LANDASAN TEORI

A. Pengertian Akhlak Atau Sifat Manusia

Akhlaq adalah suatu sifat yang tertanam dalam jiwa manusia, yang dapat melahirkan suatu perbuatan yang gampang dilakukan; tanpa melalui maksud untuk memikirkan (lebih lama). Maka jika sifat tersebut melahirkan suatu tindakan terpuji menurut ketentuan akal dan norma agama, dinamakan akhlaq yang baik. Tetapi manakala ia melahirkan tindakan yang jahat, maka dinamakan akhlaq yang buruk.

Dari pegertian di atas dapat diketahui bahwa akhlak ialah sifat-sifat yang dibawa manusia sejak lahir yang tertanam dalam jiwanya dan selalu ada padanya. Sifat itu dapat berupa perbuatan baik, disebut akhlak yang mulia, atau perbuatan buruk, disebut akhlak yang tercela sesuai dengan pembinaannya.[1]

B. Pembagian Akhlak Atau Sifat Pada Diri Manusia

Secara garis besar islam memandang akhlak atau sifat manusia itu terbagi dua:

1) Sifat-Sifat Terpuji

Sifat terpuji adalah setiap sifat atau perbuatan yang sesuai dengan yang diperintahkan oleh Allah Swt yang tercantum didalam kitab suci alqur’an dan seruan Nabi yang tercantum didalam hadits. Sesungguhnya sifat terpuji itu sangat banyak sekali, diantara sifat-sifat terpuji tersebut adalah:

Ø Taubat

Taubat artinya meninggalkan segala perbuatan tercela yang telah dikerjakannya dengan niat kerana membesarkan Allah s.w.t. Orang yang bertaubat mestilah memenuhi syarat-syarat berikut :

a) Meninggalkan maksiat dengan kesedaran.
b) Menyesal dengan perbuatan yang telah dikerjakan.
c) Berazam tidak akan mengulangi perbuatan itu lagi.

Ø Khauf

Khauf artinya takut kepada Allah s.w.t, takut akan kemurkaanNya dengan memelihara diri dan melakukan perkara-perkara yang baik.

Ø Zuhud

Zuhud artinya bersih atau suci hati dari berkehendakkan lebih dari keperluannya serta tidak bergantung kepada makhluk lain. Hatinya sentiasa mengingati bahwa harta yang dimilikinya adalah sebagai amanah dari Allah. Dengan kata lain zuhud adalah memakai kehidupan dunia demi mencapai kehidupan bahagia diakhirat.

Ø Sabar

Sabar artinya tabah atau cekal menghadapi sesuatu ujian yang mendukacitakan, atau selalu menerima dengan lapang dada apa-apa yang diberikan oleh Allah Swt.

Sedangkan menurut Syaikh Muhammad bin Shalih Al ‘Utsaimin rahimahullah berkata, “Sabar adalah meneguhkan diri dalam menjalankan ketaatan kepada Allah, menahannya dari perbuatan maksiat kepada Allah, serta menjaganya dari perasaan dan sikap marah dalam menghadapi takdir Allah….” (Syarh Tsalatsatul Ushul, hal. 24).

Syaikh Muhammad bin Shalih Al ‘Utsaimin rahimahullah berkata, “Sabar itu terbagi menjadi :

1. Sabar Dalam Menuntut Ilmu

Syaikh Nu’man mengatakan, “Betapa banyak gangguan yang harus dihadapi oleh seseorang yang berusaha menuntut ilmu. Maka dia harus bersabar untuk menahan rasa lapar, kekurangan harta, jauh dari keluarga dan tanah airnya. Sehingga dia harus bersabar dalam upaya menimba ilmu dengan cara menghadiri pengajian-pengajian, mencatat dan memperhatikan penjelasan serta mengulang-ulang pelajaran dan lain sebagainya.

Semoga Allah merahmati Yahya bin Abi Katsir yang pernah mengatakan, “Ilmu itu tidak akan didapatkan dengan banyak mengistirahatkan badan”, sebagaimana tercantum dalam shahih Imam Muslim. Terkadang seseorang harus menerima gangguan dari orang-orang yang terdekat darinya, apalagi orang lain yang hubungannya jauh darinya, hanya karena kegiatannya menuntut ilmu. Tidak ada yang bisa bertahan kecuali orang-orang yang mendapatkan anugerah ketegaran dari Allah.” (Taisirul wushul, hal. 12-13)

2. Sabar Dalam Mengamalkan Ilmu

Syaikh Nu’man mengatakan, “Dan orang yang ingin beramal dengan ilmunya juga harus bersabar dalam menghadapi gangguan yang ada di hadapannya. Apabila dia melaksanakan ibadah kepada Allah menuruti syari’at yang diajarkan Rasulullah niscaya akan ada ahlul bida’ wal ahwaa’ yang menghalangi di hadapannya, demikian pula orang-orang bodoh yang tidak kenal agama kecuali ajaran warisan nenek moyang mereka.

Sehingga gangguan berupa ucapan harus diterimanya, dan terkadang berbentuk gangguan fisik, bahkan terkadang dengan kedua-keduanya. Dan kita sekarang ini berada di zaman di mana orang yang berpegang teguh dengan agamanya seperti orang yang sedang menggenggam bara api, maka cukuplah Allah sebagai penolong bagi kita, Dialah sebaik-baik penolong” (Taisirul wushul, hal. 13)

3. Sabar Dalam Berdakwah

Syaikh Nu’man mengatakan, “Begitu pula orang yang berdakwah mengajak kepada agama Allah harus bersabar menghadapi gangguan yang timbul karena sebab dakwahnya, karena di saat itu dia tengah menempati posisi sebagaimana para Rasul. Waraqah bin Naufal mengatakan kepada Nabi kita shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Tidaklah ada seorang pun yang datang dengan membawa ajaran sebagaimana yang kamu bawa melainkan pasti akan disakiti orang.”

Sehingga jika dia mengajak kepada tauhid didapatinya para da’i pengajak kesyirikan tegak di hadapannya, begitu pula para pengikut dan orang-orang yang mengenyangkan perut mereka dengan cara itu. Sedangkan apabila dia mengajak kepada ajaran As Sunnah maka akan ditemuinya para pembela bid’ah dan hawa nafsu. Begitu pula jika dia memerangi kemaksiatan dan berbagai kemungkaran niscaya akan ditemuinya para pemuja syahwat, kefasikan dan dosa besar serta orang-orang yang turut bergabung dengan kelompok mereka.

4. Sabar dan Kemenangan

Syaikh Muhammad bin Shalih Al ‘Utsaimin rahimahullah berkata, “Allah ta’ala berfirman kepada Nabi-Nya:

“Dan sungguh telah didustakan para Rasul sebelummu, maka mereka pun bersabar menghadapi pendustaan terhadap mereka dan mereka juga disakiti sampai tibalah pertolongan Kami.” (QS. Al An’aam [6]: 34).

Semakin besar gangguan yang diterima niscaya semakin dekat pula datangnya kemenangan. Dan bukanlah pertolongan/kemenangan itu terbatas hanya pada saat seseorang (da’i) masih hidup saja sehingga dia bisa menyaksikan buah dakwahnya terwujud. Akan tetapi yang dimaksud pertolongan itu terkadang muncul di saat sesudah kematiannya. Yaitu ketika Allah menundukkan hati-hati umat manusia sehingga menerima dakwahnya serta berpegang teguh dengannya. Sesungguhnya hal itu termasuk pertolongan yang didapatkan oleh da’i ini meskipun dia sudah mati.

Maka wajib bagi para da’i untuk bersabar dalam melancarkan dakwahnya dan tetap konsisten dalam menjalankannya. Hendaknya dia bersabar dalam menjalani agama Allah yang sedang didakwahkannya dan juga hendaknya dia bersabar dalam menghadapi rintangan dan gangguan yang menghalangi dakwahnya. Lihatlah para Rasul shalawatullaahi wa salaamuhu ‘alaihim. Mereka juga disakiti dengan ucapan dan perbuatan sekaligus.

Allah ta’ala berfirman yang artinya, “Demikianlah, tidaklah ada seorang Rasul pun yang datang sebelum mereka melainkan mereka (kaumnya) mengatakan, ‘Dia adalah tukang sihir atau orang gila’.” (QS. Adz Dzariyaat [51]: 52). Begitu juga Allah ‘azza wa jalla berfirman, “Dan demikianlah Kami menjadikan bagi setiap Nabi ada musuh yang berasal dari kalangan orang-orang pendosa.” (QS. Al Furqaan [25]: 31). Namun, hendaknya para da’i tabah dan bersabar dalam menghadapi itu semua…” (Syarh Tsalatsatul Ushul, hal. 24)

5. Sabar di atas Islam

Ingatlah firman Allah ta’ala yang artinya, “Dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan sebagai seorang muslim.” (QS. Ali ‘Imran [3] : 102).

Ingatlah juga janji Allah yang artinya, “Barang siapa yang bertakwa kepada Allah niscaya akan Allah berikan jalan keluar dan Allah akan berikan rezeki kepadanya dari jalan yang tidak disangka-sangka.” (QS. Ath Thalaq [65] : 2-3).

Disebutkan dalam sebuah riwayat bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Ketahuilah, sesungguhnya datangnya kemenangan itu bersama dengan kesabaran. Bersama kesempitan pasti akan ada jalan keluar. Bersama kesusahan pasti akan ada kemudahan.” (HR. Abdu bin Humaid di dalam Musnadnya [636] (Lihat Durrah Salafiyah, hal. 148) dan Al Haakim dalam Mustadrak ‘ala Shahihain, III/624). (Syarh Arba’in Ibnu ‘Utsaimin, hal. 200)

6. Sabar Menjauhi Maksiat

Syaikh Zaid bin Muhammad bin Hadi Al Madkhali mengatakan, “Bersabar menahan diri dari kemaksiatan kepada Allah, sehingga dia berusaha menjauhi kemaksiatan, karena bahaya dunia, alam kubur dan akhirat siap menimpanya apabila dia melakukannya. Dan tidaklah umat-umat terdahulu binasa kecuali karena disebabkan kemaksiatan mereka, sebagaimana hal itu dikabarkan oleh Allah ‘azza wa jalla di dalam muhkam al-Qur’an.

Di antara mereka ada yang ditenggelamkan oleh Allah ke dalam lautan, ada pula yang binasa karena disambar petir, ada pula yang dimusnahkan dengan suara yang mengguntur, dan ada juga di antara mereka yang dibenamkan oleh Allah ke dalam perut bumi, dan ada juga di antara mereka yang di rubah bentuk fisiknya (dikutuk).”

Pentahqiq kitab tersebut memberikan catatan, “Syaikh memberikan isyarat terhadap sebuah ayat, “Maka masing-masing (mereka itu) kami siksa disebabkan dosanya, Maka di antara mereka ada yang kami timpakan kepadanya hujan batu kerikil dan di antara mereka ada yang ditimpa suara keras yang mengguntur, dan di antara mereka ada yang kami benamkan ke dalam bumi, dan di antara mereka ada yang kami tenggelamkan, dan Allah sekali-kali tidak hendak menganiaya mereka, akan tetapi merekalah yang menganiaya diri mereka sendiri.” (QS. Al ‘Ankabuut [29] : 40).

“Bukankah itu semua terjadi hanya karena satu sebab saja yaitu maksiat kepada Allah tabaaraka wa ta’ala. Karena hak Allah adalah untuk ditaati tidak boleh didurhakai, maka kemaksiatan kepada Allah merupakan kejahatan yang sangat mungkar yang akan menimbulkan kemurkaan, kemarahan serta mengakibatkan turunnya siksa-Nya yang sangat pedih. Jadi, salah satu macam kesabaran adalah bersabar untuk menahan diri dari perbuatan maksiat kepada Allah. Janganlah mendekatinya.

Dan apabila seseorang sudah terlanjur terjatuh di dalamnya hendaklah dia segera bertaubat kepada Allah dengan taubat yang sebenar-benarnya, meminta ampunan dan menyesalinya di hadapan Allah. Dan hendaknya dia mengikuti kejelekan-kejelekannya dengan berbuat kebaikan-kebaikan. Sebagaimana difirmankan Allah ‘azza wa jalla, “Sesungguhnya kebaikan-kebaikan akan menghapuskan kejelekan-kejelekan.” (QS. Huud [11] : 114). Dan juga sebagaimana disabdakan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Dan ikutilah kejelekan dengan kebaikan, niscaya kebaikan itu akan menghapuskannya.” (HR. Ahmad, dll, dihasankan Al Albani dalam Misykatul Mashaabih 5043)…” (Thariqul wushul, hal. 15-17)

7. Sabar Menerima Takdir

Syaikh Zaid bin Muhammad bin Hadi Al Madkhali mengatakan, “Macam ketujuh dari macam-macam kesabaran adalah Bersabar dalam menghadapi takdir dan keputusan Allah serta hukum-Nya yang terjadi pada hamba-hamba-Nya. Karena tidak ada satu gerakan pun di alam raya ini, begitu pula tidak ada suatu kejadian atau urusan melainkan Allah lah yang mentakdirkannya. Maka bersabar itu harus. Bersabar menghadapi berbagai musibah yang menimpa diri, baik yang terkait dengan nyawa, anak, harta dan lain sebagainya yang merupakan takdir yang berjalan menurut ketentuan Allah di alam semesta…” (Thariqul wushul, hal. 15-17), dan masih banyak lagi bentuk-bentuk sabar lainnya.

Ø Syukur

Syukur artinya menyadari bahwa semua nikmat yang diperolehinya baik yang lahir maupun batin semuanya adalah dari Allah dan merasa gembira dengan nikmat itu serta bertanggungjawab kepada Allah atas nikmat tersebut. Jadi syukur itu adalah selalu menanamkan rasa berterima kasih kepada Allah Swt atas apa-apa yang telah diberikan.

Ø Ikhlas

Ikhlas artinya mengerjakan amal ibadat dengan penuh ketaatan serta semua perbuatan yang dilakukan semata-mata mengharapkan keredhaan Allah, bukan kerana tujuan lain.

Ø Tawakal

Tawakal artinya berserah diri kepada Allah dalam melakukan sesuatu rancangan atau rencana. Berserah diri disini maksudnya setelah kita melakukan usaha semaksimal mungkin terhadap sesuatu persoalan.

Ø Mahabbah

Mahabbah artinya adanya rasa cinta dan kasih kepada Allah dan hatinya sentiasa cenderung untuk berkhidmat dan beribadat kepadaNya serta bersungguh-sungguh menjaga diri dan jauhkan dari melakukan maksiat.

Ø Tawadhu’

Tawadhu’ adalah ketundukan kepada kebenaran dan menerimanya dari siapapun datangnya baik ketika suka atau dalam keadaan marah. Artinya, janganlah kamu memandang dirimu berada di atas semua orang. Atau engkau menganggap semua orang membutuhkan dirimu.

Merendahkan diri (tawadhu’) adalah sifat yang sangat terpuji di hadapan Allah dan juga di hadapan seluruh makhluk-Nya. Setiap orang mencintai sifat ini sebagaimana Allah dan Rasul-Nya mencintainya. Sifat terpuji ini mencakup dan mengandung banyak sifat terpuji lainnya.

Menerima dan tunduk di hadapan kebenaran sebagai perwujudan tawadhu’ adalah sifat terpuji yang akan mengangkat derajat seseorang bahkan mengangkat derajat suatu kaum dan akan menyelamatkan mereka di dunia dan akhirat.

Fudhail bin Iyadh t (seorang ulama generasi tabiin) ditanya tentang tawadhu’, beliau menjawab: “Ketundukan kepada kebenaran dan memasrahkan diri kepadanya serta menerima dari siapapun yang mengucapkannya.” (Madarijus Salikin, 2/329).

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Tidak akan berkurang harta yang dishadaqahkan dan Allah tidak akan menambah bagi seorang hamba yang pemaaf melainkan kemuliaan dan tidaklah seseorang merendahkan diri karena Allah melainkan akan Allah angkat derajatnya.” (Shahih, HR. Muslim no. 556 dari shahabat Abu Hurairah z)

Dalam hal ini banyak ayat yang memerintahkan kepada beliau untuk tawadhu’, tentu juga perintah tersebut untuk umatnya dalam rangka meneladani beliau. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:
Dan rendahkanlah dirimu terhadap orang-orang yang mengikutimu yaitu orang-orang yang beriman.” (Asy-Syu’ara: 215).Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:“Sesungguhnya Allah telah mewahyukan kepadaku agar kalian merendahkan diri sehingga seseorang tidak menyombongkan diri atas yang lain dan tidak berbuat zhalim atas yang lain.” (Shahih, HR Muslim no. 2588).

Demikianlah Rasulullah Saw mengingatkan kepada kita bahwa tawadhu’ itu sebagai sebab tersebarnya persatuan dan persamaan derajat, keadilan dan kebaikan di tengah-tengah manusia sebagaimana sifat sombong akan melahirkan keangkuhan yang mengakibatkan memperlakukan orang lain dengan kesombongan.

Ø Taat

Firman Allah Swt Qs An Nisa ayat 59 :“ Hai orang-orang yang beriman taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri diantara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah kepada Allah (Al Quran) dan Rasul ( Sunahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya “.

Berpedoman pada sepotong firman Allah diatas yang memerintahkan orang-orang yang beriman supaya selalu memurnikan ketaatan hanya kepada Allah, Rasul maupun ulil amri. Soal pemimpin yang bagaimana yang harus ditaati tsb ? tentu pemimpin yang juga taat kepada Allah dan Rasulnya, lalu masih adakah pemimpin yang memiliki sifat seperti yang di uraikan diatas ? yang lebih mengutamakan kepentingan umum dan rakyat dari pada kepentingan pribadi dan keluarganya ?.

Taat pada Allah tidak hanya asal taat, didalam pelaksanaan teknisnya harus benar dan sungguh-sungguh sesuai dengan kemampuan yang dimiliki, dan dengan tampa alasan apapun menghentikan segala larangan-Nya. Sebenarnya apa-apa yang menjadi perintah Allah Taalla sudah tidak diragukan lagi pasti tersimpan segala kemaslahatan (kebaikan), sedangkan apa-apa yang menjadi larangan-Nya sudah tertulis akan segala kemudharatanya (keburukan). Kemudharatan (bencana alam dimana-mana) yang sering terjadi akhir-akhir ini merupakan imbas dari tidak menghiraukan segala larangan Allah dan Rasul-Nya. Qs Ali Imran ayat 32 memperjelasnya : “ Katakanlah, taatilah Allah dan Rasul-Nya, jika kamu berpaling, maka sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang kafir “.

Begitu juga ketaatan kepada Rasul, yaitu Rasulullah Saw dengan selalu meimplementasikan yang terdapat dalam hadis beliau. Sebagai utusan Allah Nabi Muhammad Saw mempunyai tugas menyampaikan amanah kepada umat manusia tampa memandang status, jabatan, suku dsb. Oleh karena itu bagi setiap muslim yang taat kepada Allah Swt harus melengkapinya dengan mentaati segala perintah Rasulullah Saw sebagai utusan-Nya. Sebagai mana yang difirmankan Allah didalam Qs At Taqabun ayat 12 :“ Dan taatlah kepada Allah dan taatlah kepada Rasul, jika kamu berpaling, maka sesungguhnya kewajiban rasul kami hanyalah menyampaikan (amanah Allah) dengan terang “.

Ketatatan yang kita lakukan kepada Allah, Rasul dan ulil amri merupakan ketaatan yang akan berakibat baik terhadap amal ibadah kita selama ketatan tersebut tidak diselimuti oleh berbagai bentuk kebohongan, penyakit hati, kemunafikan dsb. Malah Islam sangat memuliakan umatnya yang memiliki sifat tawaduk dengan selalu merendahkan hati baik terhadap Allah maupun terhadap sesama manusia. Kita sebagai muslim harus menyadari bertawaduk merupakan bagian dari akhlakul karimah yang melahirkan manusia-manusia yang berprilaku baik, dengan memunculkan suatu kesadaran akan hakikat kejadian dirinya dan tidak pernah mempunyai alasan untuk merasa lebih baik, lebih pintar, lebih kaya, lebih ganteng, lebih cantik maupun lebih-lebih lainya antara dirinya dengan orang lain.

“ Dan hamba-hamba tuhan yang maha penyayang itu adalah orang-orang yang berjalan diatas bumi dengan rendah hati dan apabila orang-orang jahil menyapa mereka.mereka mengucapkan kata-kata yang baik ‘. ( Qs Al Furqan-63 ).

Ø Qana'ah ( Berfikir Positif )

Qana’ah artinya rela menerima dan merasa cukup dengan apa yang dimiliki, serta menjauhkan diri dari sifat tidak puas dan merasa kurang yang berlebihan. Qana’ah bukan berarti hidup bermalas-malasan, tidak mau berusaha sebaik-baiknya untuk meningkatkan kesejahteraan hidup. Justru orang yang Qana’ah itu selalu giat bekerja dan berusaha, namun apabila hasilnya tidak sesuai dengan yang diharapkan, ia akan tetap rela hati menerima hasil tersebut dengan rasa syukur kepada Allah SWT. Sikap yang demikian itu akan mendatangkan rasa tentram dalam hidup dan menjauhkan diri dari sifat serakah dan tamak. Nabi Muhammad SAW Bersabda : " Abdullah bin Amru r.a. berkata : Bersabda Rasulullah SAW, sesungguhnya beruntung orang yang masuk Islam dan rizqinya cukup dan merasa cukup dengan apa-apa yang telah Allah berikan kepadanya. (H.R.Muslim).

Orang yang memiliki sifat Qana’ah, memiliki pendirian bahwa apa yang diperoleh atau yang ada pada dirinya adalah ketentuan Allah. Firman Allah SWT : " Tiada sesuatu yang melata di bumi melainkan ditangan Allah rezekinya". (Hud : 6) . Dari pernyataan diatas antara qanaah dengan bersyukur sangat erat kaitannya.[2]

Ø Amanah

Menurut pandangan islam amanat mempunyai arti yang amat luas, mencakup berbagai pengertian.Namun titiknya yaitu bahwa orang harus mempunyai perasaan tanggung jawab terhadap apa yang dipikul datas pundakanya.dia pun sadar bahwa semuanya akan dipertanggung jawabkan di hadapan tuhan. Sebagaimana gambaran yang pernah diuraikan oleh rasulullah secara terperinci yang artinya: “kamu semua adalah pemimpin, dan kamu akan dimintai pertanggung jawaban atas kepemimpinan. Seorang imam adalah pemimpin yang dimintai pertanggung jawaban atas kepemmpinannya terhadap rakyatnya, seorang laki-laki adalah pemimpin bagi keluarganya dan diminta pertanggung jawaban tentang nya, seorang wanita adalah pemimpin dirumah suaminya dan ia dimintai pertanggung jawaban terhadap yang dipimpinnya, seorang khadim yang diamanati untuk menjada harta tuan nya juga seorang pemimpi yang diintai juga pertanggung jawaban.”(HR.Bukhari).[3]

Ø Benar ( Jujur )

Allah menjadikan langit dan bumi dengan benar, dan ia pun meminta manusia untuk membina hidupnya itu dengan benar pula, yaitu kiranya mereka tidak berkata kecuali dengan benar, dan tidak berbuat sesuatu kecuali dengan benar.

Dari sinilah maka berpegang teguhlah kepada kebenaran itu sangat diperlukan setiap saat, dan harus diperhatikan dalam setiap persoalan serta dilaksanakan dalam setiap hukum. Dia menjadi soko guru yang tangguh bagi kepribadian muslim dan merupakan cetakan yang tegak dalam seluruh prilaku manusia tersebut.

Rasulullah bersabda yang artinya:”abu umamah al-bakhili r.a.berkata bahwa rasulullah saw bersabda, saya dapat menjamin suatu rumah di kebun shurga untuk orang yang meninggalkan perdebatan meskipun ia benar. Dan menjamin suatu rumah dipertengahan shurga bagi orang yang tidak berdusta meskipun bergurau. Dan menjamin suatu rumah dibagian tertinggi dari shurga bagi orang yang baik budi pekertinya (HR.Abu Dawud dengan sanad yang shahih)[4]

Ø Wafa (menepati janji)

Apabila seorang muslim mengadakan perjanjian harus menjunjung tiggi perjanjian itu. Perjanjian harus dipenuhi tak ubahnya dengan sumpah yang harus dipatuhi. Oleh karena itu keduanya harus berkait dengan kebenaran dan kebaikan. Kalau tidak, tdak perlu dipenuhi dan dipatuhi. Sebab tidak ada perjanjian dalam kedurhakaan dan tidak ada sumpah dalam dosa. Seperti perkataan orang bijak bahwa janji itu adalah hutang, dan hutang tersebut harus dibayar.

Rasulullah bersabda yang artinya:”barang siapa bersumpah atas suatu sumpah, lalu dia melihat ada lainnya yang lebih baik, mak hendaklah ia membatalkan sumpah nya dan ia mengerjakan yang lebih baik itu.(HR.Muslim).

Maksud dari hadist diatas menurut analisa pemakalah yaitu secara tegas rasulullah memperingatkan kepada manusia janganlah kamu sekalian berjanji atau bersumpah jika pada akhirnya kamu tidak bisa untuk menepati atau memenuhinya.[5]

Ø Adil (Al-‘adalah)

Sifat adil ada dua macam, yaitu adil yang berhubungan dengan perorangan dan adil yang berhubungan dengan masyarakat atau pemerintah.

Adil perorangan yaitu tindakan memberi hak kepada yang mempunyai hak. Adil dalam segi kemasyarakatan dan pemerintah, misal nya tindakan hakim yang menghukum orang-orang yang bersalah atau orang-orang yang bersengketa sepanjang neraca keadilan.[6] Sebagaimana firman allah dalam surat al-maidah:8 sebagai berikut:

Ø Iffah (memelihara kesucian diri)

Iffah adalah memelihara kesucian diri dari segala tuduhan, fitnah, dan juga memelihar kehormatan dengan penjagaan diri secara ketat dari hal-hal yang dapat menimbulkan tuduhan tidak baik terhadap diri kita atau dari hal-hal yang dapat menimbulkan fitnah maka diri kita selalu dalam keadaan suci dan kehormatan kita tetap terjamin. Orang yang mempunyai sifat iffah disebut afif.[7] Allah berfirman dalam surat al-syams:9-10, sebagai berikut:

Ø Kerja keras

Kerja keras berarti berusaha (berjuang ) dengan sungguh-sungguh, dengan kata lain kerja keras adalah berusaha dengan sungguhsungguh untuk mencapai suatu cita-cita atau tujuan.Firman allah dalam surat ar-ra’du:11 yang berbunyi sebagi berikut:

Ø Tekun dan ulet.

Ø

2. Sifat-Sifat Tercela

Sifat tercela adalah setiap sifat atau perbuatan yang dilarang atau yang tidak sesuai dengan yang diperintahkan oleh Allah Swt yang telah tercantum didalam kitab suci alqur’an, dan dilarang Nabi yang tercantum didalam hadits. Sesungguhnya sifat tercela itu sangat banyak sekali, diantara sifat-sifat tercela tersebut adalah:

Ø Syarhul Thaa’am

Syarhul thaa’am artinya gemar kepada makan atau makan terlalu banyak.

Ø Syarhul Kafam

Syarhul Kafam artinya gemar kepada bercakap yang sia-sia, percakapan yang tidak berfaedah kepada dunia dan akhiratnya.

Ø Gha’dhab

Gha’dhab artinya bersifat pemarah dan cepat melenting walaupun kesilapan berlaku pada perkara yang kecil.

Ø Hasad /Dengki

Hasad artinya dengki akan nikmat yang ada pada orang lain serta suka jika orang itu susah.

Dengki merupakan salah satu penyakit hati yang harus dihindari. Dengki merujuk kepada kebencian dan kemarahan yang timbul akibat perasaan cemburu atau iri hati yang amat sangat. Ia amat dekat dengan unsur jahat, tidak berkenan, benci dan perasaan dendam yang terpendam.

Ada juga yang memberikan definisi dengki sebagai suatu perbuatan atau tindakan hati yang tidak senang melihat kesenangan (nikmat) orang lain serta berharap agar kesenangan (nikmat) orang lain akan hilang atau lenyap atau pun berpindah tangan kepadanya.Rasulullah Saw bersabda, “Janganlah kalian saling mendengki, saling memfitnah (untuk suatu persaingan yang tidak sehat), saling membenci, saling memusuhi dan jangan pula saling menelikung transaksi orang lain. Jadilah kalian hamba Allah yang bersaudara. Seorang muslim adalah saudara muslimnya yang lain, ia tidak menzhaliminya, tidak mempemalukannya, tidak mendustakannya dan tidak pula melecehkannya. Takwa tempatnya adalah di sini – seraya Nabi Saw menunjuk ke dadanya tiga kali. Telah pantas seseorang disebut melakukan kejahatan, karena ia melecehkan saudara muslimnya. Setiap muslim atas sesama muslim yang lain adalah haram darahnya, hartanya dan kehormatannya.” (HR. Muslim dari Abu Hurairah ra).

Siapapun kita, maka harus berupaya untuk menjauhi sifat tercela ini yang dapat merusak amalan dan menggerogoti keimanan kita. Karena dengan memiliki sifat tercela ini, pada akhirnya akan merugikan diri sendiri, dan bahkan merugikan orang lain. Semoga Allah selalu memberikan pertolongan dan petunjuk-Nya agar kita terhindar dari sifat-sifat tercela tersebut. [8]

Ø Sombong

Sifat sombong atau takabur adalah selalu menganggap dirinya memiliki kelebihan, keistimewaan, keunggulan dan kemuliaan dari orang lain. Akibat dari sifat sombong ini adalah menganggap orang lain lebih rendah dari dirinya. Allah SwT sangat membenci makhluk-Nya yang memunculkan sifat sombong. Allah SwT berfirman: “Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong dan membangga-banggakan diri” (QS. An-Nisaa’ [4]: 36). Disurat lain Allah mengatakan: “Negeri akhirat itu Kami jadikan untuk orang-orang yang tidak menyombongkan diri dan berbuat kerusakan di muka bumi dan kesudahan yang baik bagi orang-orang yang bertakwa.” (Al-Qashash: 83)

Kesombongan adalah sifat mutlak Allah yang tidak dibenarkan untuk dimiliki oleh selain-Nya. Manusia yang menyombongkan diri berarti telah merampas sifat mutlak Allah. Ia telah berusaha menyamai Allah yang Maha Kuasa.

Ø Riya

Sifat riya’ adalah lawan dari sifat ikhlas, yaitu mengerjakan suatu amalan - khususnya ibadah - agar orang lain melihatnya dan memberikan pujian. Amalan yang dikerjakan tidak lagi diniatkan karena Allah SwT semata, tetapi mengharapkan agar orang lain memberikan pujian terhadap apa yang dikerjakannya.

Riya’ ini termasuk dari bagian syirik, yaitu syirik kecil (ashghar). Meskipun riya’ ini adalah syirik ashghar, namun tetaplah berdampak besar bagi amalan yang dikerjakan, karena di hadapan Allah SwT, amalan yang dikerjakan karena riya’ tidaklah berharga sedikitpun. Sehingga sia-sialah amalan yang dilakukan. Dalam sebuah hadits, Rasulullah bercerita, “di hari kiamat nanti ada orang yang mati syahid diperintahkan oleh Allah untuk masuk ke neraka. Lalu orang itu protes, ‘Wahai Tuhanku, aku ini telah mati syahid dalam perjuangan membela agama-Mu, mengapa aku dimasukkan ke neraka?’ Allah menjawab, ‘kamu berdusta dalam berjuang. Kamu hanya ingin mendapatkan pujian dari orang lain, agar dirimu dikatakan sebagai pemberani. Dan apabila pujian itu telah dikatakan oleh mereka, maka itulah sebagai balasan dari perjuanganmu.” Allah SwT berfirman: “Dan Kami hadapi segala amal yang mereka kerjakan, lalu Kami jadikan amal itu (bagaikan) debu yang beterbangan.” (Al-Furqan [25]: 23).

Abu Hurairah RA juga pernah mendengar Rasulullah bersabda, “Banyak orang yang berpuasa, namun tidak memperoleh sesuatu dari puasanya itu kecuali lapar dan dahaga, dan banyak pula orang yang melakukan shalat malam yang tidak mendapatkan apa-apa kecuali tidak tidur semalaman.”

Sebenarnya masih banyak lagi contoh-contoh dari sifat tercela tersebut seperti: dusta, khianat, fitnah, bergunjing, dan lain-lainnya. Tetapi pemakalah hanya mencantumkan beberapa saja.[9]



[3] Anwar Mas’ari, Akhlak Alquran, (Surabaya:PT.Bina Ilmu, 1990), h.55

[4] Ibib, h.68

[5] Ibid, h.74

[6]Ibid,h.81

[7]Ibid, h.85

Labels: edit post