Senin, 31 Januari 2011

Pemerolehan Bahasa Manusia ( Semantik ) Pada Anak Sesuai Dengan Tingkatan Usianya

Pemerolehan Bahasa Manusia

( Semantik ) Pada Anak Sesuai Dengan Tingkatan Usianya

oleh :

Rona Amelia

PENDAHULUAN

Menurut Ferdinand de Saussure bahwa makna adalah "pengertian" atau konsepyang dimiliki atau terdapat pada sebuah tanda linguistik. Disamping itu ada juga yang menyatakan bahwa makna itu tidak lain daripada sesuatu/referen yang diacu oleh

kata/leksem itu.

Semantik merupakan salah satu objek garapan yang dibahas dalam linguistik, dalam istilah arab ini dikenal dengan Ilmu ad-Dilalah s( ilmu yang mempelajari makna kata. Semantik secara bahasa berasal dari bahasa Yunani, mengandung makna to signify atau memaknai, semantik mengandung pengertian studi tentang makna.[1]

Pada pembahasan ini penulis akan membahas tentang pemerolehan semantin pada anak.Adapun hal-hal yang berkaitan dengan itu diantaranya :

  1. Teori tentang pemerolehan bahasa ( semantik)
  2. Observasi terhadap anak yang diteliti
  3. Analisis penulis

TEORI TENTANG PEMEROLEHAN SEMANTIK

1. Teori fitur

Untuk dapat mangkaji pemerolehan semantik kanak-kanak kita perlu terlebih dahulu memahami apa yang dimaksud dengan makna atau arti itu. Menurut salah satu teori semantik yang baru, maka dapat dijelaskan berdasarkan yang disebut fitur-fitur atau penanda-penanda semantik. Ini berarti, makna sebuah kata merupakan gabungan dari fitur-fitur semantik ini.[2]

Teori fitur mengatakan bahwa konsep terbentuk dari sekelompok unit yang lebih kecil yang dinamakan fitur. Konsep mengenai objek yang dinamakan kucing, misalnya, mempunyai sekelompok fitur yakni, (a) berkaki empat,(b) bermata dua, (c) bertelinga dua, (d) berhidung satu, (e) berkumis, (f) berbulu, (g) berwarna putih, hitam, coklat dan lainnya.[3]

Dari penjelasan di atas dapat dipahami bahwa anak-anak dapat memahami sebuah makna dari suatu konsep dengan adanya tanda-tanda atau fitu-fitur yang memudahkan ia dalam memahami konsep teresebut. Untuk lebih jelas dapat di contohkan, seekor sapi memiliki tubuh gemuk, berbadan besar, berkaki empat, memiliki dua mata yang besar, bertelinga dua, berwarna kuning dan lainnya. Ketika seorang anak melihat seekor sapi, maka ia memahami bahwa sapi itu sperti ini ( tanda yang telah dijelaskan di atas ) atau seorang anak mendengar kata “sapi” maka ia akan memahami sebagaimana ciri atau tanda yang pernah ia lehat sebelumnya. Dan bisa juga dicontohkan lagi, ketika anak melihat seekor kerbau ia juga akan mengatakan bahwa itu sapi karena memiliki tanda hampir sama dengan sapi. Beginilah anak-anak memperoleh sebuah makna dari suatu konsep menurut teori fitur ini.

Asumsi-asumsi yang menjadi dasar hipotesis fitur-fitur semantic adalah :

a. fitur-fitur makna yang digunakan kanak-kanak dianggap sama dengan beberapa fitur makna yang digunakan oleh orang dewasa.

b. Karena pengalaman kanak-kanak mengenai dunia dan mengenai bahasa masih sangat terbatas bila diabandingkan dengan pengalaman orang dewasa, maka kanak-kanak hanya akan menggunakan dua atau tiga fitur saja untuk sebuah kata sebagai masukan leksikon.

c. Karena pemilihan fitur-fitur yang berkaitan ini didasarkan pada pengalaman kanak-kanak sebelumnya, maka fitur-fitur ini pada umumnya didasarkan pada informasi persepsi atau pengamatan.

Jadi , apabila orang dewasa mengucapkan kata-kata dalam konteks dan situasi yang yang dikenal oleh kanak-kanak, maka pengenalan ini akan menolong kanak-kanak itu memperoleh makna kata-kata itu berdasrkan bentuk, ukuran, bunyi, rasa, gerak dan lain-lain dari kata-kata baru itu. Lalu karena hanya beberapa fitur semantic yang digunakan oleh kanak-kanak untuk memperoleh makna kata pada tahap permulaan ini ( antara satu -dua tahun setengah ), maka penerapan berlebihan dari makna-makna ini tidak dapat dielakan ; dan ini merupakan ciri khas pemerolehan makna oleh kanak-kanak. [4]

Clark (1977) secara umum menyimpulkan perkembangan pemerolehan semantik ini kedalam emapt tahap, yaitu :

a. Tahap penyempitan makna kata

Tahap ini berlangsung antara umur satu sampai satu setengah tahun ( 1:0 – 1:6 ). Pada tahap ini kanak-kanak menganggap satu benda tertentu yang dicakup oleh satu makna menjadi nama dari benda itu. Jadi, yang disebut ( meong ) hanyalah kucing yang dipelihara di rumah saja. Begitu juga ( gukguk ) hanyalah anjing yang ada dirumah saja, tidak termasuk yang berada di luar rumah si anak.

b. Tahap Generalisasi berlebihan

Tahap ini berlangsung antara usia satu tahun setengah sampai dua tahun setengah (1:6 – 2:6). Pada tahap ini kanak-kanak mulai menggeneralisasikan makna suatu kata secara berlebihan. Jadi, yang dimaksud dengan anjing atau gukguk dan kucing atau meong adalah semua binatang yang berkaki empat, termasuk kambinh dan kerbau.

c. Tahap medan semantik

Tahap ini berlangsung antara usia dua tahun setengah sampai lima tahun ( 2:6 - 5:0 ). Pada tahap ini kanak-kanak mulai mengelompokkan kata-kata yang berkaitan ke dalam satu medan semantik. Pada mulanya proses ini berlangsung jika makna kata-kata yang digeneralisasi secara berlebihan semakin sedikit setelah kata-kata baru untuk benda-benda yang termasuk dalam generalisasi ini dikuasai oleh kanak-kanak. Umpamanya, kalau pada mualanya kata anjing berlaku untuk semua binatang berkaki empat ; namun, setelah mereka mengenal kata kuda, kambing , dan harimau, maka anjing hanya berlaku untuk anjing saja.

d. Tahap generalisasi

Tahap ini berlangsung setelah kanak-kanak berusia lima tahun. Pada tahap ini kanak-kanak telah mulai mampu mengenal benda-benda yang sama dari sudut persepsi, bahwa benda-benda itu mempunyai fitur-fitur semantic yang sama. Pengenalan ini semakin sempurna jika kanak-kanak semakin bertanbah usianya. Jadi, ketika berusia antara 5 – 7 tahun mereka telah mampu mengenal yang dimaksud dengan heawan, yaitu semua mahluk yang termasuk hewan.[5]

Dari penjelasan di atas terlihat bahwa kanak-kanak membutuhkan tahap-tahapan dalam memperoleh makna semantik, dan lingkungan sangat membantu kanak-kanak untuk memperoleh makna tersebut, karena dalam proses pemerolehan itu kanak-kanak menggunakan indranya. Jadi, semakin banyak kanak-kanak mengamati lingkungannya akan sangat membantu sekali dalam memperolah makna kata-kata dari suatu konsep.

2. Hubungan-hubungan gramatikal

Teori ini diperkenalkan oleh Mc. Neil (1970), menurut Mc. Neil pada waktu dilahirkan kanak-kanak telah dilengkapi dengan hubungan-hubungan gramatikal dalam yang nurani. Oleh karena itu, kanak-kanak pada awal proses pemerolehan bahasanya telah berusaha membentuk satu “kamus makna kalimat” ( sentence-meaning dictionary ), yaitu setiap butir leksikal dicantumkan dengan semua hubungan gramatikal yang digunakan secara lengkap pada tahap holofrasis. Pada tahap holofrasis ini kanak-kanak belum mampu menguasai fitur-fitur semantik kerana terlalu membebani ingatan mereka. Jadi, pada awal pemerolehan semantik hubungan hubungan gramatikal inilah yang paling penting karena telah tersedia secara nurani sejak lahir. Sedangkan fitur-fitur semantik hanya perlu pada tahap lanjutan pemerolehan semantik ini.

Jika kanak-kanak telah mencapai tahap dua kata pada usia dua tahun mereka baru memulai menguasai kamus makna kata berdasrkan makna kata untuk menggantikan makna kalimat yang telah dikuasai sebelumnya.

3. Teori Generalisasi

Teori ini diperkenalkan oleh Anglin (1975, 1977). Menurut Anglin perkembangan semantik kanak-kanak mengikuti satu proses generalisasi, yaitu kemampuan kanak-kanak melihat hubungan-hubungan semantik antara nama-nama benda ( kata-kata) mulai dari yang konkret sampai yang abstrak. Pada tahap permulaan pemerolehan semantik ini kanak-kanak hanya mampu menyadari hubungan-hubungan konkret yang khusus di antara benda-benda itu. Bila usianya bertambah mereka membuat generalisasi terhadap kategori-kategori abstrak yang lebih besar. Umpamanya, pada awal perkembangan pemerolehan semantik kanak-kanak telah mengetahui kata-kata melati dan mawar melalui hubungan konkret antara kata itu dengan bunga-bunga tersebut. Pada tahap berikutnya setelah mereka semakin matang, mereka akan menggolongkan kata-kata ini dengan butir leksikal yang lebih tinggi kelasnya atau subordinatnya melalui generalisasi yaitu bunga.

Selanjutnya , setelah usia mereka semakin bertambah, maka mereka pun akan memasukkan bunga ke dalam kelompok-kelompok yang lebih tinggi, yaitu tumbuh-tumbuhan.

4. Teori Primitif Universal

Teori ini mula-mula diperkenalkan oleh Postal (1966), lalu dikembangkan oleh Bierswich (1970) dengan lebih terperinci. Menurut Postal semua bahasa yang ada di dunia ini dilandasi oleh satu perangkat primitife-primitif semantik universal (yang kira-kira sama dengan penanda-penanda semantik dan fitur-fitur semantik), dan rumus-rumus untuk menggabungkan primitif-primitif semantik ini dengan butir-butir leksikal. Sedangkan setiap primitif semantik itu mempunyai satu hubungan yang sudah ditetapkan sejak awal dengan dunia yang ditentukan oleh struktur biologi manusia itu sendiri.

Bierswich (1970) menyatakan bahwa primitif semantik atau komponen-komponen sementik ini mewakili kategori-kategori atau prinsip-prinsip yang sudah ada sejak awal yang digunakan oleh manusia untuk mengolong-golongkan struktur benda-benda atau situasi-situasi yang diamati oleh manusia itu. Selanjutnya ia menjelaskan bahwa primitf-primitif atau fitur-fitur semantik ini tidak mewakili ciri-ciri fisik luar dari benda-benda itu, tetapi mewakili keadaan-keadaan psikologi berdasarkan bagaimana manusia memproses keadaan sosial dengan fisiknya. Selajnjutnya ia menjelaskan bahwa dalam pemerolehan makna kanak-kanak tidak perlu mempelajari kompponen-komponen makna itu karena komponen-komponen itu telah tersedia sejak dia lahir. Yang dipelajari adalah hubungan-hubungan komponen ini dengan “ milik-milik” fonologi dan sintaksis bahasanya. Ini berarti bahwa manusia menafsirkan semua yang diamatinya berdasarkan primitif-primitif semantik yang telah tersedia sejak dia lahir. Dengan demikian hipotesisi primiti-primitif universal ini mau tidak mau harus menghubungkan perkembangan semantic kanak-kanak dengan perkembangan kognitif umum kanak-kanak itu. [6]



[1] Aminuddin, Semantik, Pengantar Studi tentang Makna, (Malang : Sinar Baru Algesindo, 2003 ), h. 15

[2] Abdul Chaer, Psikolinguistik Kajian Teoritik, ( Jakarta : PT RINEKA CIPTA, 2003 ), h. 194-195

[3] Soenjono Dardjowidjojo, Psikolinguistik : Pengantar Pemahaman Manusia, ( Jakarta : Yayasan Obor Indonesia, 2003), h. 181

[4] opcit, Abdul Chaer, h. 195-196

[5] ibid, h.196-197

[6] Ibid, h. 199.

Poskan Komentar