TUGAS MANDIRI

MANAGEMEN KELAS

Diajukan sebagai tugas akhir pada mata kuliah managemen kelas

Oleh :

IDRIS

NIM: 08 105 016

PROGRAM STUDI TADRIS MATEMATIKA JURUSAN TARBIYAH

SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM NEGERI (STAIN )

BATUSANGKAR

2010


Differensiasi individu sebagai dasar pengelolaan kelas

1. Pengertian

Bebera pendapat para ahli tentang diferensiasi individu.

1) Philip R.E Verson, perbedaan individu adalah perbedaan-perbedaan dalam kesiapan belajar.

2) Sunarto dan agung hartono, didalam bukunya perkembangan peserta didik menjelaskan bahwa perbedan individu sebagai berikut setiap orang, apakah ia seorang anak atau seorang dewas, dan sifat individu adalah sifat yang berkaitan dengan orang perorangan atau berkaitan dengan perbedaan individu perorangan.

Dan dapat disimpul kan bahwa Differennsiasi individu adalah adanya perbedaan antara satu individu dengan individu lainya baik perbedaan fisik maupun psikologis. Jadi hal ini artinya disini adalah setiap orang itu memiliki perbedaan satu sama lain, tentu perbedaan ini disebabkan oleh beberapa factor.

2. Factor-faktor terjadinya perbedaan individu

Setiap orang memiliki perbedaan satu sama lain yang dilatarbelakangi oleh factor yang berbeda-beda sehingga menimbulkan perbedaan antar individu. Beberapa perbedaan yang sangat normal, sehingga tidak memerlukan penyelesaian dengan program khusus. Disisi lain individu satu anak ada yang memerlukan perhatian khusus dengan cara tertentu. Adapun factor yang mempengaruhi perbedaan individu ini sebagai berikut :

1) Perbedaan Intelektual, yaitu perbedaan berdasarkan IQ seorang individu dengan individu lainnya. Yang mana ada individu yang memiliki IQ dibawah rata-rata, sedang dan tinggi.

2) Bakat, merupakan suatu kemampuan diri seseorang yang lebih menonjol.

3) Keadaan jasmani, ini setiap individu memiliki kondisi atau keadaan fisik yang berbeda, ada yang kuat n ada yang lemah. Ini sangat berpengaruh terhadap aktivitas yang dilakukannya

4) Penyusuian social dan emosional

5) Lingkungan keluarga yang berbeda

6) Latar belakang budaya

7) Factor pendidikan.

Pendapat beberapah alhli yang sepakat bahwa dasarnya kergaman dalam kecakapan dan kepribadian dapat dipengaruhi oleh tiga factor :

a) Hereditas(pembawaan)

Merupakan sifat dari bawaan berdasarkan keturunan yang bersifat kodrat, misalnya fisik, kecakapan,dll. Ini di pengaruhi oleh seberapa besar kualitas gen yang diturunkan oleh orang tua individu tersebut.

b) Environment

Dipengaruhi oleh lingkungan tempat dimana individu berinteraksi dalam keluarga dan masyarat. Baik lingkungan fisik maupun sosio-psikologis, juga termasuk pelajar.

c) Maturity(kematangan)

Ini mengacu pada fase-fase perkembangan yang di alami individu dari bayi hingga tua, diman banyak terjadi perubahan-perubahan perkembangan bentuk tubuh n pola berfikir seorang individu.

3. Strategi bimbingan terhadap peserta didik

a. Strategi untuk Peserta didik yang lambat

· pemberian informasi tentang cara-cara belajar yang efektif, baik cara belajar di sekolah maupun dirumah.

· Bantuan penempatan yaitu menempatka peserta didik dalam kelompok-kelompok kegiatan yang sesuai, seperti kelompok belajar, keelompok diskusi, dan kelompok kerja. Dan ini juga berfungsi sebagai perbaikan tentang masalahkesulitan social yang dialami peserta didik.

· Mengadakan pertemuan dengan orang tua untuk melakukan konsultasi mendiskusikan kesulitan-kesulitan peserta didik serta mencari cara pemecahannya. Terutama yang terkait dengan cara memotivasi siswa giat belajar, dan cara-cara melayani/memperlakukan peserta didik dirumah.

· Memberikan pembelajaran remidi (remedial teaching), yaitu mengadakan pembelajaran kembali atau pembelajaran ulang secara khusus bagi peserta didik yang lamban.

· Menyajikan pembelajaran seecara konkrit dan actual kepada siswa yang lamban yaitu dengan mengunakan media yang bervariasi dan metode pembelajaran yang bervariasi, untuk membantu/mempermudah siswa memahami konsep-konsep pembelajaran.

· Memberikan layanan konseling bagi peserta didik yang menghadapi kesulitan-kesulitan emosional serta hambatan-hambatan lainnya.

b. Strategi untuk peserta didik yang cepat

· Usaha percepatan (akselarasi), anak cerdaas diberi kesempatan untuk menyelesaikan suatu program pendidikan dalam jangkawaktu yang lebih singkat berbeda dengan yang seharusnya dilakukan

· Menyediakan sekolah khusus yang menampung anak-anak cerdas atau berkualitas tinggi agar mereka dapat mengembangkan potensi yang dimilikinya tampa banyak rintangan.

· Menyalurkan kemampuan peserta didik dalam kegiatan ilmiah, mengikut sertakan dalam lomba karya ilmiah.

· Melibatkan dan memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk mengikuti kegiatan-kegiatan yang bersifat social.

Jenis-jenis kecerdasan ganda dan pengembangannya pada siswa

Prof. Howard Gardner, seorang ahli psikologi kognitif dari universitas Harvard, meneliti tentang kecerdasan manusia. Ia menemukan bahwa setiap orang memiliki beberapa kecerdasan, tidak hanya satu kecerdasan. Ia menyebutnya dengan kecerdasan ganda atau intelegensi ganda, multiple intellegensi. Kecerdasan ganda adalah kemampuan untuk memecahkan masalah atau menciptakan suatu poroduk yang bernilai dalam satu latar belakang budaya tertentu.

Ada delapan jenis intelegensi yang dikemukakan oleh Howard Gardner, antara lain yaitu:

1. Intelegensi Bahasa (Linguistik), Intelegensi Bahasa mencakup kemempuan-kemampuan berpikir dengan kata-kata, seperti kemampuan untuk memahami dan merangkai kata dan kalimat baik lisan maupun tertulis.

2. Intelegensi Logis-Matematis, Adalah kemampuan berpikir dalam penalaran atau menghitung, seperti kemampuan menelaah masalah secara logis, ilmiah, dan matematis.

3. Intelegensi Visual special, Yaitu kemempuan berpikir dalam citra dan gambar, seperti kemampuan membayangkan bentuk suatu objek.

4. Intelegansi Musikal, Adalah kemampuan berpikir dengan nada, irama, dan melodi, juga pada suara alam.

5. Intelegansi Kinestetik Tubuh, Yaitu kemampuan yang berhubungan dengan gerakan tubuh termasuk gerakan motorik otak yang mengendalikan tubuh seperti kemampuan untuk mengendalikan dan menggunakan badan dengan mudah dan cekatan.

6. Intelegensi Intrapersonal, Adalah kemampuan berpikir untuk memahami diri sendiri, melakukan fefleksi diri dan bermetakognisi.

7. Intelegensi Interpersonal (Sosial), Adalah kemampuan berkomunikasi dan berinteraksi dengan orang lain.

8. Intelegensi Naturalis, Adalah kemampuan untuk memahami gejala alam.

Cara meningkatkan/mengembangkan kecerdasan tersebut adalah :

1. Mengaktifkan seluruh indra anak didik, Begitu besarnya potensi yang dimiliki oleh indra manusia sehingga dimanfaatkan seoptimal mungkin. Dengan melatih indra-indra anak didik dalam setiap kegiatan pembelajran maka anak didik akan peka terhadap stimulus-stimulus yang dapat merangsang indranyaMelatih intelegensi/kecerdasan yang berimbang

2. Melatih intelegensi/kecerdasan yang berimbang

Langkah-langkah yang harus dilakukan didalam melatih kecerdasan yang berimabang adalah sebagai berikut:

a. Mengidentifikasi intelegensi anak didik, Caranya adalah sebelum memulai pelajaran guru dapat memberikan tes atau angket kepada siswanya untuk menjajagi intelegensi mereka, pertanyaan-pertanyaan itu dibaca dan diisi sendiri oleh siswa kemudian guru mengolahnya.

b. Menyusun rencana pelajaran yang dapat mengembangkan beberapa kecerdasan

c. Melaksanakan pembelajaran yang dapat mengembangkan seluruh intelegensi/ kecerdasan anak didik.

3. Melatih silang intelegensi/kecerdasan yang berbeda

Yang dimaksud dengan ”silang” disini adalah setiap intelegensi/kecerdasan anak didik tidak dikembangkan secara bersamaan, tetapi dikembangkan satu per satu secara terpisah. Tujuannya adalah agar anak didik dapat mengasah setiap bagian kecerdasannya selama waktu tertentu.


Guru Dalam Pengelolaan Kelas

1. Tugas Guru

Tugas adalah segala sesuatu yang harus dilaksanakan yang merupakan tanggung jawab seseorang. Guru merupakan profesi/jabatan atau pekerjaan yang memerlukan keahlian khusus sebagai guru. Adapun tugas guru dalam pengelolaan kelas adalah:

a. Tugas guru sebagai profesi meliputi mendidik, mengajar, dan melatih. Mendidik berarti meneruskan dan mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi. Sedangkan melatih berarti mengembangkan keterampilan-keterampilan pada siswa

b. Tugas guru dalam bidang kemanusiaan di sekolah, dapat menjadikan dirinya sebagai orang tua kedua. Ia harus mampu menarik simpati sehingga ia menjadi idola para siswa. Pelajaran apapun yang diberikan hendaknya dapat menjadi motivasi bagi siswanya dalam belajar. Bila seorang guru dalam penampilannya sudah tidak menarik, maka kegagalan yang pertama adalah ia tidak akan dapat menanamkan benih pengajarannya itu kepada para siswanya. Para siswa akan enggan menghadapi guru yang tidak menarik

c. Guru dalam kemasyarakatan yaitu bisa memberikan ilmu pengetahuan, sehingga guru berkewajiban mencerdaskan bangsa menuju pembentukan manusia seutuhnya dan bagaimana seorang guru itu tidak hanya menjalin hubungan baik antar sesame guru dan murid si sekolah tetapi juga menjalin hubungan baik dengan masyarakat. Sehingga masyarakat tahu akan tugas dan peran guru dalam masyarakat sekalipun.

Selain itu guru juga harus mengetahui kondisi memahami siswa, artinya adalah bagaimana seeorang guru itu harus bias mengetahui bagaimana siswa yang sdg mengalami masalah. Tugas kita sebagai seorang guru harus bisa membantu siswa teersebut untuk memecahkan masalah yang dihadapinya dengan memakai ilmu psikolaogi, prinsip, metode dan asas konseling. Jadi seorang guru itu harus bisa menjadi konselor bagi siswanya. Bagaimana siswa itu lepas atau terbantu dari masalah yang dihadapinya dan mengembalikan gairahnya untuk belajar dan lebih di motivasi lagi agar semangat belajarnya kembali seperti semula bahkan lebih.

2. Peranan Guru

Peranan adalah terciptanya serangkaian tingkah laku yang saling berkaitan yang dilakukan dalam suatu situasi tertentu serta berhubungan dengan kemajuan perubahan tingkah laku dan perkembangan siswa yang menjadi tujuannya.

Peran guru sebagai model atau contoh bagi anak. Setiap anak mengharapkan guru mereka dapat menjadi contoh atau model baginya. Oleh karena itu tingkah laku pendidik baik guru, orang tua atau tokoh-tokoh masyarakat harus sesuai dengan norma-norma yang dianut oleh masyarakat, bangsa dan negara. Karena nilai nilai dasar negara dan bangsa Indonesia adalah Pancasila, maka tingkah laku pendidik harus selalu diresapi oleh nilai-nilai Pancasila.

Banyak peranan yang diperlukan dari guru sebagai pendidik, atau siapa saja yang telah menerjunkan diri menjadi guru,. Semua peranan yang diharapkan dari guru seperti di uraikan di bawah ini:

a. Korektor, guru harus bisa membedakan mana nilai yang baik dan nilai yang buruk.

b. Inspiratorr, guru harus dapat memberikan ilham yang baik bagi kemajuan belajar anak didik. Persoalan belajar adalah masalah utama anak didik.

c. Informator, guru harus dapat memberikan informasi perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, selain sejumlah bahan pelajaran untuk setiap mata pelajaran yang telah diprogramkan dalam kurikulum.

d. Organistor, adalah sisi lain dari peranan yang diperlukan dari guru, dalam bidang ini, guru memiliki kegiatan pengelolaan kegiatan akademik, menyusun tata tertib sekolah, menyusun kelender akademik, dan sebaginya. Semuanya di organisasikan, sehingga mencapai efektivitas dan efisiensi dalam belajar pada diri anak didik

e. Motivator, guru hendaknya dapat mendorong anak didik agar bergairah dan aktif belajar

f. Inisiator, guru harus dapat menjadi pencetus ide-ide kemajuan dalam pendidikan dan pengajaran

g. Fasilitator, guru hendaknya dapat menyediakan fasilitas yang memungkinkan kemudahan kegiatan belajar anak didik

h. Pembimbing, kehadiran guru di sekolah adalah untuk membimbing anak didik menjadi manusia yang dewasa

i. Demonstrator, Untuk bahan pelajaran yang sukar dipahami anak didik, guru harus berusaha dengan membantunya

j. Pengelola kelas, guru hendaknya dapat mengelola kelas dengan baik, karena kelas adalah tempat berhimpun semua anak didik dan murid dalam rangka menerima bahan pelajaran dari guru

k. Mediator, guru hendaknya memiliki pengetahuan dan pemahaman yang cukup tentang media pendidikan dalam berbagai bentuk dan jenisnya

l. Supervisor, guru hendaknya dapat membantu, memperbaiki, dan menilai secara kritis terhadap proses pengajaran

m. Evaluator, guru dituntut menjadi seorang evaluator yang baik dan jujur, dengan memberikan penilaian yang menyentuh aspek ekstrinsik dan instrinsik.

Wright (1987) sebagaimana dikutip oleh Robiah Sidin, dalam bukunya bertajuk “Classroom Management “ (1993:8), menyatakan bahwa guru memiliki dua peran utama, yaitu :

1. The Management role atau peran manajemen, yaitu mengetahui latar belakang siswa, sosial, ekonomi dan intelektual aka memiliki pengetauan, terampilan, dan profesional; bertanggung jawab; disiplin, dan produktif; menghargai dan kasih sayang terhadap siswa; memiliki nilai-nilai moral, prinsip kemanusiaan dalam semua langkahnya; Memiliki sikap inovatif, kreatif, dan memahami perbedaan dan individualitas di kalangan siswa; menjadi contoh model bagi siswa, apa yang dikatakan itulah yang dilakukan; menghargai dan peduli terhadap lingkungan serta memahami perkembangan dan penerapan iptek dalam kehidupan modern; Mengetahui perbedaan individu siswa, potensi dan kelemahan siswa, termasuk gaya pebelajaran mereka.

2. The Instructional Role atau peran instruksional. Di samping itu guru juga berfungsi sebagai:

1) pembimbing siswa dalam memecahkan kesulitan dalam pembelajaran,

2) sebagai sumber yang dapat membantu memecahkan dan menjawab pertanyaan-pertanyaan siswa atau untuk menemukan jawaban atau memperoleh informasi lanjutan,

3) penilai hasil belajar, untuk menentukan perkembangan hasil belajara siswa, serta untuk menentukan nilai siswa (Suparlan, 2006: 39-40).

Dari uraian diatas, saya berpendapat bahwa salah satu dari sekian banyak dampak ketika tidak terlaksananya tugas dan peran guru secara maksimal misalnya, tidak terbinanya akhlak dan moral siswa. Beberapa kebiasaan buruk siswa seperti tidak berlaku disiplin dari berbagai peraturan yang telah disepakati bersama, malas, kurang berlaku sopan dan sebagainya, hal itu berarti tugas guru sebagai pendidik belum maksimal. Tugas mengajar mungkin sudah terlaksana dengan baik, tapi tugas mendidik? Karena itu, beberapa peran dan tugas guru di atas merupakan sebuah keharusan untuk diimplementasikan walaupun memerlukan pemikiran dan pengorbanan yang lebih banyak. Dengan cara ini barangkali barulah guru dapat dikatakan sebagai sebuah profesi, dimana guru mampu memberikan solusi terbaik dari berbagai masalah yang dialami kliennya.

Hubungannya dengan sertifikasi guru, yaitu dengan adanya peningkatan kualitas dan kesejahteraan guru maka beberapa peran dan tugas guru yang telah diuraikan di atas kemungkinan dapat diimplementasikan. Dulu, salah satu alasan guru tidak mampu melaksanakan peran dan tugasnya secara masimal karena persoalan kurangnya pendapatan/gaji. Maka dengan kebijakan baru pemerintah yakni sertifikasi guru, maka harapan kita ke depan guru mau dan mampu memaksimalkan peran dan tugasnya.

Sikap /prilaku Guru (Gaya Kepemimpinan Guru)

Menurut Muhibbin Syah (2006:253) dengan menambahkan satu lagi gaya kepemimpinan guru menurut Barlow (1985) yaitu otoriatif maka gaya kepemimpinan guru dalam proses belajar mengajar ada empat macam yaitu:

1. otoriter (authoritarian), secara harfiah, otoriter berarti berkuasa sendiri atau sewenang-wenang.

Dalam PBM, guru yang otoriter selalu mengarahkan dengan keras segala aktivitas para siswa tanpa dapat ditawar-tawar. Hanya sedikit sekali kesempatan yang diberikan kepada siswa untuk berperan serta memutuskan cara terbaik untuk kepentingan belajar mereka. Memang diakui kebanyakan guru yang otoriter dapat menyelesaikan tugas keguruannya secara baik, dalam arti sesuai dengan rencana,. Namun guru semacam ini sangat sering menimbulkan kemarahan dan kekesalan para siswa khususnya siswa pria, bukan saja karena wataknya yang agresif tetapi juga kreativitasnya terhambat.

2. laissez faire, guru laissez faire, padanya adalah individualisme (faham yang menghendaki kebebasan pribadi).

Guru yang berwatak ini biasanya gemar mengubah arah dan cara pengelolaan PBM secara seenaknya, ia tidak menyenangi profesinya sebagai tenaga pendidik meskipun mungkin memiliki kemampuan yang memadai.

3. Demkratis (Democratic). Artinya demokratis adalah bersifat demokrasi, yang pada intinya mengandung makna memperhatikan persamaan hak dan kewajiban semua orang.

Guru yang memiliki sifat ini pada umumnya dipandang sebagai guru yang paling baik dan ideal. Alasannya, dibanding dengan guru-guru lainnya guru yang demokratis lebih suka kerja sama dengan rekan-rekan seprofesinya. Namun tetap menyelesaikan tugasnya secara mandiri. Ditinjau dari sudut hasil pengajaran, guru yang demokratis dengan otoriter tidak jauh berbeda. Akan , dari sudut moral, guru yang demokratis ternyata lebih dan karenanya ia lebih disenangi baik oleh rekan-rekan sejawatnya maupun oleh siswanya sendiri.

4. Otoritatif (authoritative), otoritatif berarti berwibawa karenan adanya kewenangan baik berdasarkan kemampuan maupun kekuasaan yang diberikan.

Guru yang otoritatif adalah guru yang memiliki dasar-dasar pengetahuan baik pengetahuan bidang studi vaknya (jurusan) maupun pengetahuan umum. Guru seperti ini biasanya ditandai oleh kemampuan memerintah secara baik efektif kepada para siswa dan kesenangan mengajak kerjasama bila diperlukan dalam mengiktiarkan cara terbaik untuk menyelenggarakan PBM. Dalam hal ini, ia hampir sama dengan guru yang demokratis. Namun, dalam hal memerintah atau memberi anjuran, guru yang otoritatif pada umumnya lebih efektif, karena lebih disenangi oleh para siswa, dan di pandang sebagai pemegang otoritas ilmu pengetahuan vaknya (jurusan) seperti yang telah diuraikan di muka.

Kemampuan Guru Dalam Pengelolaan Kelas

Kemampuan merupakan salah satu hal yang sangat penting dikuasai oleh guru. Oleh karena itu, seorang guru harus memiliki beberapa kemampuan seperti:

1. Menguasai materi pembelajaran dan kemampuan untuk memilih, menata, dan mengemas materi pelajaran ke dalam cakupan dan kedalaman yang sesuai dengan sasaran kurikuler yang mudah dicerna oleh siswa

2. Memiliki penguasaan tentang teori dan keterampilan mengajar

Memiliki pengetahuan tentang masa pertumbuhan dan perkembangan siswa serta memiliki memahami tentang bagaimana siswa belajar

Membuat Instrument untuk Mengukur Kemampuan Guru

Untuk mengetahui kemampuanseorang guru, dapat digunakan instrument berupa angket yang berisi pertanyaan-pertanyaan mengenai kompetensi yang dimiliki oleh guru yang bersangkutan.

Angket diberikan langsung kepada siswa yang memang secara langsung berinteraksi dengan guru tersebut dalam kurun waktu yang sudah lama, misal angket yang digunakan untuk sertifikasi guru.

Contoh angket:

a. Apakah guru dalam mengajar pernah menggunakan media?

b. Bagaimana penampilan guru ketika masuk sekolah?

c. Metode apa yangdigunakan guru dalam mengajar?


MASALAH-MASALAH DALAM PENGELOLAAN KELAS

1. Masalah Dalam Pengelolaan Kelas

Faktor –faktor Penyebab Masalah Pengelolaan Kelas. Menurut Made Pirate,faktor penyebab itu antara lain:

a)Pengelompokan (pandai,sedang,bodoh),kelompok bodoh akan menjadi sumber negative,penolakan,atau apatis.

Pendapat saya dalam pengelompokan siswa secara heterogen disini, memang dari sisi negatifnya akan berdampak pada siswa yang tingkat kecerdasanya tinggi, karena dalam kelompoknya ada siswa yang tinggkat kecerdasanya lemah. Nanti yang akan mempengaruhi siswa yang pandai. Dan dampaknya siswa yang pandai, kreatifitasnya terhalang dan tidak dapat menembangkan pengetahuannya.

Kalau kita tinjau dari sisi positifnya, ini sangat bermanfaat sekali bagi guru dan siswa, karena siswa yang kurang pandai bisa dipengaruhi oleh siswa yang pandai dan akan memotivasi siswa yang kurang pandai tadi untuk belajar, terkadang ada juga siswa yang lebih mudah memahami materi jika yang menjelaskan itu dari temannya. Dan guru juga sangat terbantu dalam menyampaikan materi dan tujuaan pembelajaran dengan membagi siswa dalam bentuk kelompok yang heterogen.

b) Karakteristik individual,seperti kemampuan kurang, ketidakpuasan atau dari latar belakang ekonomi rendah yang menghalangi kemampuannya.

c)Kelompok pandai merasa terhalang oleh teman-temannya yang tidak seperti dia. Kelompok ini sering menolak standar yang diberikan oleh guru. Sering juga kelompok ini membentuk norma sendiri yang tidak sesuai dengan harapan sekolah.

d) Dalam latihan diharapkan semua anak didik tenang dan bekerja sepanjang jam pelajaran, kalau ada instrupsi atau interaksi mungkin mereka merasa tegang atau cemas. Karena itu perilaku-perilaku menyimpang seorang dua orang bisa ditoleransi asal tidak merusak kesatuan.

e)Dari organisasi kurikulum tentang tim teaching.

Pollard dalam Hilda Karli mengelompokkan kepribadian siswa dalam 5 kelompok besar:

a)Impulsivity/Reflekxivity. Gambaran impulsivity adalah orang yang tergesa-gesa dalam mengerjakan tugas tanpa berpikir dahulu,sedangkan reflexivity adalah orang yang sangat mempertimbangkan tugas tanpa berkesudahan.

b) Extroversion/Introversion. Gambaran extroversion adalah orang yang ramah,terbuka,bahkan kadang-kadang tergantung dari perlakuan teman-teman sekelompoknya. Sedangkan introversion adalah orang yang tertutup dan sangat pribadi,malah kadang-kadang tidak mau bergaul dengan teman-temannya.

c)Anxienty/Adjustment. Gambaran anxienty adalah orang yang merasa kurang dapat bergaul dengan teman,guru atau tidak dapat menyelesaikan permasalahan dengan baik,sedangkan adjustment adalah orang yang merasa dapat bergaul dengan guru,teman atau dapat menyelesaikan masalah dengan baik.

d) Vacillation/Perseverance. Gambaran vacillation adalah oarng yang konsentrasinya rendah sering berubah-rubah,dan cepat menyerah dalam pekerjaan,sedangkan perseverance adalah orang yang mempunyai daya konsentrasi kuat dan terfokus serta pantang menyerah dalam menyelesaiakn pekerjaan.

e)Competitiveness/collaborativeness. Gambaran competitiveness adalah orang yang mengukur prestasinya dengan orang lain dan sukar bekerja sama dengan orang lain,sedangkan collaborativeness adalah orang yang sangat tergantung dengan orang lain dan tidak dapat bekerja sendiri.

Dua kategori pokok tentang pengelolaan masalah siswa,yaitu:

a)Masalah Individu

Kategori masalah individu dalam pengelolaan siswa menurut dreikurs dan cassel di dasarkan pada tingkah laku manusia itu mempunyai maksud dan tujuan. Setiap individu mempunyai kebutuhan pokok untuk menjadi dan merasa berguna. Jika individu ini merasa putus asa dalam mengembangkan rasa memiliki harga diri melalui nilai yang dapat di terima secara social,ia akan berkelakuan buruk.

b) Masalah Kelompok

Jhonson dan Bany mengidentifikasi 7 masalah kelompok dalam pengelolaan kelas,yaitu:

· Kurangnya kesatuan

· Ketidaktaatan terhadap standar tindakan dan prosedur kerja

· Reaksi negative terhadap pribadi anggota

· Pengakuan kelas terhadap kelakuan guru

· Kecendrungan adanya gangguan,kemacetan pekerjaan,dan kelakuan yang di buat-buat

· Ketidakmampuan untuk menyesuaikan diri dengan perubahan lingkungan

· Semangat juang yang rendah dan adanya sikap bermusuhan.

Kurangnya kesatuan,di tandai dengan konflik-konflik antara individu dan sub kelompok. Misalnya, konflik antara jenis kelamin dan atau ras dengan murid dari jenis kelamin atau ras yang lain. Suasana kelas seperti ini ditandai dengan konflik,permusuhan,ketegangan. Murid merasa tidak puas dengan kelompok dan berpendapat kelompok tidak menarik. Akhirnya murid tidak saling mendukung.

2. Mengidentifikasi Masalah

Mengidentifikasikan masalah ini perlu dilakukan dengan langkah-langkah :

1) Merasakan adanya masalah

Merasakan adanya masalah dengan cara bertanya pada diri sendiri (merefleksi) mengenai kualitas pembelajaran yang selama ini di capai. Guru mengangap adanya masalah kalau ada kesenjangan antara yang diharapkan dengan kenyataan yang terjadi.

Contoh pertanyaan adanya masalah

· Apakah kopetensi awal siswa untuk mengikuti pembelajaran cukup memadai?

· Apakah proses pembelajaran yang dilakukan cukup efektif?

· Apakah sarana/prasarana pembelajaran cukup memadai?

· Apakah perolehan pembelajaran cukup tinggi?

· Apakah hasil pembelajaran cukup berkualitas?

· Bagaimana melaksanakan pembelajaran dengan strategi pembelajaran inovasi tertentu?

2) Megidentifikasi masalah

· Masalah-masalah yang dihadapi tersebut dicari ciri masalahnya untuk dicari masalah mana yang layak dipecahkan terlebih dahulu.

· Tahap ini harus menemukan gagasan awal mengenai permasalahan actual yang terkait dengan manajemen kelas, iklim belajar, PBM, sumber belajar, dan perkembangan personal.

Cara mingidentifikasi masalah :

1) Menulis semua halyang terkait dengan pembelajaran yang dirasakan perlu memperolehperhatian untuk menghindari dampak yang tidak diharapkan.

2) Memilah dan mengklasifikasikan masalah sesuai dengan jenisnya dan menggidentifikasi frekuensi timbulnya masalah.

3) Mengurutkan masalah sesuai dengan tingkat urgensinya untuk ditindaklanjuti

4) Peneliti memilih permasalahan yang urgen untuk dipecahkan.

3) Menganalisis masalah

Analisis masalah adalah untuk menentukan urgensi masalahjuga dimaksudkan untuk mengetahui proses tindak lanjut perbaikan atau pemecahan yang dibutuhkan. Analisis disini adalah kajian terhadap permasalahan dilihat dari segi kelayakanya.

Acuan pertanyaan analisis masalah :

a) Bagaimana konteks, situasi atau iklim lokasi masalah itu terjadi?

b) Apalagi kondisi prasyarat untuk terjadinya masalah?

c) Bagaimana keterlibatan masing-masing komponen pembelajaran dalam terjadinya masalah?

d) Bagaimana alternative pemecahan yang dapat diajukan?

e) Bagaimana perkiraan waktu yang diperlukan untuk memecahkan masalah.

4) Memfokuskan masalah

Memfokuskan masalah adalah menentukan pilihan perbaikan yg akan dilakukan dalam proses pembelajaran.

5) Merumuskan masalah

· Deskripsi singkat tentang masalah yang harus dipecahkan dinyatakan dlm bentuk pertanyaan/kalimat tanya atau pernyataan.

· Masalah tersebut dijabarkan dan dirinci secara jelas dan operasional sehingga tampak ruang lingkupnya.


KONSEP DASAR PENGELOLAAN KELAS

1. Pengertian

Manajemen kelas adalah suatu upaya yang dilakukan guru dalam rangka menciptakan, mengkondisikan kelas seoptimal mungkin agar tercipta kelas yang kondusif untuk proses belajar mengajar. Penciptaan suasana kelas yang kondusif guna menunjang proses pembelajaran yang optimal menuntut kemampuan guru untuk mengetahui, memahami, memilih, dan menerapkan pendekatan yang dinilai efektif menciptakan suasana kelas yang kondusif dalam menunjang proses pembelajaran yang optimal. Jadi jelas betapa pentingnya pengelolaan kelas guna menciptakan suasana kelas yang kondusif demi meningkatkan kualitas pembelajaran. Pengelolaan kelas menjadi tugas dan tanggung jawab guru dengan memberdayakan segala potensi yang ada dalam kelas demi kelangsungan proses pembelajaran. Hal ini berarti setiap guru dituntut secara profesional mengelola kelas sehingga tercipta suasana kelas yang kondusif mulai dari awal hingga akhir pembelajaran.

Manajemen kelas merupakan bagian integral pengajaran efektif yang mencegah masalah perilaku melalui perencanaan, pengelolaan, dan penataan kegiatan belajar yang lebih baik, pemberian materi pengajaran yang lebih baik, dan interaksi guru siswa yang lebih baik, membidik pada pengoptimalan keterlibatan dan kerjasama siswa dalam belajar. Teknik kontrol perilaku atau pendisiplinan pada akhirnya akan tidak terlalu efektif karena teknik tersebut tidak mendorong perkembangan disiplin diri atau tanggung jawab anak sendiri atas tindakannya. Nilai-nilai dan ketrampilan sosial harus diajarkan dan dicontohkan oleh guru.

Seorang pendidik atau guru perlu menguasai banyak faktor yang mempengaruhi motivasi, prestasi dan perilaku siswa mereka. Lingkungan fisik di kelas, level kenyamanan emosi yang dialami siswa dan kualitas komunikasi antar guru dan siswa merupakan faktor penting yang bisa memampukan atau menghambat pembelajaran yang optimal. Guru bertanggung jawab untuk berbagai siswa, termasuk mereka dari keluarga yang tidak mampu atau kurang beruntung, siswa yang mungkin harus bekerja setelah sekolah, atau mereka yang berasal dari kelompok minoritas etnis, agama atau bahasa atau mereka dengan berbagai kesulitan atau kecacatan belajar. Tak satupun dari situasi atau faktor ini harus menyebabkan masalah pendidikan, namun anak-anak ini mungkin beresiko mendapatkan pengalaman sekolah yang negatif dan tak bermakna jika guru tidak responsif terhadap kebutuhan dan kemampuan mereka atau mampu menggunakan pengajaran dan strategi kelas yang efektif dan disesuaikan menurut individu.

Guru sebagai pengelola kelas merupakan orang yang mempunyai peranan yang strategis yaitu orang yang merencanakan kegiatan-kegiatan yang akan dilakukan di kelas, orang yang akan mengimplementasikan kegiatan yang direncanakan dengan subjek dan objek siswa, orang menentukan dan mengambil keputusan dengan strategi yang akan digunakan dengan berbagai kegiatan di kelas, dan guru pula yang akan menentukan alternatif solusi untuk mengatasi hambatan dan tantangan yang muncul; maka dengan tiga pendekatan-pendekatan yang dikemukakan, akan sangat membantu guru dalam melaksanakan tugas pekerjaannya.

2. Urgensi Kompetensi Pengelolahan Kelas Bagi Guru Dan Siswa

Pengelolahan kelas sangat penting bagi guru dan siswa, karena dengan pengelolahan kelas yang baik dan terkontrol dengan baik ini sangat berpengaruh terhadap pencapaian tujuan pembelajaran. Jika guru dapat mengelolah kelas dengan baik, makna akan mudah bagi guru dalam memberikan/mentransfer ilmu yang dimiliki seorang guru kepada siswa. Dan siswapun akan merasa sangat nyaman dan mudah menerima ilmu yang yang di sampaikan guru.

Dan jika guru tidak dapat mengelolah kelas dengan baik maka tujuan pembelajaran akan sulit tercapai, dan guru pun akan mendapat kesulitan dalam proses belajar mengajar karena kurang terkontrolnya aktivitas siswa dalam kelas. Jadi seorang guru itu harus memiliki kemampuan untuk mengelolah kelas.

3. Perbedaan konsep pengelolaan kelas dengan pengelolaan pembelajaran

Pengelolahan kelas itu sangat berbeda dengan pengelolahan pembelajaran. Pengelolaan kelas itu merupakan salah satu kompetensi yang harus dimiliki oleh seorang guru, sebab untuk tercapainya tujuan pembelajaran itu, selain dalam menyampaikan materi, guru harus bisa mengelolah kelas sehingga tercipta kelas yang kondusif dan disenangi oleh siswa. Untuk itu dalam pengelolaan kelas ini sangat dituntut upaya guru untuk mengkondisikannya. Sedangkan pengelolaan pembelajaraan itu, juga usaha guru tetapi lebih menekankan pada perencanaan, pelaksanaan, evaluasi dan tindak lanjut dalam pembelajaran. Sehingganya nanti tercapainya tujuan pembelajaran yang sesuai dengan apa yang direncanakan.


MENCIPTAKAN KELAS YANG KONDUSIF

Menata lingkungan fisik kelas yang kondusif

Lingkungan fisik kelas yang baik adalah ruangan kelas yang menarik, efektif dan mendukung siswa dan guru dalam proses pembelajaran. Jadi yang dikatakan dengan menata lingkungan fisik kelas yang kondusif adalah mengatur/menyetting ruangan kelas sehingga dapat memotivasi siswa untuk melaksanakan pembelajaran dengan kondisi yang aman, nyaman dan tentram dalam melaksanakan proses pembelajaran. Jika kelas yang tidak ditata dengan baik maka akan dapat menghalangi baik itu siswa maupun guru dalam dalam pencapaian tujuan pembelajaran. Tujuan utama penataan lingkungan fisik kelas adalah mengarahkan kegiatan siswa dan mencegah munculnya tingkah laku siswa yang tidak diharapkan melalui penataan tempat duduk, perabot, dan barang-barang lainnya yang ada di dalam kelas, sehingga memungkinkan terjadinya interaksi aktif antara siswa dan guru serta antar siswa, dalam kegiatan pembelajaran. Selain itu penataan kelas harus memungkinkan guru dapat memantau semua tingkah laku siswa sehingga dapat dicegah munculnya masalah disiplin. Melalui penataan kelas, diharapkan siswa dapat memusatkan perhatiannya dalam proses pembelajaran dan akan bekerja secara efektif.

Pembelajaran yang efektif dapat bermula dari kondisi kelas yang dapat mendukung, menciptakan suasana belajar yang menggairahkan, untuk itu perlu diperhatikan pengaturan atau penataan ruang kelas dan isinya, selama proses pembelajaran. Dalam menata lingkungan fisik kelas, guru harus mempertimbangkan beberapa hal sebagai berikut:

1. Visibility ( Keleluasaan Pandangan)

Visibility artinya penempatan dan penataan barang-barang di dalam kelas tidak mengganggu pandangan siswa, sehingga siswa secara leluasa dapat memandang guru, benda atau kegiatan yang sedang berlangsung. Begitu pula guru harus dapat memandang semua siswa kegiatan pembelajaran.

2. Accesibility (mudah dicapai)

Penataan ruang harus dapat memudahkan siswa untuk meraih atau mengambil barang-barang yang dibutuhkan selama proses pembelajaran. Selain itu jarak antar tempat duduk harus cukup untuk dilalui oleh siswa sehingga siswa dapat bergerak dengan mudah dan tidak mengganggu siswa lain yang sedang bekerja

3. Fleksibilitas (Keluwesan)

Barang-barang di dalam kelas hendaknya mudah ditata dan dipindahkan yang disesuaikan dengan kegiatan pembelajaran. Seperti penataan tempat duduk yang perlu dirubah jika proses pembelajaran menggunakan metode diskusi, dan kerja kelompok.

4. Kenyamanan

Kenyamanan disini berkenaan dengan temperatur ruangan, cahaya, suara, dan kepadatan kelas.

5. Keindahan

Prinsip keindahan ini berkenaan dengan usaha guru menata ruang kelas yang menyenangkan dan kondusif bagi kegiatan belajar. Ruangan kelas yang indah dan menyenangkan dapat berpengaruh positif pada sikap dan tingkah laku siswa terhadap kegiatan pembelajaran yang dilaksanakan.

Penyusunan dan pengaturan ruang belajar hendaknya memungkinkan anak duduk berkelompok dan memudahkan guru bergerak secara leluasa untuk membantu dan memantau tingkah laku siswa dalam belajar. Dalam pengaturan ruang belajar, hal-hal berikut perlu diperhatikan menurut Conny Semawan,dkk. (udhiezx.wordpress: 3) yaitu:

1. Ukuran dan bentuk kelas

Keuntungan dan kerugian kelas, dilihat dari banyak sedikitnya siswa yaitu:

a. Kelas yang besar

Keuntungannya adalah mudah tercipta kelas yang hidup, siswa belajar dari banyak ragam kawan sehingga mendapatkan banyak pengalaman

Kerugiannya adalah pengelolaannya sukar, banyak ragam kawan, menimbulkan kesulitan jika tidak ada kecocokan

b. Kelas yang kecil

Keuntungannya adalah Mudah pengelolaannya, Sedikit terdapat ketidakcocokan

Kerugiannya adalah Sukar diciptakan kelas yang hidup, Siswa tidak mendapat kesempatan untuk belajar dari banyak ragam kawan

2. Bentuk serta ukuran bangku dan meja

Apabila tempat duduk bagus, tidak terlalu rendah, tidak terlalu besar, tidak berat, bundar, dan sesuai dengan postur tubuh anak didik maka anak didik dapat belajar dengan baik dan tenang. Sudirman mengemukakan beberapa contoh formasi tempat duduk:

a. Posisi berhadapan

b. Posisi setengah lingkaran

c. Posisi berbaris kebelakang

Bentuk serta ukuran dan meja dalam kelas ini juga patut diperhatukan oleh guru/pihak sekolah, karena bentuk serta ukuran dan meja itu harus disesuaikan dengan siswanya, ini untuk kenyamanan siswa dalam belajar. Jika ini tidak diperhatikan akan berdampak negative kepada siswa, contohnya ukuran meja yang terlalu tinggi, shingga siswa sulit untuk menulis yang nantinya berakibat pada tulang siswa.

3. Jumlah siswa dalam kelas

Pelaksanaan belajar mengajar dapat efektif, sebuah kelas terdiri dari antara 30 sampai 40 orang siswa. Dengan jumlah yang sesuai dengan kapasitas maka dapat menimbulkan suasana kelas yang diinginkan. Karna jika siswa terlalu banyak (lebih dari 40 orang dalam satu kelas) ini berakibat siswa akat kesulitan dalam berinteraksi dengan teman dan guru yang mengajar. Jadi tidak baik bagi siswa dan guru yang mengajar.

4. Jumlah siswa dalam setiap kelompok

Dalam pemecahan masalah siswa dalam setiap kelompok sebaiknya hanya berjumlah 5 sampai 7 orang siswa, karena dalam formalitas dalam kepemimpinan cepat muncul, ketegangan berkurang, perubahan sikap makin kurang nampak, dan solidaritas kelompok bertambah.

5. Komposisi siswa dalam kelompok (seperti siswa yang pandai dan kurang pandai, pria dan wanita).

Dalam pengelompokan siswa untuk memecahkan suatu masalah yang diberikan guru, guru harus bisa membagi kelompok-kelompok kecil dalam kelas secara heterogen. Agar terjadi keseimbangan pada setiap kelompok karena dalam satu kelompok terdapat siswa yang pintar, biasa, dan kurang pintar.

Mempersiapkan suasana kelas yang kondusif

Menurut James Block memisahkan antara dua kegiatan yakni sebelum guru masuk ke kelas (persiapan) dan pada waktu guru masuk kelas (pelaksanaan).

1. Sebelum guru masuk kelas

Tahap ini juga disebut tahap persiapan, dan disebut dengan kegiatan menciptakan pra-kondisi. Pekerjaan ini dilakukan di luar kelas, sebelim guru mengajar.

Caranya:

a. Merumuskan apa yang penting yang harus dimilki oleh siswa.

b. Merancang bantuan-bantuan yang cocok yang dapat diberikan kepada siswa.

c. Merancang waktu yang sesuai dengan topik.

2. Pada waktu guru di kelas

Caranya:

a. Memperhatikan keragaman siswa sehingga guru memperlakukan mereka dengan cara dan waktu yang berbeda.

b. Mengadakan pengukuran terhadap berbagai pencapaian siswa sebagai hasil belajarnya.