalam Proses Pembelajaran

Secara garis besar, PAIKEM dapat digambarkan sebagai berikut:

1). Siswa terlibat dalam berbagai kegiatan yang mengembangkan pemahaman dan kemampuan mereka dengan penekanan pada belajar melalui berbuat.

2). Guru menggunakan berbagai alat bantu dan berbagai cara dalam membangkitkan semangat, termasuk menggunakan lingkungan sebagai sumber belajar untuk menjadikan pembelajaran menarik, menyenangkan, dan cocok bagi siswa.

3). Guru mengatur kelas dengan memajang buku-buku dan bahan belajar yang lebih menarik dan menyediakan ‘pojok baca’

4). Guru menerapkan cara mengajar yang lebih kooperatif dan interaktif, termasuk cara belajar kelompok.

5). Guru mendorong siswa untuk menemukan caranya sendiri dalam pemecahan suatu masalah, untuk mengungkapkan gagasannya, dan melibatkam siswa dalam menciptakan lingkungan sekolahnya.

PAIKEM diperlihatkan dengan berbagai kegiatan yang terjadi selama KBM. Pada saat yang sama, gambaran tersebut menunjukkan kemampuan yang perlu dikuasai guru untuk menciptakan keadaan tersebut. Berikut adalah tabel beberapa contoh kegiatan KBM dan kemampuan guru yang besesuaian.

Kemampuan Guru

Kegiatan Belajar Mengajar

Guru merancang dan mengelola KBM yang mendorong siswa untuk berperan aktif dalam pembelajaran

Guru melaksanakan KBM dalam kegiatan yang beragam, misalnya:

  • Percobaan
  • Diskusi kelompok
  • Memecahkan masalah
  • Mencari informasi
  • Menulis laporan/cerita/puisi
  • Berkunjung keluar kelas

Guru menggunakan alat bantu dan sumber yang beragam.

Sesuai mata pelajaran, guru menggunakan, misalnya:

  • Alat yang tersedia atau yang dibuat sendiri
  • Gambar
  • Studi kasus
  • Nara sumber

Lingkungan

Guru memberi kesempatan kepada siswa untuk mengembangkan keterampilan

Siswa:

  • Melakukan percobaan, pengamatan, atau wawancara
  • Mengumpulkan data/jawaban dan mengolahnya sendiri
  • Menarik kesimpulan
  • Memecahkan masalah, mencari rumus sendiri.
  • Menulis laporan hasil karya lain dengan kata-kata sendiri.

Guru memberi kesempatan kepada siswa untuk mengungkapkan gagasannya sendiri secara lisan atau tulisan

Melalui:

  • Diskusi
  • Lebih banyak pertanyaan terbuka
  • Hasil karya yang merupakan anak sendiri

Guru menyesuaikan bahan dan kegiatan belajar dengan kemampuan siswa

Siswa dikelompokkan sesuai dengan kemampuan (untuk kegiatan tertentu)

Bahan pelajaran disesuaikan dengan kemampuan kelompok tersebut.

Siswa diberi tugas perbaikan atau pengayaan.

Guru mengaitkan KBM dengan pengalaman siswa sehari-hari.

Siswa menceritakan atau memanfaatkan pengalamannya sendiri.

Siswa menerapkan hal yang dipelajari dalam kegiatan sehari-hari

Menilai KBM dan kemajuan belajar siswa secara terus-menerus

Guru memantau kerja siswa.

Guru memberikan umpan balik.

KESIMPULAN

Berdasarkan hasil pengembangan visi dan misi di atas maka dapat penulis simpulkan bahwa pembelajaran PAIKEM (pembelajaran aktif, inovatif, kreatif, efektif, dan menyenangkan) salah satu metode pembelajaran berbasis lingkungan. Metode ini mampu melibatkan siswa secara langsung dengan berbagai pengenalan terhadap lingkungan. Dengan demikian selama dalam proses pembelajaran akan mengajak siswa lebih aktif, inovatif, kreatif, efektif, dan menyenangkan.

DAFTAR PUSTAKA

Bafadal, Ibrahim. 2003. Manajemen Peningkatan Mutu Sekolah Dasar: dari Sentralisasi menuju Desentralisasi. Jakarta: Bumi Aksara.

http://gora.edublogs.org/2007/04/09/kompetisi-nasional-guru-inovatif-2007/

http://www.umy.ac.id/berita.php?id=323

Umaedi (1999) Manajemen Peningkatan Mutu Berbasis Sekolah. Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Directorate Jenderal Pendidikan Dasar dan Menegah, Directorate Pendidikan Menengah Umum. Indonesia, Jakarta.

http://tarmizi.wordpress.com/2008/11/11/pembelajaran-aktif-inovatif-kreatif-efektif-dan-menyenangkan/.

PENINGKATAN MUTU PENDIDIKAN DASAR MELALUI PAKEM

March 13th, 2009 by admin

Oleh: Khaerudin

A. PENDAHULUAN

Sejak tiga tahun terakhir bangsa kita terus dilanda musibah, baik yang disebabkan oleh faktor alam yang memang kejadiannya sulit dicegah maupun oleh karena ulah manusia yang seharusnya tidak perlu terjadi. Musibah gempa tektonik yang disusul tsunami di Aceh belum juga pulih, sudah di susul oleh gempa dan tsunami lain di Yogyakarta dan Pangandaran.Musibah lumpur Lapindo di Sidoarjo sudah hampir satu tahun belum ada tanda-tanda berhenti, bahkan kalau tidak dapat diatasi dan menunggu berhenti sendiri akan memakan waktu 31 tahun. Musibah dalam bidang transportasi terjadi di laut, darat, dan udara. Permasalahan lain yang selalu terulang pada hampir setiap tahun adalah masyarakat kita selalu kekeringan dan tidak ada air bila musim kemarau tiba, dan sebaliknya terjadi banjir dimana-mana bila musim hujan datang. Endemi demam berdarah dan flu burung yang terjadi di hampir seluruh wilayah juga selalu berulang dan akar permasalahannya belum juga terpecahkan. Kerugian yang diderita akibat musibah-musibah tersebut sudah tidak terhitung lagi jumlahnya; berapa nyawa yang melayang; berapa banyak harta benda milik masyarakat hilang; bahkan di Sidoarjo, bukan hanya nyawa dan harta, tetapi juga ”peradaban” masyarakat Sidoarjo lenyap ”ditelan” lumpur. Hal yang lebih mengenaskan dari semua peristiwa tersebut adalah tidak atau belum ada dari peristiwa tersebut yang teratasi secara tuntas; selalu menyisakan masalah.

Bila coba kita renungkan dan kaji secara seksama mengapa semua itu terjadi, dan mengapa semua permasalahan tersebut tidak teratasi secara tuntas, jawaban sementara penulis adalah karena kualitas sumber daya manusia (SDM) bangsa kita yang rendah. Hal ini sebagaimana juga ditunjukkan dari hasil survey Human Development Index (HDI) tahun 2005, yang berada pada posisi 112 dari 175 negara.

Pertanyaan selanjutnya, mengapa kualitas SDM kita rendah, karena mutu pendidikan kita rendah. Bicara mutu pendidikan, maka pendidikan formal di sekolah lah yang harus lebih banyak mendapat sorotan. Karena pendidikan di sekolah dilaksanakan secara terencana dan sistematis, sehingga seharusnya lebih banyak memberi kontribusi pada kualitas pendidikan. Itu artinya, kualitas pembelajaran yang terjadi di kelas-kelas sekolah kita selama ini rendah. Karena inti dari proses pendidikan di sekolah adalah pada pembelajaran di kelas. Pola pikir seperti inilah yang pernah dilontarkan oleh senator Amerika, John F. Kennedy pada tahun 1967, pada saat Amerika Serikat merasa kalah oleh Rusia yang lebih dulu meluncurkan roketnya ke luar angkasa. Saat itu Kennedy mengajukan pertanyaan ”Apa yang salah dengan pembelajaran kita di kelas?”

B. MUTU PENDIDIKAN KITA.

Rendahnya mutu sumber daya manusia bangsa kita diakibatkan oleh karena dunia pendidikan gagal melaksanakan perannya. Arief Rachman mengidentifikasi ada sembilan titik lemah pendidikan di Indonesia (Arief Rachman, 2006, 114) yang mengakibatkan dunia pendidikan kita “carut marut”. Kesembilan titik lemah tersebut adalah:

1). selama ini keberhasilan pendidikan hanya diukur dari keunggulan ranah kognitif, dan mengabaikan ranah afektif dan psikomotorik, sehingga pembinaan dan pengembangan watak bangsa menjadi terabaikan.

2). model evaluasi yang digunakan selama ini hanya mengukur kemampuan berpikir konvergen, sehingga siswa tidak dipacu untuk berpikir kreatif dan imajinatif.

3). proses pendidikan berubah menjadi proses pengajaran, yang berakibat materi pelajaran menjadi tidak relevan dengan kehidupan sehari-hari

4). kemampuan menguasai materi tidak disertai dengan pembinaan kegemaran belajar.

5). titel atau gelar menjadi target pendidikan, tidak disertai dengan tanggung jawab ilmiah yang mumpuni

6). materi pendidikan dan buku pelajaran ditulis dengan cara dan metode yang monoton, tidak menantang dan tidak menstimulasi daya kritis dan iamjinasi siswa

7). manajemen pendidikan yang menekankan pada tanggung jawab penyelenggaraan pendidikan kepada pemerintah, bukan kepada stakeholder.

8). profesi guru yang terkesan menjadi profesi ilmiah dan kurang disertai dengan bobot profesi kemanusiaan

9). upaya pemerataan pendidikan yang tidak didukung oleh sarana dan prasarana yang memadai, serta lemahnya political will pemerintah terhadap upaya perbaikan pendidikan.

Dengan kondisi permasalahan sebagaimana diungkapkan oleh Arief Rahman, terutama dengan permasalahan nomor 1 – 4 yang secara langsung menyangkut proses pembelajaran, sangat wajar kalau proses pembelajaran yang terjadi di kelas tidak mampu menghasilkan orang-orang yang cerdas sebagaimana yang diamanatkan UUD ’45. Keberhasilan pembelajaran yang hanya diukur oleh penguasaan pengetahuan (kognitif) hanya akan mendorong proses pembelajaran menghasilkan orang-orang pintar, tetapi bisa jadi tidak punya hati nurani, egois, tidak mampu bekerja sama, dan sifat-sifat lain yang menyangkut afeksi.

Sifat peduli terhadap kepentingan orang banyak, takut melakukan kecurangan karena akan merugikan orang lain, sopan santun terhadap orang yang lebih tua, kasih dan sayang terhadap yang lebih muda, semangat berkorban untuk kepentingan bersama, bersikap disiplin, adalah diantara sifat-sifat afeksi yang sulit diukur secara kuantitas dan hasilnya tidak dapat dilihat dengan segera. Karena itu pembelajaran yang mengembangkan sifat-sifat ini menjadi luput dari perhatian dalam pembelajaran. Padahal sifat-sifat ini terkait dengan kecerdasan emosi yang banyak berpengaruh pada kesuksesan seseorang dalam melaksanakan tugasnya di masyarakat dan dunia kerja. Belum lagi kalau dilihat tingkat penguasaan aspek kognitifnya yang dikembangkan. Apakah perkembangan kognitif yang dikembangkan sampai pada tahap kognitif yang lebih tinggi, seperti kemampuan mengaplikasi, menganalisis, mensistesis, mengevaluasi, bahkan membuat dan menemukan ilmu baru? Lebih penting lagi apakah perkembangan kognitifnya sampai pada tahap kemampuan merumuskan dan memecahkan masalah, terutama berkenaan dengan permasalahan kehidupan sehari-hari? Ini adalah satu permasalahan besar dengan pembelajaran di kelas kita.

Permasalahan kedua juga sangat besar dampaknya terhadap proses pembelajaran di kelas. Soedijarto, dalam penelitiannya menemukan bahwa sistem evaluasi ternyata mempengaruhi kualitas proses belajar, khususnya pada tingkat partisipasi belajar pada siswa. Hal ini sejalan dengan apa yang dikemukakan oleh B.S. Bloom, yang menyatakan bahwa setiap siswa akan berusaha mempelajari apa yang diperkirakan akan ditanyakan pada saat dilaksanakan tes (Soedijarto, 1993: 81) Ini berarti, kalau bentuk evaluasi yang diberikan kepada siswa hanya pada penguasaan konsep dan fakta, maka siswa akan belajar dengan cara menghafal dan drilling menjawab soal. Bentuk evaluasi seperti itu tidak akan mendorong siswa untuk berpikir secara kritis, kreatif, dan menemukan jawaban yang berbeda.

Berkenaan dengan permasalahan yang ketiga, banyak bukti di sekitar kita, siswa-siswa kita yang telah lulus dari sekolah tidak mampu berbuat banyak di lingkungannya; Mereka menjadi terasing dengan lingkungannya. Karena apa yang mereka pelajari di bangku sekolah adalah apa yang ada dalam buku (textbook), bukan permasalahan lingkungan yang sehari-hari mereka temukan dan rasakan. Pembelajaran yang dilaksanakan lebih bersifat tekstual, dan tidak kontekstual, sehingga ilmu pengetahuan yang mereka dapatkan hanya bisa disimpan dalam memori dan tidak bermanfaat bagi kehidupannya. Israel Scheffler menyebut pembelajaran yang demikian tidak memiliki relevansi sosial/moral.

Sejalan dengan permasalahan-permasalahan sebelumnya, pembelajaran di kelas-kelas sekolah kita cenderung hanya mendorong siswa untuk ”belajar untuk tahu” atau learning to know. Strategi pembelajaran yang mendorong siswa untuk senang untuk belajar dan menguasai kemampuan bagaimana belajar dilakukan (learning how to learn) tidak banyak dilakukan, sehingga pada saat mereka telah menempuh ujian dan dinyatakan lulus, maka mereka menganggap tugas belajar telah selesai; Mereka tidak memiliki kemauan dan kemampuan belajar mandiri untuk mengembangkan dirinya, baik di lingkungan masyarakat maupun di lingkungan dunia kerjanya.

C. Pembelajaran Aktif, Kreatif, Efektif, dan Menyenangkan (PAKEM)

1). Apa itu PAKEM?

PAKEM atau Pembelajaran Aktif, Kreatif, Efektif, dan Menyenangkan, pertama kali diperkenalkan menyertai program Manajemen Berbasis Sekolah (MBS) yang dikembangkan UNICEF-UNESCO-Pemerintah RI (Kompas, 8 Desemer 2003). PAKEM adalah pembelajaran yang membuat siswa aktif dan kreatif sehingga menjadi efektif tetapi tetap menyenangkan. Model ini dikembangkan untuk menciptakan situasi pembelajaran yang dialami para siswa lebih menggairahkan dan memotivasi siswa untuk melakukan kegiatan belajar secara aktif yang pada akhirnya mencapai hasil belajar yang optimal.

dimaksudkan bahwa proses pembelajaran tersebut§Pembelajaran aktif menuntut siswa dan guru secara aktif melakukan tugas dan fungsinya masing-masing. Guru secara aktif merancang dan mengkondisikan siswanya untuk belajar, bahkan berupaya memfasilitasi kebutuhan siswa dalam melaksanakan kegiatan belajarnya. Sementara siswa aktif melakukan tugasnya sebagai pelajar untuk belajar. Bentuk aktifitas yang dilakukan siswa bukan hanya aktifitas fisik tetapi dan terutama aktifitas mental, karena inti dari kegiatan belajar adalah adanya aktifitas mental. Tanpa keterlibatan mental dalam suatu aktifitas yang dilakukan siswa maka tidak akan pernah terjadi proses belajar di dalam dirinya. Pembelajaran aktif ini merupakan respon terhadap pembelajaran yang selama ini bersifat pasif, dimana para siswa hanya menerima informasi dari gurunya melalui metode ceramah.

Pembelajaran yang kreatif dimaksudkan pembelajaran yang beragam, sehingga mampu mengakomodir gaya belajar dan tingkat kemampuan belajar siswa yang bervariasi. Disisi lain pembelajaran kreatif juga dapat diartikan sebagai pembelajaran yang mampu menstimulasi daya imajinasi siswa untuk menghasilkan sesuatu. Dalam pembelajaran kreatif, peran guru bukan sebagai penyampai informasi/materi yang sudah siap “dicerna” oleh siswa, tetapi lebih pada sebagai stimulator ide yang mendorong pikiran dan imajinasi siswa muncul dan terealisasi melalui kegiatan belajar. Pembelajaran kreatif juga diartikan sebagai pembelajaran yang mendorong para siswanya menjadi kreatif, yaitu lancar, luwes, dan orisinil.

Pembelajaran efektif adalah pembelajaran yang mampu “membawa” para siswanya menguasai kemampuan yang diharapkan di akhir proses pembelajaran. Keefektifan pembelajaran dapat dilihat dari dua sisi, yaitu dari sisi guru yang melaksanakan pembelajaran, dan dari sisi siswa yang belajar. Dilihat dari sisi guru, pembelajaran dikatakan efektif apabila pembelajaran mampu menstimulasi aktifitas siswa secara optimal untuk melakukan kegiatan belajar dan seluruh atau sebagian besar aktifitas yang direncanakan dapat terlaksana. Sementara bila dilihat dari sisi siswa, pembelajaran dikatakan efektif apabila pembelajaran tersebut dapat mendorong siswa untuk melakukan berbagai kegiatan belajar secara aktif, dan di akhir pembelajaran para siswa mampu menguasai seluruh atau sebagai besar tujuan pembelajaran yang ditetapkan, dan penguasaan pengetahuan tersebut dapat bertahan dalam waktu yang relatif lama.
Melalui seluruh proses pembelajaran di atas, diharapkan pembelajaran yang dialami siswa menjadi menyenangkan. Pembelajaran yang menyenangkan tidak identik dengan pembelajaran yang gaduh, berisik, dan tidak terkendali. Pembelajaran yang menyenangkan adalah pembelajaran yang dilakukan oleh siswa secara sukarela, tanpa ada unsur paksaan dari luar; siswa melakukan aktifitasnya dengan hati yang senang dan tidak terkekan. Pembelajaran yang menyenangkan akan terjadi apabila situasi pembelajaran terbuka, demokratis, dan menantang. Para siswa memiliki kesempatan untuk melakukan berbagai aktifitas tanpa harus takut salah dan dimarahi oleh siapapun. Melalui pembelajaran yang menyenangkan, siswa akan dapat mencurahkan perhatiannya secara penuh pada belajar sehingga waktu curah perhatiannya (time on task) tinggi. Menurut berbagai hasil penelitian, tingginya time on task terbukti meningkatkan hasil belajar.

1. Untuk dapat mengenali pembelajaran aktif, kreatif, efektif dan menyenangkan dapat mencermati ciri-cirinya sebagaimana dikemukakan oleh Lynne Hill, yaitu:
Pembelajaran tersebut direncanakan dengan baik, yang didasarkan pada hasil identifikasi tujuan dan kemampuan awal siswa, dan mencakup urutan pembelajaran, pengorganisasian kelas, pengelolaan sumber belajar, dan cara penilaian yang akan digunakan

2. Pembelajaran tersebut menarik dan menantang yang ditandai oleh peran guru yang tidak terlalu dominan, sementara siswa aktif melakukan aktifitas belajar. Pembelajaran juga dapat meningkatkan motivasi belajar, meningkatkan kemampuan berpikir kritis, memecahkan masalah, termasuk tugas-tugas terbuka.

3. Siswa sebagai pusat pembelajaran, yang ditandai oleh adanya tuntutan agar siswa aktif terlibat, berpartisipasi, bekerja, berinteraksi antarsiswa, menemukan dan memecahkan masalah
(www.mbeproject.net/mbe511.html)

Dengan demikian secara garis besar, PAKEM dapat digambarkan sebagai berikut:

1. Siswa terlibat dalam berbagai kegiatan yang mengembangkan pemahaman dan kemampuan mereka dengan penekanan pada belajar melalui berbuat.

2. Guru menggunakan berbagai alat bantu dan berbagai cara dalam membangkitkan semangat, termasuk menggunakan lingkungan sebagai sumber belajar untuk menjadikan pembelajaran menarik, menyenangkan, dan cocok bagi siswa.

3. Guru mengatur kelas dengan memajang buku-buku dan bahan belajar yang lebih menarik dan menyediakan ‘pojok baca’

4. Guru menerapkan cara mengajar yang lebih kooperatif dan interaktif, termasuk cara belajar kelompok.

5. Guru mendorong siswa untuk menemukan caranya sendiri dalam pemecahan suatu masalah, untuk mengungkapkan gagasannya, dan melibatkam siswa dalam menciptakan lingkungan sekolahnya (Depdiknas, 2005, 77)

2). Mengapa PAKEM?

Sebagai sebuah profesi yang professional, maka semua tindakan yang dilakukan guru harus didasarkan pada kerangka teori dan kerangka pikir yang jelas. Demikian juga dengan pilihan untuk memilih dan memanfaatkan pendekatan PAKEM, harus didasari pada suatu rasional mengapa kita memilih dan menggunakan pendekatan tersebut. Berkenaan dengan hal ini perlu dikemukakan sejumlah alasan dan dasar teoritik sekaligus landasan filosofis dikembangkannya pendekatan PAKEM.

Salah satu perkembangan teori pembelajaran yang mendasari munculnya pendekatan PAKEM adalah terjadinya pergeseran paradigma proses belajar mengajar, yaitu dari konsep pengajaran menjadi pembelajaran yang berimplikasi kepada peran yang harus dilakukan guru yang tadinya mengajar menjadi membelajarkan. Konsep pembelajaran yang merupakan terjemahan dari kata instructional pada dasarnya telah lama dikenal di Indonesia, yaitu sejak tahun 1975, yang tergambar dalam rumusan tujuan yang harus dibuat guru, yaitu rumusan tujuan instruksional khusus. Namun implementasi dari konsep pembelajaran di dalam kelas belum juga terjadi secara sesungguhnya.

Dalam konsep pengajaran peran yang paling dominan ada pada guru, yaitu sebagai pengajar yang melaksanakan tugasnya mengajar. Dalam kegiatan pengajaran komunikasi sering terjadi hanya satu arah, yaitu dari guru kepada siswa, sehingga siswa lebih banyak pasif. Pada saat guru menyampaikan materi pelajaran, yang biasanya dilakukan melalui ceramah, para siswa hanya menerima apa yang disampaikan oleh guru. Permasalahannya yang paling mendasar adalah pada saat seorang guru mengajar apakah ada jaminan bahwa para siswanya belajar? (Belajar dalam pengertian sebagaimana dikemukakan oleh para penganut aliran kognitivistik, yaitu adanya aktifitas mental dalam berinteraksi dengan lingkungannya yang menghasilkan perubahan perilaku yang relatif konstan.) Jawaban atas pertanyaan tersebut adalah apa yang disampaikan oleh Mel Silberman: Belajar bukan merupakan konsekuensi otomatis dari penyampaian informasi ke dalam kepala seorang peserta didik. Belajar memerlukan keterlibatan mental dan tindakan pelajar itu sendiri. (Mel Silberman, 1996)

Berbeda dengan konsep pengajaran, konsep pembelajaran lebih mengutamakan pada aktifitas siswa dalam melakukan kegiatan belajarnya. Dalam konsep pembelajaran tugas guru adalah membelajarkan siswa. Artinya berbagai upaya yang dilakukan guru dalam rangka mengkondisikan para siswanya untuk belajar. Dengan demikian, fokus dari interaksi dan komunikasi ”di dalam kelas” ada pada siswa, yaitu melakukan aktifitas belajar. Melalui penerapan konsep pembelajaran ini maka siswa akan menjadi aktif melakukan berbagai aktifitas belajar, yang tidak hanya mendengarkan, tetapi mereka harus terlibat secara aktif mencari, menemukan, mendiskusikan, merumuskan, dan melaporkan hasil belajarnya. Melalui proses seperti ini maka kegiatan belajar anak akan menjadi lebih bermakna (meaningfull learning).

Bila dilihat dari pendekatannya, dapat dikatakan bahwa konsep pengajaran menggunakan pendekatan yang berorientasi pada guru, sedangkan konsep pembelajaran menggunakan pendekatan yang berorientasi pada siswa. Perbedaan karakteristik dari kedua pendekatan tersebut dapat dilihat pada tabel berikut:
Berpusat Pada Guru Berpusat Pada Siswa

* Lebih tradisional

* Guru sebagai pengajar

* Guru menentukan apa yang mau diajarkan dan bagaimana mengajarkannya l Guru sebagai fasilitator bukan penceramah

* Fokus pembelajaran pada siswa bukan guru

* Siswa aktif belajar

* Siswa mengontrol proses belajar dan menghasilkan hasil karya mereka sendiri, tdk mengutip dari guru.

Di samping didasarkan pada upaya optimalisasi implimentasi konsep pembelajaran, pendekatan PAKEM juga didasarkan pada sejumlah asumsi tentang apa itu belajar. Sejumlah asumsi tentang belajar yang dimaksud, diantaranya:

1. Belajar adalah proses individual

Artinya kegiatan belajar tidak bisa diwakilkan kepada orang lain, hanya orang yang bersangkutanlah yang dapat melakukannya. Ini berarti kegiatan belajar menuntut aktifitas orang yang sedang belajar.

2. Belajar adalah proses sosial

Kegiatan belajar harus dilakukan melalui interaksi sosial dengan lingkungan sekitar. Ini berarti seseorang yang belajar harus secara aktif berinteraksi dengan lingkungan sosialnya, karena melalui interaksi sosial inilah akan diperoleh pengalaman sebagai hasil belajar.

3. Belajar adalah menyenangkan
Apabila kegiatan belajar dilakukan dengan sukarela, atas kesadaran dan kemauan sendiri, dan tanpa ada paksaan, maka kegiatan belajar akan menyenangkan. Karena itulah, setiap orang yang belajar harus melakukannya dengan penuh kesadaran bahwa belajar itu yang akan membawa manfaat bagi kelangsungan hidupnya. Dengan demikian maka kegiatan belajar benar-benar akan menyenangkan.

4. Belajar adalah aktifitas yang tidak pernah berhenti
Proses belajar akan terus berlangsung selama manusia berinteraksi dengan lingkungannya. Pada saat seseorang berinteraksi dengan lingkungan – apakah itu disadari ataupun tidak – dan terjadi perubahan perilaku dalam dirinya (kognitif, afektif, atau psikomotorik) maka pada dasarkan orang tersebut telah belajar. Proses ini tidak akan pernah berhenti selama seseorang masih hidup dan beraktifitas.

5. Belajar adalah membangun makna
Pada saat seseorang melakukan kegiatan belajar, pada hakikatnya ia menangkap dan membangun makna dari apa yang diamatinya. Hal ini sejalan dengan pembelajaran kontekstual (contextual learning) yang mengasumsikan bahwa otak secara alamiah mencari makna dari suatu permasalahan yang berkaitan dengan lingkungan dimana seseorang tersebut berinteraksi (http://www.texascollaborative.org)

Di samping pada pertimbangan perkembangan teori belajar dan pembelajaran, pentingnya PAKEM didasarkan pada pemahaman dan kepentingan siswa sebagai pembelajar. Disadari bahwa para siswa yang belajar adalah individu-individu yang memiliki potensi dan kemampuan berpikir kritis dan kreatif. Karenanya, mereka harus diberi kesempatan untuk memikirkan segala sesuatu yang terjadi dalam lingkungannya; guru hendaknya menstimulasi daya pikir mereka dengan mengajukan sejumlah pertanyaan dan permasalahan yang harus dipecahkan (problem solving). Melalui penciptaan kondisi yang menantang dan pemberian kebebasan yang luas kepada siswa untuk beraktifitas, memungkinkan siswa menganalisis permasalah secara kritis, dan mencari pemecahannya secara kreatif. Sebab kreatifitas akan muncul dalam suasana dan lingkungan yang menantang namun dirasa aman, dan tidak takut akan mendapat hukuman apabila terjadi kesalahan. Proses belajar yang dialami siswa juga harus melatih dan meningkatkan kematangan emosional dan sosialnya. Pada akhirnya seluruh proses belajar yang dilakukan siswa akan membawanya pada peningkatan produktivitas menjadi lebih tinggi. Untuk menciptakan proses pembelajaran yang akan membawa siswa pada peningkatan berbagai kemampuan tersebut diperlukan suasana dan pengalaman belajar yang bervariasi.
Dengan kata lain, proses belajar yang dialami siswa harus mendorong dan mengembangkan dirinya menjadi orang-orang yang mampu berpikir kritis, kreatif, mampu memecahkan masalah, memiliki kematangan emosional/sosial, dan memiliki produktivitas yang tinggi dengan menciptakan proses pembelajaran yang bervariasi.

3). Bagaimana PAKEM dilaksanakan?

Dalam penerapannya, model PAKEM memerlukan lingkungan belajar yang kondusif, yang mendukung berbagai aktifitas siswa dalam melakukan proses belajar. Karena melalui penerapan PAKEM diharapkan akan terlihat siswa aktif mengeksplorasi materi melalui berbagai percobaan, melakukan observasi, diskusi kelompok, melakukan latihan-latihan praktis, memanfaatkan perpustakaan dan sudut-sudut kelas untuk pojok baca dan dinding kelas untuk memajang karya siswa (www.mbeproject.net/Apa itu.htm)

Hal yang harus dilakukan dalam melaksanakan PAKEM adalah:

a. Memahami sifat yang dimiliki anak

Setiap anak unik. Mereka memiliki karakteristik yang berbeda. Namun pada dasarnya mereka juga memiliki sifat umum yang sama, yaitu memiliki rasa ingin tahu dan daya imajinasi. Kedua sifat ini merupakan modal dasar untuk mengembangkan sikap/berpikir kritis dan kreatif. Karena itu, pembelajaran diharapkan dapat menjadi wahana dan sarana mengembangkan kedua potensi tersebut. Suasana pembelajaran yang kondusif perlu dikembangkan melalui, diantaranya, pujian terhadap karya anak, mengajukan pertanyaan terbuka dan menantang, memotivasi siswa untuk berani melakukan percobaan, dan lain-lain.

b. Mengenal anak secara perorangan

Para siswa memiliki latar belakang sosial, ekonomi, dan budaya yang bervariasi dan memiliki kemampuan yang berbeda. Dengan PAKEM diharapkan perbedaan tersebut dapat terakomodir, sehingga pembelajaran yang dialami anak yang satu berbeda dengan yang lainnya sesuai dengan kecepatan belajarnya masing-masing. Siswa yang memiliki kecepatan belajar yang lebih dapat membantu temannya sebagai tutor sebaya.

c. Memanfaatkan perilaku anak dalam pengorganisasian belajar

Ciri lain yang dimiliki anak-anak adalah kesenangannya untuk bermain, berteman secara berkelompok. Kondisi ini dapat dimanfaatkan untuk menciptakan suasana pembelajaran yang menyenangkan. Siswa dapat dikondisikan untuk melakukan kegiatan belajarnya melalui kegiatan bermain dan berkelompok. Melalui kegiatan bermain dan berkelompok siswa akan dapat menyelesaikan tugasnya dengan baik, karena ia melakukannya dengan penuh kesenangan dan mereka mudah untuk berinteraksi dan bertukar pikiran.

d. Mengembangkan kemampuan berpikir kritis, kreatif, dan kemampuan memecahkan masalah

Salah satu fungsi pembelajaran adalah menyiapkan peserta didik untuk siap terjun ke masyarakat dengan berbagai permasalahannya. Mereka harus mampu menghadapi dan memecahkan permasalahan yang dihadapinya. Untuk itu diperlukan kemampuan berpikir kritis dan kreatif. Kritis untuk menyadari, mengenali, menganalisis, dan merumuskan masalah, dan kreatif dalam menemukan dan mengembangkan alternatif pemecahannya. Pembelajaran diharapkan dapat mengembangkan kedua kemampuan tersebut dengan mengajukan pertanyaan-pertanyaan terbuka dan menantang, bahkan pertanyaan yang tidak ”lumrah”. Pertanyakan kembali cara kerja yang biasa kita lakukan, benda-benda di sekitar kita, dan hal-hal lain yang sudah biasa terjadi. Namun untuk sementara, pertanyaan diarahkan pada aspek teknologis (alat dan cara kerja), seni dan artifisial budaya, dan jangan pada hal-hal yang bersifat melawan norma hukum, agama, dan kesusilaan. Kemudian ajak para siswa untuk memikirkannya dan membuat perubahan terhadap hal-hal yang dipertanyakan tersebut ”agar tampil beda”. Hal ini dapat dilakukan dengan cara menambah, mengurangi, menggabungkan, memperkecil, memperbesar, dst.

e. Mengembangkan ruangan kelas sebagai lingkungan belajar yang menarik

Ruang kelas sebagai lingkungan belajar merupakan salah satu sumber belajar. Karenanya, ruang kelas harus ditata sedemikian rupa agar dapat mendukung terjadinya proses belajar yang dilakukan siswa. Ruang kelas yang menarik merupakan hal yang disarankan dalam PAKEM. Pada dinding ruang kelas dapat dipasang ”ikon-ikon” dan motto yang dapat memotivasi siswa belajar. Hasil karya siswa sebaiknya dipajangkan di dinding ruang kelas dengan tata letak yang baik dan harmonis. Karena pemajangan hasil karya ini dapat memotivasi siswa dan sekaligus dapat menjadi inspirasi untuk mengembangkan karya lain yang lebih baik.

f. Memanfaatkan lingkungan sebagai sumber belajar

Setting atau lingkungan (alam, sosial, dan budaya) merupakan salah satu sumber belajar yang sangat kaya dengan bahan belajar. Lingkungan dapat dijadikan sebagai media belajar dan sekaligus sebagai obyek belajar. Sebagai media belajar, lingkungan dapat membantu para siswa memahami bahan belajar lebih mudah dan menarik, sedangkan sebagai obyek belajar, lingkungan mengandung banyak hal yang dapat dipelajari dan berarti bagi kehidupan siswa.

g. Memberikan umpan balik yang baik untuk meningkatkan kegiatan belajar

Umpan balik yang disampaikan guru dapat memberi informasi tentang kualitas belajar yang dilakukan siswa. Umpan balik yang positif dapat menimbulkan motivasi siswa untuk mempertahankan dan sekaligus meningkatkan perilaku positifnya; mendorong siswa untuk lebih percaya diri dalam menghadapi tugas-tugas berikutnya. Untuk itu, guru harus konsisten memeriksa setiap tugas dan pekerjaan siswa, memberi komentar dan catatan, serta mengembalikannya kepada siswa.

h. Membedakan aktif fisik dengan aktif mental

Kata ”aktif” dalam model PAKEM, bukan semata-mata merujuk pada keaktifan fisik, tetapi pada keaktifan mental. Aktif mental lebih diutamakan daripada aktif fisik. Kondisi siswa yang sering bertanya dan mempertanyakan gagasan orang lain, dan mengungkapkan gagasannya sendiri merupakan tanda-tanda aktif mental. Syarat untuk tumbuhnya aktif mental adalah tumbuhnya perasaan tidak takut: takut ditertawakan, takut salah, takut dihukum, takut disepelekan, takut disebut orang bodoh, takut mencoba, dan takut-takut yang lainnya. Untuk itu tugas guru adalah menciptakan kondisi dan suasana yang dapat menghilangkan rasa takut, serta mendorong untuk tumbuhnya keberanian siswa.

Untuk dapat melaksanakan pembelajaran dengan model PAKEM, ada sejumlah kemampuan yang harus dikuasai dan sekaligus dilakukan guru, diantaranya: (Depdiknas, 2005, 78)

1. Guru harus merancang dan mengelola pembelajarannya yang mampu mendorong siswa berperan aktif di dalamnya. Untuk itu guru harus mampu melaksanakan pembelajaran secara variatif, seperti mengkondisikan siswa untuk melakukan percobaan, diskusi kelompok, mencari informasi, berkunjung ke suatu tempat, dan melaporkan hasil observasi.

2. Guru harus menggunakan alat bantu dan sumber belajar yang beragam (multi media). Hal ini akan membantu terciptanya interaksi yang bervariasi, bukan hanya antara guru dengan siswa, tetapi juga antara siswa dengan siswa, dan antara siswa dengan lingkungannya. Untuk itu sesuai dengan mata pelajaran yang akan diajarkan, guru dapat menggunakan alat dan benda sekitar, atau media lain yang dibuat sendiri atau dari membeli.

3. Guru memberi kesempatan kepada siswa untuk mengembangkan keterampilannya. Untuk itu guru dapat membantu siswa untuk melakukan percobaan dan pengamatan atau wawancara, mengumpulkan fakta dan data serta mengolah dan mengambil kesimpulan; membantu memecahkan masalah, mencari dan menemukan rumus, menulis laporan/hasil karya dengan bahasa sendiri.

4. Guru memberi kesempatan kepada siswa untuk mengungkapkan gagasannya sendiri secara lisan dan tulisan. Kesempatan ini penting untuk mengembangkan kemampuan berpikir kritis dan berani berpendapat. Kondisi ini dapat diciptakan melalui kegiatan diskusi, dan mengajukan pertanyaan-pertanyaan terbuka.

5. Guru menyesuaikan bahan dan kegiatan belajar dengan kemampuan siswa. Siswa akan termotivasi untuk belajar apabila tugas dan aktivitas yang harus dilakukannya ada pada batas kemampuannya. Bahan dan kegiatan belajar yang berada di atas kemampuannya atau terlalu sulit hanya akan membawa siswa frustasi, dan sebaliknya. Untuk itu siswa dapat dikelompokkan sesuai dengan kemampuannya, dan bahan pelajaran dikelompokkan sesuai dengan kelompok tersebut.

6. Guru mengaitkan pembelajaran dengan pengalaman siswa sehari-hari. Bahan belajar akan lebih bermakna apabila bahan tersebut memang menyangkut kehidupan dan permasalahan yang dihadapi siswa sehari-hari. Untuk itu guru dapat meminta siswa untuk menceritakan dan memanfaatkan pengalamannya sendiri sebagai topik pembicaraan dalam pembelajaran.

7. Menilai pembelajaran dan kemajuan belajar siswa secara terus menerus. Kegiatan ini digunakan untuk memantau kinerja siswa dan sekaligus memberikan umpan balik.
Sebagai contoh konkrit bagaimana PAKEM dilaksanakan dapat digambarkan berikut:
Untuk sebuah pembelajaran Ilmu Sosial ditetapkan sebuah tema Banjir. Mengapa tema banjir yang diangkat? Karena isu itu yang sedang hangat dan banyak diberitakan terjadi di mana-mana.

Dalam melaksanakan pembelajaran tersebut, guru memberikan pengantar tentang banjir. Kemudian guru meminta siswa bekerja kelompok. Masing-masing kelompok diberikan 2 buah kliping koran tentang banjir. Tiap kelompok membaca, mencerna, dan mencatat informasi dari kliping, kemudian mempresentasikan. Terakhir antar kelompok compare notes. Siswa diminta menyimpulkan.

D. Peningkatan Mutu Pendidikan Formal Melalui PAKEM

Dengan asumsi bahwa proses pembelajaran yang terjadi di kelas adalah inti dari proses pendidikan di sekolah, maka perbaikan mutu pendidikan harus dimulai dengan menata dan meningkatakan mutu pembelajaran di kelas. Mutu pendidikan yang diindikasikan oleh para lulusannya memiliki kemampuan berpikir kritis dan kreatif, perkembangan afeksi yang kuat (karakter, kesadaran diri, komitmen, dll), serta keterampilan psikomotor yang memadai. Artinya kriteria mutu pendidikan bukan hanya diukur oleh aspek kuantitatif, seperti NEM, nilai raport, banyaknya lulusan yang diterima di perguruan tinggi negeri, dan sebagainya, tetapi lebih pada aspek penguatan karakter dan watak siswa, keimanan kepada Tuhan, sopan santun, akhlak mulia, budi pekerti luhur, kemampuan memecahkan masalah, kemampuan menghasilkan karya dan produk inovatif, dan lain-lain.

Upaya untuk mencapai mutu pendidikan dengan kriteria sebagaimana digambarkan di atas tentu akan sulit dilakukan apabila pembelajaran yang dilakukan di kelas masih konvensional, yang hanya menuntut siswa untuk melakukan DDCH (datang, duduk, catat, dan hafal); Model pembelajaran yang didominasi oleh guru melalui ceramah-ceramahnya menyampaikan sejumlah informasi/materi pelajaran yang sudah disusun secara sistematis. Sebab pembelajaran dengan model ini tingkat partisipasi siswa sangat rendah; siswa sering ada dalam situasi ”tertekan”, yang berakibat pada tidak optimalnya pemusatan perhatian pada kemampuan yang harus dikuasainya (time on task) menjadi rendah. Siswa tidak mendapat kesempatan untuk melakukan eksplorasi lingkungan sekitar, sehingga membuat mereka terasing dengan lingkungannya dan tidak memiliki kemampuan untuk mencari dan menemukan informasi yang diperlukannya; dan yang paling penting siswa hanya terfokus pada pengembangan ranah kognitif, dan kurang memperhatikan aspek afeksi (emosional, mental, dan spiritual), serta keterampilannya.

Dengan kondisi pembelajaran seperti ini akan sulit mengharapkan para siswa memiliki kemampuan berpikir yang kritis, kreatif, dan inovatif, serta memiliki karakter dan watak yang kuat untuk menghadapi berbagai permasalahan yang dihadapi dalam kehidupannya sehari-hari.

Ada banyak inovasi pembelajaran yang dapat diterapkan untuk mendorong terciptanya pembelajaran yang berkualitas yang berangkat dari pendekatan pembelajaran student active learning, diantaranya adalah apa yang disebut PAKEM. Dengan PAKEM para siswa akan mengikuti pembelajaran secara aktif, kreatif, dan demokratis; Siswa diberi kesempatan untuk berbuat dan berpikir secara bertanggung jawab; Siswa memiliki kesempatan untuk melakukan proses belajar yang sesungguhnya, dimana siswa berinteraksi langsung dengan lingkungannya; Siswa belajar bekerjasama untuk memecahkan masalah, sehingga akan terbentuk watak dan kemampuan bekerja tim; Siswa diberi kesempatan untuk melakukan eksplorasi lingkungannya yang memungkinkan tumbuhnya kesadaran akan pentingnya lingkungan dan kemampuan untuk mencari dan mengembangkan ilmu pengetahuan; Akan tumbuh semangat dan kepercayaan diri untuk berpikir dan berbuat pada diri siswa.

D. Kesimpulan

Peningkatan kualitas sumber daya manusia haruslah menjadi prioritas dalam pembangunan nasional kita. Itu berarti pembangunan dunia pendidikan harus mendapatkan perhatian yang serius, komitmen yang kuat dan tindakan nyata dari seluruh stakeholder. Pembangunan dunia pendidikan memang harus dilakukan secara sistemik, melalui pembenahan berbagai sektor yang terkait. Khusus untuk pembangunan pendidikan formal (sekolah), semua perbaikan yang dilakukan harus mengarah dan mendukung pada peningkatan kualitas proses pembelajaran yang dilakukan di ”kelas”. Karena inti dari proses pendidikan di sekolah ada pada proses pembelajaran.

Kualitas proses pembelajaran sangat dipengaruhi oleh kualitas interaksi antara siswa dengan sumber belajar. Artinya kualitas pembelajaran dikatakan baik apabila para siswanya secara aktif melakukan berbagai kegiatan untuk mengembangkan dirinya secara utuh (kognitif, afektif, dan psikomotorik) melalui interaksinya dengan berbagai sumber belajar. Untuk dapat terjadi seperti itu perlu diciptakan lingkungan dan suasana belajar yang mendukung, yaitu lingkungan yang mendorong anak untuk melakukan eksplorasi pada lingkungannya; memberi kesempatan kepada siswa untuk berpikir secara divergen, kritis, kreatif, dan inovatif; dan melatih anak untuk bekerja secara kooperatif dan kolaboratif; Salah satu model pembelajaran yang mampu mendorong itu semua adalah apa yang disebut PAKEM (Pembelajaran Aktif, Kreatif, Efektif, dan Menyenangkan).
Demikian beberapa pokok pikiran yang dapat penulis sampaikan. Mudah-mudahan ada manfaatnya, dan mohon maaf atas segala kekurangan.
Terima kasih.

DAFTAR RUJUKAN

Achmad Sapari. Pendidikan dan Sensitivitas Guru yang Kreatif. Kompas, Senin, 8 Desember 2003
Ditjen Dikdasmen Depdiknas. Paket Pelatihan untuk Sekolah dan Masyarakat. Jakarta, 2005
Ditjen Dikdasmen Depdiknas. Paket Pelatihan Lanjutan untuk Sekolah dan Masyarakat. Jakarta, 2005
http://www.texascollaborative.org./what is Contextual Teaching and Learning.html
Irsyad Ridho (Editor).
Pendidikan, Proyek Peradaban yang Terbengkalai. Jakarta: Transbook, 2006
Silberman, Mel. Active Learning: 101 Strategies to Teach Any Subject. (Terj. H. Sardjuli, dkk). Boston: Allyn and Bacon, 1996
Soedijarto. Menuju Pendidikan Nasional yang Relevan dan Bermutu. Jakarta: Balai Pustaka, 1993
———–. Pendidikan Nasional sebagai Wahana Mencerdaskan Kehidupan Bangsa dan Membangun Peradaban Negara Bangsa. Jakarta: CINAPS, 2000
www.mbeproject.net/mbe511.html

Popularity: 73% [?

http://www.ilmupendidikan.net/2009/03/13/peningkatan-mutu-pendidikan-dasar-melalui-pakem.php>

Wednesday, November 25, 2009

IMPLEMENTASI PENDEKATAN PAKEM (PEMBELAJARAN AKTIF, EFEKTIF DAN MENYENANGKAN) DALAM PEMBELAJARAN

Oleh : Drs. Bainuddin Yani, M.Pd **)

ABSTRAK

Salah satu inovasi dalam pembelajaran matematika SD yang ditawarkan sekarang adalah dari pembelajaran yang mekanistik atau strukturalistik ke pembelajaran matematika yang PAKEM. Operasi bilangan bulat dalam pembelajaran Matematika SD/MI terdiri dari penjumlahan, pengurangan, perkalian, dan pembagian. Dalam pelaksaannya, guru memberikan kesempatan kepada siswa untuk menemukan (re-invent) konsep penjumlahan, pengurangan, perkalian, dan pembagian bilangan bulat melalui praktek dengan menggunakan benda-benda kongkret yang skenarionya didisain sesuai dengan karakteristik PAKEM. Dengan demikian siswa diharapkan dapat menemukan sendiri konsep operasi bilangan bulat dengan cara yang PAKEM.

Kata Kunci: PAKEM, pembelajaran, operasi bilangan bulat, penjumlahan, pengurangan, perkalian, pembagian, benda kongkret.

PENDAHULUAN

Beriringan dengan temuan-temuan baru dalam psikologi pendidikan, pendekatan dan strategi pembelajaran matematika di sekolah juga turut berubah. Mengajar tidak lagi dipandang sebagai penyampaian sejumlah informasi kepada peserta didik, tetapi harus mampu mendorong dan membimbing siswa untuk aktif mengkonstruksi sendiri pemahamannya. Selama proses pengkonstruksian konsep dan keterampilan matematika, kreativitas guru juga sangat penting bukan saja yang mengarah pada penemuan konsep, tetapi juga kemampuan guru menciptakan suasana belajar yang menyenangkan.

Dengan demikian, peningkatan kualitas pembelajaran merupakan aspek penting yang harus mendapat perhatian dari guru dan lembaga-lembaga terkait, baik yang berhubungan langsung maupun tidak langsung dengan pengembangan profesionalisme guru dan kegiatan belajar siswa di sekolah.

Salah satu program yang bertujuan meningkatkan kualitas pembelajaran di SD adalah CLCC (The Creating Learning Communities for Children). Program ini, yang merupakan program kerjasama dengan UNESCO dan UNICEF, memuat tiga komponen, yaitu (1) Community Participant (CP), School Based Management (SBM), dan Active, Joyful and Effective Learning (AJEL). Ketiga komponen tersebut dikembangkan dalam satu program yang saling berkaitan. Di Indonesia, AJEL dikenal dengan istilah PAKEM (Pembelajaran Aktif, Kreatif, Efektif, dan Menyenangkan). Dalam makalah ini akan dibahas pembelajaran Operasi Bilangan Bulat (Penjumlahan, Pengurangan, Perkalian, dan Pembagian) di SD/MI dengan cara yang PAKEM.

Sebagaimana diketahui, bahwa konsep operasi bilangan bulat (interger) merupakan konsep yang paling dasar dan penting untuk memahami konsep matematika lebih lanjut di SMP dan SMA. Kegagalan dalam menanam konsep tersebut akan berakibat fatal bagi guru dan siswa. Fatal bagi guru antara lain berupa terhambatnya dalam penanaman konsep matematika lebih lanjut, dan fatal bagi siswa antara lain mereka sulit memahami konsep matematika yang lebih tinggi, bosan mempelajari matematika, tidak ingin mengikuti pelajaran matematika, dan bahkan membenci matematika.

PEMBAHASAN

Untuk beradaptasi dengan perkembangan kebutuhan masyarakat dan teknologi, pembelajaran matematika di SD/MI perlu terus ditingkatkan kualitasnya. Kita melihat dan merasakan bahwa informasi yang harus diketahui oleh manusia setiap hari begitu beraneka, baik dari segi kualitas maupun kuantitasnya, sehingga tidak mungkin kita memilih dan memahami sebagian kecilpun dari informasi tersebut tanpa memanfaatkan cara atau strategi tertentu untuk memperolehnya.

Implikasinya di sekolah adalah, bahwa pembelajaran yang mekanistik yang didominasi dengan menghafal fakta-fakta dan rumus-rumus matematika harus segera ditinggalkan, karena di samping tidak menyenangkan siswa, juga akan menyebabkan lulusan "miskin" dalam menyerap informasi dan dalam pemecahan masalah. Demikian juga pembelajaran yang bersifat strukturalistik yang menekankan pada algoritma yang kaku, akan menyebabkan siswa tidak memiliki kreativitas dalam menghadapi masalah sehari-hari yang menantang. Salah satu cara pembelajaran yang mampu mengubah fenomena di atas adalah pembelajaran matematika di SD/MI dengan tingkat ke-PAKEM-an yang tinggi

A. HAKEKAT PEMBELAJARAN PAKEM

Inti dari PAKEM adalah siswa bekerja dan mengalami. Siswa 'bekerja', menekankan pada belajar dengan berbuat (learning by doing). Semua siswa harus bekerja secara aktif mempraktekkan matematika dengan menggunakan benda-benda kongkret yang mudah diperoleh di sekitar sekolah. Perlunya benda-benda kongkret dalam belajar konsep matematika SD, antara lain dapat dikaji dari teori yang dikemukakan oleh William Brownell, Zoltan P. Dienes, Richard Skemp, dan Jerome S. Brunner (Karim, dkk., 1997:18 – 26).

Menurut Brownell, untuk mengembangkan pemahaman siswa tentang matematika adalah mempraktekkan matematika dengan menggunakan benda-benda kongkret yang mereka kenal, dan mempelajari matematika harus secara permanen atau terus menerus dalam waktu yang lama. Dienes mengemukakan, benda-benda kongkret yang digunakan siswa dalam praktek untuk mempelajari suatu konsep matematika sebaiknya bervariasi. Misalnya, bila guru mengenalkan konsep bilangan dua, guru hendaknya dapat menunjukkan dua pensil, dua sentul, dua kerikil, dua lidi, dan sejenisnya.

Karena belajar secara PAKEM, semua siswa secara serentak juga harus menunjukkan benda-benda kongkret tersebut. Untuk menanamkan konsep operasi penjumlahan dan pengurangan bilangan bulat, semua siswa hendaknya mempraktekkannya dengan bermacam benda kongkret, seperti karton persegi dengan ukuran sisi 2 cm (atau boleh ukuran lainnya), kancing baju, atau tutup botol masing-masing dengan dua warna, misalnya merah dan putih.

karton persegi putih karton persegi merah
mewakili bilangan bulat mewakili bilangan bulat
positif negatif

(Gambar 1)Pakar matematika dan psikolog Inggris Richard Skemp juga mendukung interaksi siswa dengan obyek-obyek fisik pada tahap awal mempelajari konsep matematika. Ia yakin bahwa pengalaman awal tersebut dapat menjadi dasar yang berharga untuk mempelajari matematika pada tingkat yang abstrak. Misalnya bilangan nol pada bilangan bulat, ditunjukkan dengan menindih karton persegi positif dengan karton persegi negatif.

(Gambar 2). Sifat komutatif perkalian dapat dipraktekkan oleh semua siswa dengan menyusun karton persegi, misalnya karton persegi yang menunjukan 2 x 3 dan 3 x 2 (Gambar 3).Bilangan nol diperoleh dengan menindih satu lembar karton
persegi positif dengan satu lembar karton persegi negatif


Gambar 2


Susunan karton ini
menunjukkan 3 x 2


Susunan karton ini
menunjukkan 2 x 3

Gambar 3. Sifat komutatif 2 x 3 = 3 x 2 = 6

Identik dengan cara di atas, siswa dapat menyusun karton persegi untuk menunjukkan bahwa sifat komutatif tersebut juga berlaku pada operasi bilangan bulat negatif, sebagai berikut.


Susunan karton ini menunjukkan -3 x 2

(caranya memperolehnya,
lihat pada bagian B.3)

Susunan karton ini
menunjukkan 2 x (-3)

Gambar 4. Sifat komutatif 2 x (-3) = -3 x 2 = - 6

Psikolog kognitif Jerome S. Brunner, yakin bahwa siswa yang mempelajari matematika perlu secara langsung menggunakan bahan-bahan manipulatif berupa benda-benda kongkret yang dirancang khusus untuk diotak-atik oleh mereka dalam memahami konsep matematika. Melalui interaksi dengan benda fisik (benda kongkret) inilah siswa menemukan prosedur pemecahan masalah matematika yang pada gilirannya akan memperdalam pemahaman konsep yang sedang dipelajari. Brunner, yang dianggap sebagai tokoh metode pembelajaran penemuan (discovery method) itu, menyarankan agar pembelajaran matematika di SD dilaksanakan melalui tiga tahap sajian, yaitu enactive, iconic, dan symbolic. Ketiga tahapan ini harus dilaksanakan secara simultan dan kontinu.
Tahap-1 enactive : yaitu guru menggunakan benda-benda kongkret ketika melaksanakan modeling pembelajaran untuk menjelaskan konsep dan prosedur pemecahan masalah, dan semua siswa (dengan bimbingan guru) juga menggunakan benda-benda kongkret untuk mempraktekkan pengetahuan matematika yang sedang dipelajarinya. Untuk operasi bilangan bulat, dapat digunakan benda kongkret seperti disebutkan di atas, yaitu karton persegi dengan dua warna.
Tahap- 2 iconic : Pada tahap ini, guru melanjutkan sajian secara grafis atau gambar. Misal-nya, untuk operasi penjumlahan – 5 + 3, guru menggambarkan di papan tulis sebagai berikut.






Gambar 5. – 5 + 3. (Kongkretisasi perhitungannya akan dijelaskan pada bagian berikut).

Seperti yang telah disebutkan di atas, grafis atau gambar dapat juga berupa dot seperti yang dianjurkan oleh Reys et.al.(1998:163). Misalnya, 4 x 7 dapat digambarkan sebagai berikut.
●●●●●●●
●●●●●●●
●●●●●●●
●●●●●●●

Tahap-3 symbolic : Pada tahap ini, guru memperjelas hasil praktek di atas dengan mengguna-kan simbol. Pada contoh di atas, simbol yang digunakan adalah dengan menulis temuan dari praktek – 5 + 3 = – 2.

Siswa 'mengalami' menekankan bahwa untuk memahami konsep matematika secara sempurna, siswa harus mengkonstruksi sendiri pemahamannya melalui kolaborasi dalam kelompok belajar dan sharing dengan teman sebaya atau teman sekelasnya. Pentingnya kolaborasi (kerjasama dalam kelompok), dijelaskan oleh Johnson (2006:72) "Dengan bekerja sama, para siswa terbantu dalam menemukan persoalan, merancang rencana, dan mencari pemecahan masalah". Pada bagian lain Johnson (2006:164) menjelaskan "Kerja sama dapat menghilangkan hambatan mental akibat terbatasnya pengalaman dan cara pandang yang sempit"
Uraian di atas menunjukkan suatu cara atau strategi dalam aktivitas pembelajaran agar siswa aktif fisik dan mentalnya dan sekaligus menyenangkan. Selanjutnya As'ari (2006:21) menjelaskan, agar siswa aktif, hendaknya (a) guru bersahabat dan bersikap terbuka, (b) guru mengajukan pertanyaan yang mengundang banyak jawaban siswa (c) guru memberikan umpan balik yang meningkatkan harga diri positif siswa, (d) guru merespon dan menghargai semua pendapat siswa, dan (e) guru secara aktif memfasilitasi siswa. Agar siswa kreatif, maka (a) guru menciptakan lingkungan belajar yang kreatif, (b) guru meminta siswa untuk menghasilkan karya atau menuangkan kreativitas, dan (c) guru menghargai dan memamerkan hasil karya semua siswa. Agar pembelajaran efektif, hendaknya (a) guru memperhatikan efisiensi waktu, (b) guru mengakomodasi gaya belajar audio, visual dan kinestetik, (c) guru memberikan tugas-tugas dengan panduan yang jelas, (d) guru memanfaatkan sumber belajar dan media pembelajaran dengan tepat, (e) guru mengelola kelas dengan baik, dan (f) kelas memiliki aturan main dan kesepakatan. Agar pembelajaran menyenangkan, maka (a) guru tampil dengan semangat, antusias dan gembira, (b) guru menciptakan suasana pembelajaran yang kondusif, dan (c) pembelajaran menyertakan humor.
Khusus mengenai berfikir kreatif, menurut Johnson (2006: 214 – 215) adalah sebuah kebiasaan dari fikiran yang dilatih dengan mengikut sertakan intuisi, menghidupkan imajinasi, mengungkapkan kemungkinan-kemungkinan baru, membuka sudut pandang yang menakjubkan, dan membangkitkan ide-ide yang tidak terduga. Berfikir kreatif merupakan aktifitas mental yang mencakup :
(1) Mengajukan pertanyaan,
(2) Mempertimbangkan informasi dan ide baru dengan cara yang luwes,
(3) Menemukan keterkaitan khususnya antara pendapat-pendapat yang berbeda,
(4) Mengaitkan berbagai hal dengan bebas,
(5) Menerapkan imaginasi pada semua situasi untuk menghasilkan sesuatu yang baru dan berbeda, dan
(6) Mendengarkan instuisi.

Dalam pelaksanaan pembelajaran yang PAKEM, guru perlu memperhatikan hal-hal berikut (Depdiknas, 2004: 15) :
(1) Memahami sifat siswa,
(2) Mengenal siswa secara individual,
(3) Memanfaatkan prilaku siswa dalam pengorganisasian belajar,
(4) Mengembangkan kemampuan berfikir kritis, kreatif, dan kemampuan memecahkan masalah,
(5) Mengembangkan ruang kelas sebagai lingkungan belajar yang menarik,
(6) Memanfaatkan lingkungan sebagai sumber balajar,
(7) Memberikan feedback yang adil, dan
(8) Membedakan antara keaktifan fisik dan mental.

B. LANGKAH-LANGKAH PEMBELAJARANNYA
Kurikulum KTSP menempatkan materi operasi penjumlahan dan pengurangan bilangan bulat di SD kelas IV semester 2, dan pengembangannya dilanjutkan di kelas V dan VI, dengan Standar Kompetensi (SK) nya sebagai berikut.
(1) Menjumlahkan dan mengurangkan bilangan bulat
(2) Melakukan operasi hitung bilangan bulat dalam pemecahan masalah
Berikut ini disajikan contoh langkah kegiatan inti***) pembelajaran bilangan bulat yang prakteknya dilaksanakan oleh siswa dengan bimbingan guru.

1. Penjumlahan

(a) Andaikan yang akan dijumlahkan adalah 7 + (- 9) = . . .
Semua siswa secara individual atau kelompok mempraktekkan seperti yang dilakukan (diperagakan) guru di depan kelas.

à Semua siswa meletakkan 7 lembar karton persegi putih di atas mejanya masing-masing, dilanjutkan dengan meletakkan 9 lembar karton merah di sampingnya.







Semua siswa menindih karton persegi positif dengan karton persegi negatif sebagai berikut.
à





Gambar 6


Kepada siswa sudah dijelaskan sebelumnya bahwa yang ditindih nilainya nol. Ternyata yang tidak tertindih ada dua karton merah, sehingga nilainya – 2. Dengan demikian 7+(- 9) = -2.
(b) Hitunglah - 3 + 8 = . . .
Semua siswa secara individual atau kelompok mempraktekkan seperti yang dilakukan (diperagakan) guru di depan kelas.

à Semua siswa meletakkan 3 lembar karton persegi merah di atas mejanya masing-masing, dilanjutkan dengan meletakkan 8 lembar karton putih di sampingnya.







Gambar 7
Semua siswa menindih karton persegi positif dengan karton persegi negatif sebagai berikut.
à





Gambar 8

Kepada siswa sudah dijelaskan sebelumnya bahwa yang ditindih nilainya nol. Ternyata yang tidak tertindih ada lima karton persegi putih, sehingga nilainya 5. Dengan demikian -3+8 = 5.

2. Pengurangan

Pengurangan dijelaskan dengan dua cara. Cara pertama dengan cara mengambil karton persegi (positif atau negatif, sesuai dengan soal), dan cara kedua dengan cara menambah dengan lawan (invers aditif) bilangan yang dikurangi. Invers aditif bilangan bulat harus sudah dijelaskan sebelumnya, yaitu :
1 inversnya – 1, dan 1 + (– 1) = 0
10 inversnya – 10, dan 10 + (– 10) = 0
– 20 inversnya 20, dan – 20 + 20 = 0
0 tidak mempunyai invers.

Contoh.
(a) Hitunglah – 5 – (– 4) = . . .
Semua siswa secara individual atau kelompok mempraktekkan seperti yang dilakukan (diperagakan) guru di depan kelas.

Semua siswa meletakkan 5 lembar karton persegi merah di atas mejanya masing-masing.
à




Gambar 9




Semua siswa mengambil empat lembar karton persegi negatif (karena dikurang dengan –4) sebagai berikut.
à





Yang di bawah ini karton yang diambil di atas dan dipindahkan ketempat lain.





Gambar 10

Ternyata yang tinggal (sisa) satu karton merah. Sehingga – 5 – (– 4) = – 1.

(b) Hitunglah 3 – (– 6) = . . .

à Semua siswa meletakkan 3 lembar karton persegi putih di atas mejanya masing-masing, kemudian siswa diminta mengambil 6 karton negatif.




Gambar 11

à Karena tidak ada karton negatif yang akan diambil, harus disediakan 6 pasangan karton (karton positif dan negatif yang ditindih, sebanyak yang akan diambil/dalam kurung), sebagai berikut.









Gambar 12

Semua siswa mengambil 6 lembar karton persegi negatif, sehingga yang tertinggal (sisanya) sebagai berikut.
à











Gambar 13

Ternyata yang tinggal (sisa) sembilan karton putih. Sehingga 3 – (– 6) = 9.

(c) Hitunglah – 2 – (– 7) = . . .

à Semua siswa meletakkan 2 lembar karton persegi merah di atas mejanya masing-masing, kemudian siswa diminta mengambil 7 karton merah.



Gambar 14

à Karena tidak cukup karton merah yang akan diambil, harus disediakan 7 pasangan karton (karton positif dan negatif yang ditindih, sebanyak yang akan diambil/dalam kurung), sebagai berikut.








Gambar 15

Semua siswa mengambil 7 lembar karton persegi negatif, sehingga yang tertinggal (sisanya) sebagai berikut.
à





Gambar 16

Ternyata yang tinggal (sisa) nya 5 lembar karton putih, dan dua pasangan yang tertindih. Karena yang tertindih nilainya nol, maka nilai setelah proses pengambilan adalah 5. Sehingga – 2 – (– 7) = 5.




3. Perkalian
Siswa dapat menemukan sendiri melalui praktek hasil perkalian bilangan bulat positif dengan bilangan bulat negatif (semua siswa mempraktekkannya dengan bimbingan guru).






(a) (b) (c)




(d)
Gambar 17
Susunan karton pada gambar 17(a) menunjukkan 2 x (– 1) dan ternyata nilainya – 2; susunan karton pada gambar 17(b) menunjukkan 2 x (– 2) dan ternyata nilainya – 4; susunan karton pada gambar 17(c) menunjukkan 2 x (– 3) dan ternyata nilainya – 6; dan susunan karton pada gambar 17(d) menunjukkan 2 x (– 4) dan ternyata nilainya – 8. Dari percobaan di atas diperoleh sebagai berikut.
2 x (– 1) = – 2
2 x (– 2) = – 4
2 x (– 3) = – 6
2 x (– 4) = – 8
Jadi, bilangan bulat positif dikali dengan bilangan bulat negatif, hasilnya bilangan bulat negatif.
De Walle (1990 : 350) memberi makna tentang perkalian bilangan bulat negatif dengan bilangan bulat positif dengan istilah "mengambil yang positif dari nol". -2 x 2 berarti ambil 2 duaan yang positif dari nol; -2 x 3 berarti ambil 2 tigaan yang positif dari nol.










(a)



(b)
Gambar 18

Susunan karton di atas keduanya bernilai nol. Pada gambar 18(a), ambil 2 duaan yang positif sehingga hasilnya seperti gambar 19(a) yaitu – 4; dan pada gambar 19(b) ambil 3 duaan yang positif sehingga hasilnya seperti ganbar 19(b) yaitu – 6.







(a)


(b)
Gambar 19

Dengan cara yang sama untuk - 3 x 4, ambillah 3 buah empatan yang positif, sehingga hasilnya – 12, seperti pada gambar 20









Hasil -3 x 4 setelah diambil
3 buah empatan yang positif.


Gambar 20

Percobaan di atas yang dilaksanakan oleh siswa dengan bimbingan guru, dapat ditulis kembali sebagai berikut.
- 2 x 2 = - 4
- 2 x 3 = - 6
- 3 x 4 = - 12, dst
Nampak bahwa bilangan bulat negatif dikali dengan bilangan bulat positif hasilnya bilangan bulat negatif.
Makna perkalian bilangan bulat negatif dengan bilangan bulat negatif adalah "mengambil yang negatif dari nol". -2 x -2 berarti ambil 2 duaan yang negatif dari nol; -2 x -3 berarti ambil 2 tigaan yang negatif dari nol.












(a)



(b)
Gambar 21

Pada gambar 21(a), ambil 2 duaan yang negatif sehingga hasilnya seperti gambar 22(a) yaitu 4; dan pada gambar 21(b) ambil 3 duaan yang negatif sehingga hasilnya seperti ganbar 22(b) yaitu 6.






(a)


(b)
Gambar 22

Dengan cara yang sama untuk - 3 x -4, ambillah 3 buah empatan yang negatif, sehingga hasilnya 12, seperti pada gambar 23.









Hasil -3 x -4 setelah diambil 3 buah empatan yang negatif.
Gambar 23
Percobaan di atas yang dilaksanakan oleh siswa dengan bimbingan guru, dapat ditulis kembali sebagai berikut.
- 2 x -2 = 4
- 2 x -3 = 6
- 3 x -4 = 12, dst
Nampak bahwa bilangan bulat negatif dikali dengan bilangan bulat negatif hasilnya bilangan bulat positif.
Sekarang perhatikan pola perkalian berikut.
4 x –2 = – 8
3 x –2 = – 6
2 x –2 = – 4
1 x –2 = – 2
Hasilnya selalu ditambah dengan –2, sehingga kalau polanya diteruskan lagi diperoleh :
4 x –2 = – 8
3 x –2 = – 6
2 x –2 = – 4
1 x –2 = – 2
0 x –2 = 0
–1 x –2 = 2
–2 x –2 = 4
–3 x –2 = 6
......................
......................
Pola di atas menunjukkan juga bahwa bilangan bulat negatif dikali dengan bilangan bulat negatif hasilnya bilangan bulat positif.

4. Pembagian
Pembagian dapat dipandang sebagi kebalikan dari perkalian. Misalnya :
4 x 2 = 8, dapat ditulis 8 : 2 = 4.
- 4 x 2 = - 8, dapat ditulis (-8) : 2 = - 4.
4 x (-2) = - 8, dapat ditulis (-8) : (-2) = 4.
- 4 x (-2) = 8, dapat ditulis 8 : (-2) = - 4.
Dari contoh-contoh tersebut dan pola perkalian di atas, diharapkan siswa dapat mengambil kesimpulan tentang pembagian dua bilangan bulat.
Untuk mendisain pembelajaran yang PAKEM yang memenuhi hakekat PAKEM seperti disebutkan di atas, perlu persiapan media dan sumber belajar serta asesmennya.
Ada beberapa hal yang perlu diperiksa pencapaiannya, yaitu:
1. Cara menggunakan benda kongkret dalam proses operasi bilangan bulat.
2. Kreativitas dalam aktivitas dalam penggunaan benda kongkret, dan
3. Strategi menggunakan benda kongkret untuk menerapkan sifat operasi bilangan bulat dalam komputasi mental.

III. PENUTUP

A. Simpulan
Dengan mengimplementasikan pendekatan PAKEM, guru memberikan kesempatan kepada siswa dengan pelaksanaannya berbentuk acted-out mathematics yang memungkinkan siswa berpartisipasi dan bekerja sehingga dapat mengembangkan ide-ide matematika, dan akhirnya diharapkan mereka menemukan konsep perkalian bilangan bulat.

B. Saran
Berdasarkan uraian dan simpulan di atas, diajukan beberapa saran berikut.
(1) Pendekatan pembelajaran matematika secara konvensional yang menuntut siswa menghafal aksioma, definisi, teorema, serta prosedur penggunaan teorema tersebut, sudah saatnya diminimalkan, dan diganti dengan strategi dan pendekatan yang dapat mengarahkan siswa menjadi aktif, kreatif, efektif, dan menyenangkan.
(2) Pembelajaran operasi bilangan bulat dapat dilaksanakan dalam bentuk acted-out mathematics dengan menggunakan benda kongkret (misalnya karton persegi dengan dua warna merah dan putih), sehingga memberikan kesempatan kepada siswa untuk menemukan (re-invent) konsepnya melalui praktek (do-it). Untuk ini, diharapkan para guru SD dapat melaksanakan pembelajarannya melalui pendekatan PAKEM.



DAFTAR RUJUKAN

As'ari, A. R. 2006. Hand Out Workshop PAKEM (tidak diterbitkan)

Depdiknas. 2004. "Hakekat Kurikulum, Pengembangan Silabi, dan Rencana Pembelajaran", dalam Materi Pelatihan Terintegrasi, Buku Matematika 3. Jakarta

Depdiknas. 2004. "Model-Model Pembelajaran Matematika", dalam Materi Pelatihan Terintegrasi, Buku Matematika 3.
Jakarta

De Walle, John A. Van. Elementary School Mathematics : Teaching Developmentally. New York: Longman

Johnson, Elaine B. 2006. Contextual Teaching and Learning : What It Is and Why It's Here to Stay. California : Corwin Press, Inc.

Reys, Robert E., et. al. 1998. Helping Children Learn Mathematics. Boston, dll : Allyn and Bacon

http://batang-karso.blogspot.com/2009/11/implementasi-pendekatan-pakem.html.

Poskan Komentar