oleh : Rona Amelia

PENDAHULUAN

Bahasa merupakan salah satu parameter dalam perkembangan anak. Kemampuan bicara dan bahasa melibatkan perkembangan kognitif, sensorimotor, psikologis, emosi dan lingkungan sekitar anak. Kemampuan bahasa pada umumnya dapat dibedakan atas kemampuan reseptif (mendengar dan memahami) dan kemampuan ekspresif (berbicara). Kemampuan bicara lebih dapat dinilai dari kemampuan lainnya sehingga pembahasan mengenai kemampuan bahasa lebih sering dikaitkan dengan kemampuan berbicara. Kemahiran dalam bahasa dan berbicara dipengaruhi oleh faktor intrinsik (dari anak) dan faktor ekstrinsik (dari lingkungan). Faktor intrinsik yaitu kondisi pembawaan sejak lahir termasuk fisiologi dari organ yang terlibat dalam kemampuan bahasa dan berbicara. Sementara itu faktor ekstrinsik berupa stimulus yang ada di sekeliling anak terutama perkataan yang didengar atau ditujukan kepada si anak.[1]

Gangguan bahasa dan berbicara adalah salah satu penyebab gangguan perkembangan yang paling sering ditemukan pada anak. Keterlambatan bicara adalah keluhan utama yang sering dicemaskan dan dikeluhkan orang tua kepada dokter.

Gangguan ini semakin hari tampak semakin meningkat pesat. Dari penelitian didapatkan bahwa gangguan bahasa dan berbicara terjadi 1% sampai 32% dari populasi normal dan sebanyak 60% dari kasus yang ditemukan terjadi secara spontan pada anak berumur dibawah 3 tahun. Berdasarkan hal tersebut di atas, maka gangguan bahasa dan bicara harus menjadi prioritas bagi dokter untuk dideteksi secara dini agar penyebabnya dapat segera dicari, sehingga pengobatan dan pemulihannya dapat diberikan sesegera mungkin karena akan sangat mempengaruhi perkembangan anak di masa depan.[2]

Gangguan dalam perkembangan bahasa dan artikulasi, selain menyebabkan hambatan dalam bidang akademik, akan menyebabkan pula hambatan dalam bidang hubungan sosial, yang kemudian dapat menimbulkan berbagai macam tingkah laku, seperti

membolos, minat belajar kurang, dan berbagai macam tingkah laku antisosial. Tidak jarang kepribadian anak ikut terpengaruh misalnya anak mulai merasa rendah diri, menjadi peragu dan sering waswas menghadapi lingkungannya.

Ada perbedaan antara bicara dan bahasa. Bicara adalah pengucapan, yang menunjukkan keterampilan seseorang mengucapkan suara dalam suatu kata.[3] Bahasa berarti menyatakan dan menerima informasi dalam suatu cara tertentu. Bahasa merupakan salah satu cara berkomunikasi. Bahasa reseptif adalah kemampuan untuk mengerti apa yang dilihat dan apa yang didengar. Bahasa ekspresif adalah kemampuan untuk berkomunikasi secara simbolis baik visual (menulis, memberi tanda) atau auditorik. Seorang anak yang mengalami gangguan berbahasa mungkin saja dapat mengucapkan suatu kata dengan jelas tetapi ia tidak dapat menyusun dua kata dengan baik. Sebaliknya, ucapan seorang anak mungkin sedikit sulit untuk dimengerti, tetapi ia dapat menyusun kata-kata yang benar untuk menyatakan keinginannya.

Masalah bicara dan bahasa sebenarnya berbeda tetapi kedua masalah ini sering kali tumpang tindih. Gangguan bicara dan bahasa terdiri dari masalah artikulasi, masalah suara, masalah kelancaran berbicara (gagap), afasia (kesulitan dalam menggunakan katakata, biasanya akibat cedera otak) serta keterlambatan dalam bicara atau bahasa.[4] Keterlambatan bicara dan bahasa dapat disebabkan oleh berbagai faktor termasuk faktor lingkungan atau hilangnya pendengaran. Gangguan bicara dan bahasa juga berhubungan erat dengan area lain yang mendukung seperti fungsi otot mulut dan fungsi pendengaran. Keterlambatan dan gangguan bisa mulai dari bentuk yang sederhana seperti bunyi suara yang “tidak normal” (sengau, serak) sampai dengan ketidakmampuan untuk mengerti atau menggunakan bahasa, atau ketidakmampuan mekanisme oralmotor dalam fungsinya untuk bicara dan makan.

Gangguan perkembangan artikulasi meliputi kegagalan mengucapkan satu huruf sampai beberapa huruf. Sering terjadi penghilangan atau penggantian bunyi huruf itu sehingga menimbulkan kesan bahwa bicaranya seperti anak kecil. Selain itu juga dapat berupa gangguan dalam pitch, volume atau kualitas suara.[5] Afasia yaitu kehilangan kemampuan untuk membentuk kata-kata atau kehilangan kemampuan untuk menangkap arti kata kata sehingga pembicaraan tidak dapat berlangsung dengan baik.

Anak-anak dengan afasia didapat memiliki riwayat perkembangan bahasa awal yang normal, dan memiliki onset setelah trauma kepala atau gangguan neurologis lain (sebagai contohnya kejang).

Stimulasi yaitu kegiatan merangsang kemampuan dasar anak agar anak tumbuh dan berkembang secara optimal[6]. Setiap anak perlu mendapat stimulasi rutin sedini mungkin dan terus menerus pada setiap kesempatan yang dapat dilakukan oleh ibu, ayah, pengasuh, maupun orang-orang terdekat dalam kehidupan seharihari. Kurangnya stimulasi dapat menyebabkan gangguan yang menetap.

Gangguan bicara dan bahasa dialami oleh 8% anak usia pra sekolah. Hampir sebanyak 20% dari anak berumur 2 tahun mempunyai gangguan keterlambatan bicara. Keterlambatan bicara paling sering terjadi pada usia 3 tahun. Pada umur 5 tahun, 19% dari anakanak diidentifikasi memiliki gangguan bicara dan bahasa (6,4% kelemahan berbicara, 4,6% kelemahan bicara dan bahasa, dan 6% kelemahan bahasa).[7]

Menurut penelitian anak dengan riwayat sosial ekonomi yang lemah memiliki insiden gangguan bicara dan bahasa yang lebih tinggi dari pada anak dengan riwayat sosial ekonomi menengah keatas.

Sehubung dengan begitu panjang lebarnya tentang gangguan berbahasa, maka saya sebagai penulis memfokuskan pembahasan saya tentang bisu. Yang akan saya kemukakan dalam makalah ini yaitu :

1. Pengertian bisu

2. faktor-faktor yang menyebabkan bisu

3. Jenis-jenis bisu

PEMBAHASAN

1. Hasil Observasi

Berdasarkan hasil observasi yang saya lakukan terhadap orang yang mengalami gangguan berbahasa (bisu). Yang bernama Asni anak ke sepuluh dari pasangan Jasniar dan Iskandar. Asni ini mulai bisu beranjak umur tiga tahun. Sejak dia lahir tidak mempunyai kelainan ataupun keganjalan sama sekali. Beranjak dari usia 1 tahun 7 bulan, dia sudah bisa memanggil nama orang tuanya seperti ayah atau ibu. Beranjak umur 3 tahun dia mengalami demam panas yang bersangatan sampai ketinggat step selama satu minggu. Setelah beranjak satu minggu dari penyakitnya si anak tersebut tidak mengeluarkan kata-kata lagi. Ibunya langsung memeriksakan penyakit anaknya itu ke rumah sakit. Dari hari kehari ibunya terus mengobati penyakit anaknya, dikarnakan keterbatasan ekonomi hanya pergi berobat ke orang pintar, bukan kedokter atau kerumah sakit yang bisa menangani penyakit anaknya tersebut. Sudah terlalu banyak orang pintar yang didatangi tapi hasilnya tetap nihil, yang mana anak tersebut tidak juga bisa berbicara. Sehinga ibunya merasa kecewa dengan usaha yang telah dia lakukan terhadap anaknya itu dan ibunya hanya bisa pasrah dengan keadaan anaknya tersebut yang tidak menampakkan tanda-tanda untuk berbicara. Selain itu juga yang mengasuh si Asni itu juga mengalami kebisuan sehingga memicu anak tersebut tidak bisa berbicara, disebabkan karna orang tuanya sibuk pergi kesawah untuk mencari nafkah.

Menurut pendapat saya, seorang anak bisu yang tidak sejak lahir, secara tidak langsung bisa disembuhkan, karna alat artikulasinya lengkap, tidak ada kekurangan ataupun kerusakan. Dan pada kasus si Asni ini yang mengasuhnya seorang bisu pula yaitu kakak kandung sendiri yang bernama Beniarti. Apabila seorang pengasuh anak kecil mengalami kebisuan secara otomatis anak yang diasuhnya itu akan bisu juga.

Hari berganti hari, tahun berganti tahun si Asni tersebut beranjak menjadi seorang anak yang membutuhkan pendidikan. Pada umur 8 tahun dia didaftarkan kesekolah SDLB (sekolah dasar luar biasa). Karna suat dan lain hal dia tidak menamatkan pndidikan dasarnya di sekolah tersebut.

Asni ini sangat sulit bersosialisa dengan orang lain dikarnakan dia tidak mempunyai kemampuan mendengar dan berbicara. Kalau mau menanyakan tentang keluarganya atau tentang sesuatu kepadanya yaitu dengan menggunakan bahasa isyarat. Dengan bahasa isyarat tersebut banyak orang disekitarnyatidak paham, sehingga terjadinya miskomunikation antara dia dengan orang lain. Yang faham bahasa isyaratnya hanya orang-orang yang dekat dengannya seperti keluarganya sendiri dan guru di sekolahnya.

2. Teori-Teori Tentang Gangguan Berbahasa

Bisu adalah ketidakmampuan seseorang untuk berbicara. Bisu disebabkan oleh gangguan pada organ-organ seperti tenggorokan, pita suara, paru-paru, mulut, lidah, dsb. Bisu umumnya diasosiasikan dengan tuli.[8]

Etiologi dan Patogenesis Gangguan Bicara dan Bahasa pada Anak. Penyebab kelainan berbicara dan bahasa bisa bermacam-macam yang melibatkan berbagai faktor yang dapat saling mempengaruhi, antara lain kondisi lingkungan, pendengaran, kognitif, fungsi saraf, emosi psikologis, dan lain sebagainya.[9]

Gangguan bicara dan bahasa pada anak dapat disebabkan oleh kelainan berikut :

1. Lingkungan sosial dan emosional anak.

Interaksi antar personal merupakan dasar dari semua komunikasi dan perkembangan bahasa. Lingkungan yang tidak mendukung akan menyebabkan gangguan bicara dan bahasa pada anak, termasuk lingkungan keluarga. Misalnya, gagap dapat disebabkan oleh kekhawatiran dan perhatian orang tua yang berlebihan pada saat anak mulai belajar bicara, tekanan emosi pada usia yang sangat muda sekali, dan dapat juga sebagai suatu respon terhadap konflik dan rasa takut.

2. Sistem masukan / input.

Gangguan pada sistem pendengaran, penglihatan, dan defisit taktilkinestetik dapat menyebabkan gangguan bicara dan bahasa pada anak. Dalam perkembangan bicara, pendengaran merupakan alat yang sangat penting. Anak seharusnya sudah dapat mengenali bunyibunyian sebelum belajar bicara. Anak dengan otitis media kronis dengan penurunan daya pendengaran akan mengalami keterlambatan kemampuan menerima atau mengungkapkan bahasa.

Gangguan bahasa juga terdapat pada tuli karena kelainan genetik dan metabolik (tuli primer), tuli neurosensorial (infeksi intrauterin : TORCH), tuli konduksi seperti akibat malformasi telinga luar, tuli sentral (sama sekali tidak dapat mendengar), tuli persepsi/afasia sensorik (terjadi kegagalan integrasi arti bicara yang didengarmenjadi suatu pengertian yang menyeluruh), dan tuli psikis seperti pada skizofrenia, autisme infantil, keadaan cemas dan reaksi psikologis lainnya.

Anak dengan gangguan penglihatan yang berat, akan terganggu pola bahasanya. Pada anak dengan defisit taktilkinestetik akan terjadi gangguan artikulasi, misalnya pada anak dengan. anomali alat bicara perifer, seperti pada labioskizis, palatoskizis dan kelainan bentuk rahang, bisa didapati gangguan bicara berupa disartria.

3. Sistem pusat bicara dan bahasa.

Kelainan pada susunan saraf pusat akan mempengaruhi pemahaman, interpretasi, formulasi, dan perencanaan bahasa, juga aktivitas dan kemampuan intelektual dari anak. Dalam hal ini, terdapat defisit kemampuan otak untuk memproses informasi yang komplek secara cepat. Kerusakan area Wernicke pada hemisfer dominan girus temporalis superior seseorang akan menyebabkan hilangnya seluruh fungsi intelektual yang berhubungan dengan bahasa atau simbol verbal, yang disebut dengan afasia Wernicke.

Penatalaksanaan Gangguan Bicara dan Bahasa menurut Blager Masalah Penatalaksanaan Rujukan

1. Lingkungan

a. Sosial ekonomi kurang

b. Tekanan keluarga

c. Keluarga bisu

d. Dirumah menggunakan bahasa bilingual

e. Meningkatkan stimulasi

f. Mengurangi tekanan

g. Meningkatkan stimulasi

h. Menyederhankan masukan bahasa

i. Kelompok BKB (Bina Keluarga dan Balita) atau kelompok bermain

j. Konseling keluarga

k. Kelompok BKB/bermain

l. Ahli terapi wicara

2. Emosi

a. Ibu yang tertekan

b. Gangguan serius pada keluarga

c. Gangguan serius pada anak

d. Meningkatkan stimulasi

e. Menstabilkan lingkungan emosi

f. Meningkatkan status emosi anak

g. Konseling, kelompok BKB/bermain

h. Psikoterapis

3. Masalah Pendengaran

a. Kongenital

b. Didapat

c. Monitor dan obati kalau memungkinkan

d. Monitor dan obati kalau memungkinkan

e. Audiologis/ahli THT

f. Audiologis/ahli THT

4. Perkembangan Lambat

a. Dibawah ratarata

b. Perkembangan terlambat

c. Retardasi Mental

d. Tingkatkan stimulasi

e. Tingkatkan stimulasi

f. Maksimalkan potensi

g. Ahli terapi wicara

h. Ahli terapi wicara

i. Program khusus

5. Cacat bawaan

a. Palatoschizis

b. Sindrom Down

c. Monitor dan dioperasi

d. Monitor dan stimulasi

e. Ahli terapi wicara setelah operasi

f. Rujuk ke ahli terapi wicara, monitor pendengarannya

6. Kerusakan otak

a. Palsi serebral Mengoptimalkan

b. Kemampuan fisik

c. Kognitif dan bicara anak

d. Rujuk ke ahli

e. Rehabilitasi, ahli terapi

f. wicara

Anak tidak hanya membutuhkan stimulasi untuk aktifitas fisiknya, tetapi juga untuk meningkatkan kemampuan bahasa.bila anak mengalami deprivasi yang berat terhadap kesempatan untuk mendapatkan pengalaman tersebut, maka akibatnya perkembangannya mengalami hambatan.[10]

Beberapa cara menstimulasi anak diantaranya :

1. Berbicara

Setiap hari bicara dengan bayi sesering mungkin. Gunakan setiap kesempatan seperti waktu memandikan bayi, mengenakan pakaiannya, memberi makan dan lain-lain. Anak tidak pernah terlalu muda untuk diajak bicara.

2. Mengenali berbagai suara

Ajak anak mendengarkan berbagai suara seperti musik, radio, televisi. Juga buatlah suara dari kerincingan, mainan, kemudian perhatikan bagaimana reaksi anak terhadap suara yang berlainan.

3. Menunjuk dan menyebutkan nama gambargambar

Ajak anak melihat gambargambar, kemudian gambar ditunjuk dan namanya disebutkan, usahakan anak mengulangi katakata, lakukan setiap hari. Bila anak sudah bisa menyebutan nama gambar, kemudian dilatih untuk bercerita tentang gambar tersebut.

4. Mengerjakan perintah sederhana

Mulai memberikan perintah kepada anak misal “letakkan gelas di meja”. Kalau perlu tunjukkan kepada anak cara mengerjakan perintah tadi, gunakan kata-kata yang sederhana.

Dalam hal kebisuan dapat dibedakan dalam tiga macam penderita [11]:

1) Orang yang bisu karena kerusakan atau kelainan alat artikulasi, sehingga dia tidak bisa memproduksi ujaran bahasa, tetapi alat dngarnya normal sehingga dia dapat mendengar suara-bahasa orang lain.

Pasien golongan ini, yang alat artikulasinya rusak atau mengalami kelainan, sedangkan alat dengarnya normal, masih akan dapat berkomunikasi. Hanya, jika diajak bertutur dia akan menjawab atau bertanya dalam bahasa isyarat, atau dalam bahasa tulis (jika dia sudah belajar menulis).

2) Orang yang bisu karena kerusakan atau kelainan alat artikulasi dan alat pendengarannya, sehingga dia tidak bisamemproduksi ujaran-bahasa dan tidak bisa mendengar ujaran-bahasa orang lain.

Pada pasien ini yang mengalami bisu dan tuli kaena alt artikulasi dan pendengarannya rusak, kalau fungsi hemisfer otak yang dominannya normal, masih akan dapat berkomunikasi dengan bahasa isyarat atau dengan bahasa "membaca bibir". Untuk dapat berkomunikasiitu tentunya mereka memerlukan pendidikan dan pelatihan khusus yang memakan banyak waktu.

3) Orang bisu yang sebenarnya alat artikulasinya normal tidakada kelainan, tetapi alat pendengarannya rusak atau ada kelainan. Orang golongan ini menjadi bidu karena tidak pernah mendengar ujaran-bahasa orang lain, sehingga dia tidak bisa menirukan ujaran-bahasa itu.

Pasien golongan ini yangmenjadi bisu karena kerusakan atau kelainan alat dengarnya, kalau fungsi hemisfer otak yang dominannya normal, masihbisa dilatih untuk memproduksi ujaran-bahasa secara tidak sempurna karena dia tidak bisa mendengar suara ujaran bahasa itu. Pelatihan dilakukan dengan cara dia disuruh memperhatikan, memengan, dan merasakan "gerak mulut" pelatih bicara. Ini pun memerlukan waktu yang cukup lama.

3. Analisis penulis

Dari hasil observasi maupun teori yang menjelaskan tentang tuna rungu (bisu). Dapat pemakalah simpulkan bahwa mekanisme berbicara adalah suatu proses produksi ucapan (perkataan) oleh kegiatan terpadu dari pita suara, lidah, otak-otok yang membentuk rongga mulut serta kerongkongan dan paru-paru.[12] Pada kasus Asni ini, dia mengalami kebisuan sejak berumur tiga tahun yang disebabkan karna demam panas yang terlalu tinggi sehingga menyebabkan dia tidak bisa berbicara lagi. Dan kebisuannya tidak bawaan sejak lahir. Kita mengetahui pula bahwa anak bisu yang bukan bawaan sejak lahir secara tidak langsungbisa disembuhkan yaitu dengan memberikan terapi dan stimulus bahasa secara terus menerus sehingga dia terbiasa mendengar dan bisa pula mengucapkan apa yang telah dia dengar. Tapi, padakeadan Asni ini yang mengasuhnya juga orang bisu yaitu kakak kandungnya sendiri.

Dari teori yang saya dapatkan, faktor lingkungan juga emberi pengaruh terhadap kemampuan berbica anak. Sedangkan lingkungan Asni ini mendukung dia untuk tidak bisa berbicara, karena yang didengarnya hanya perkataan kakaknya yang bisu, bukan perkataan orang yang berbicara lancar atau bunyi-bunyi lain yang akan merangsang dia untuk berbicara. Kenapa kakaknya yang mengasuhnya karena disebabkan orang tuanya yang setiap hari sibuk bekerja di sawah untuk mencari nafkah.

Jadi, pendapat saya disini selain anak itu mempunyai kemampuan atau potensi untuk berbicara dan lingkungan pun lebih mendominisa terhadap keberhasilan anak untuk berbicara. Kenapa saya perpendapt seperti ini, karena dari hasil observasi yang saya dapatkan di lapangang. Pada kasus ini, Asni ini bisu tidak bawaan sejak lahir tapi disebabkan demam yang terlalu panas dan lingkungan juga yang tidak mendukungnya untuk pandai berbicara, padahal alat artikulasinya tidak mempunyai kerusakan ataupun kelainan.

PENUTUP

A. Kesimpulan

Dari urain diatas yang menjelaskan tentang panjang lebar kebisuan yang dialami oleh anak sehinga menyebabkan dia tidak bisa untuk berbicara.

Bisu adalah ketidakmampuan seseorang untuk berbicara. Bisu disebabkan oleh gangguan pada organ-organ seperti tenggorokan, pita suara, paru-paru, mulut, lidah, dsb. Bisu umumnya diasosiasikan dengan tuli. Dan faktor-faktor yang menyebabkan kebisuan itu sendiri yaitu :

1. Lingkungan sosial dan emosional anak.

2. Sistem masukan / input.

3. Sistem pusat bicara dan bahasa

Dan kita tahu bahwa lingkunagn sangat mendominasi terhadap keberhasilan anak dalam berbicara. Pada kasus di atas, Asni ini bisu tidak bawaan sejak lahir tapi disebabkan demam yang terlalu panas dan lingkungan juga yang tidak mendukungnya untuk pandai berbicara, padahal alat artikulasinya tidak mempunyai kerusakan ataupun kelainan.

B. Saran

Semoga dengan uraian di atas dapat menambah wawasan pemahaman kita semua terhadap faktor-faktor yang menyebakan kebisuan seorang anak. Baik dari dalam diri anak itu sendiri yang mempunyai kelainan tapi lingkungan juga memberikan pengaruh yang begitu besar pula, dalam pemerolehan dan pembelajaran bahasa.

DAFTAR PUSTAKA

Chaer, Abdul. 2003. Psikolinguistik Kajian Teoritik. Jakarta: PT. Rineka Cipta

http://www.dokteranakku.com/content//Buku%20gangguan%20bicara%20dan%2 0bahasa.pdf Diakses tgl 21/05/2010

http://id.wikipedia.org/wiki/Bisu Diakses tgl 21/05/2010



[2] Ibid.

[3]Ibid.

[4] Ibid.

[5]Ibid.

[6] Ibid

[7] Ibid

[8]http://id.wikipedia.org/wiki/Bisu Diakses tgl 21/05/2010

[9] Ibid

[10] Ibid

[11]Abdul, Chaer. 2003. Psikolinguistik Kajian Teoritik. Jakarta: PT. Rineka Cipta. h. 152-152

[12] Ibid

Labels: edit post