Showing posts with label Ilmu Lughah. Show all posts
Showing posts with label Ilmu Lughah. Show all posts

Monday, 31 January 2011

Pemerolehan Bahasa Manusia ( Semantik ) Pada Anak Sesuai Dengan Tingkatan Usianya

Pemerolehan Bahasa Manusia

( Semantik ) Pada Anak Sesuai Dengan Tingkatan Usianya

oleh :

Rona Amelia

PENDAHULUAN

Menurut Ferdinand de Saussure bahwa makna adalah "pengertian" atau konsepyang dimiliki atau terdapat pada sebuah tanda linguistik. Disamping itu ada juga yang menyatakan bahwa makna itu tidak lain daripada sesuatu/referen yang diacu oleh

kata/leksem itu.

Semantik merupakan salah satu objek garapan yang dibahas dalam linguistik, dalam istilah arab ini dikenal dengan Ilmu ad-Dilalah s( ilmu yang mempelajari makna kata. Semantik secara bahasa berasal dari bahasa Yunani, mengandung makna to signify atau memaknai, semantik mengandung pengertian studi tentang makna.[1]

Pada pembahasan ini penulis akan membahas tentang pemerolehan semantin pada anak.Adapun hal-hal yang berkaitan dengan itu diantaranya :

  1. Teori tentang pemerolehan bahasa ( semantik)
  2. Observasi terhadap anak yang diteliti
  3. Analisis penulis

TEORI TENTANG PEMEROLEHAN SEMANTIK

1. Teori fitur

Untuk dapat mangkaji pemerolehan semantik kanak-kanak kita perlu terlebih dahulu memahami apa yang dimaksud dengan makna atau arti itu. Menurut salah satu teori semantik yang baru, maka dapat dijelaskan berdasarkan yang disebut fitur-fitur atau penanda-penanda semantik. Ini berarti, makna sebuah kata merupakan gabungan dari fitur-fitur semantik ini.[2]

Teori fitur mengatakan bahwa konsep terbentuk dari sekelompok unit yang lebih kecil yang dinamakan fitur. Konsep mengenai objek yang dinamakan kucing, misalnya, mempunyai sekelompok fitur yakni, (a) berkaki empat,(b) bermata dua, (c) bertelinga dua, (d) berhidung satu, (e) berkumis, (f) berbulu, (g) berwarna putih, hitam, coklat dan lainnya.[3]

Dari penjelasan di atas dapat dipahami bahwa anak-anak dapat memahami sebuah makna dari suatu konsep dengan adanya tanda-tanda atau fitu-fitur yang memudahkan ia dalam memahami konsep teresebut. Untuk lebih jelas dapat di contohkan, seekor sapi memiliki tubuh gemuk, berbadan besar, berkaki empat, memiliki dua mata yang besar, bertelinga dua, berwarna kuning dan lainnya. Ketika seorang anak melihat seekor sapi, maka ia memahami bahwa sapi itu sperti ini ( tanda yang telah dijelaskan di atas ) atau seorang anak mendengar kata “sapi” maka ia akan memahami sebagaimana ciri atau tanda yang pernah ia lehat sebelumnya. Dan bisa juga dicontohkan lagi, ketika anak melihat seekor kerbau ia juga akan mengatakan bahwa itu sapi karena memiliki tanda hampir sama dengan sapi. Beginilah anak-anak memperoleh sebuah makna dari suatu konsep menurut teori fitur ini.

Asumsi-asumsi yang menjadi dasar hipotesis fitur-fitur semantic adalah :

a. fitur-fitur makna yang digunakan kanak-kanak dianggap sama dengan beberapa fitur makna yang digunakan oleh orang dewasa.

b. Karena pengalaman kanak-kanak mengenai dunia dan mengenai bahasa masih sangat terbatas bila diabandingkan dengan pengalaman orang dewasa, maka kanak-kanak hanya akan menggunakan dua atau tiga fitur saja untuk sebuah kata sebagai masukan leksikon.

c. Karena pemilihan fitur-fitur yang berkaitan ini didasarkan pada pengalaman kanak-kanak sebelumnya, maka fitur-fitur ini pada umumnya didasarkan pada informasi persepsi atau pengamatan.

Jadi , apabila orang dewasa mengucapkan kata-kata dalam konteks dan situasi yang yang dikenal oleh kanak-kanak, maka pengenalan ini akan menolong kanak-kanak itu memperoleh makna kata-kata itu berdasrkan bentuk, ukuran, bunyi, rasa, gerak dan lain-lain dari kata-kata baru itu. Lalu karena hanya beberapa fitur semantic yang digunakan oleh kanak-kanak untuk memperoleh makna kata pada tahap permulaan ini ( antara satu -dua tahun setengah ), maka penerapan berlebihan dari makna-makna ini tidak dapat dielakan ; dan ini merupakan ciri khas pemerolehan makna oleh kanak-kanak. [4]

Clark (1977) secara umum menyimpulkan perkembangan pemerolehan semantik ini kedalam emapt tahap, yaitu :

a. Tahap penyempitan makna kata

Tahap ini berlangsung antara umur satu sampai satu setengah tahun ( 1:0 – 1:6 ). Pada tahap ini kanak-kanak menganggap satu benda tertentu yang dicakup oleh satu makna menjadi nama dari benda itu. Jadi, yang disebut ( meong ) hanyalah kucing yang dipelihara di rumah saja. Begitu juga ( gukguk ) hanyalah anjing yang ada dirumah saja, tidak termasuk yang berada di luar rumah si anak.

b. Tahap Generalisasi berlebihan

Tahap ini berlangsung antara usia satu tahun setengah sampai dua tahun setengah (1:6 – 2:6). Pada tahap ini kanak-kanak mulai menggeneralisasikan makna suatu kata secara berlebihan. Jadi, yang dimaksud dengan anjing atau gukguk dan kucing atau meong adalah semua binatang yang berkaki empat, termasuk kambinh dan kerbau.

c. Tahap medan semantik

Tahap ini berlangsung antara usia dua tahun setengah sampai lima tahun ( 2:6 - 5:0 ). Pada tahap ini kanak-kanak mulai mengelompokkan kata-kata yang berkaitan ke dalam satu medan semantik. Pada mulanya proses ini berlangsung jika makna kata-kata yang digeneralisasi secara berlebihan semakin sedikit setelah kata-kata baru untuk benda-benda yang termasuk dalam generalisasi ini dikuasai oleh kanak-kanak. Umpamanya, kalau pada mualanya kata anjing berlaku untuk semua binatang berkaki empat ; namun, setelah mereka mengenal kata kuda, kambing , dan harimau, maka anjing hanya berlaku untuk anjing saja.

d. Tahap generalisasi

Tahap ini berlangsung setelah kanak-kanak berusia lima tahun. Pada tahap ini kanak-kanak telah mulai mampu mengenal benda-benda yang sama dari sudut persepsi, bahwa benda-benda itu mempunyai fitur-fitur semantic yang sama. Pengenalan ini semakin sempurna jika kanak-kanak semakin bertanbah usianya. Jadi, ketika berusia antara 5 – 7 tahun mereka telah mampu mengenal yang dimaksud dengan heawan, yaitu semua mahluk yang termasuk hewan.[5]

Dari penjelasan di atas terlihat bahwa kanak-kanak membutuhkan tahap-tahapan dalam memperoleh makna semantik, dan lingkungan sangat membantu kanak-kanak untuk memperoleh makna tersebut, karena dalam proses pemerolehan itu kanak-kanak menggunakan indranya. Jadi, semakin banyak kanak-kanak mengamati lingkungannya akan sangat membantu sekali dalam memperolah makna kata-kata dari suatu konsep.

2. Hubungan-hubungan gramatikal

Teori ini diperkenalkan oleh Mc. Neil (1970), menurut Mc. Neil pada waktu dilahirkan kanak-kanak telah dilengkapi dengan hubungan-hubungan gramatikal dalam yang nurani. Oleh karena itu, kanak-kanak pada awal proses pemerolehan bahasanya telah berusaha membentuk satu “kamus makna kalimat” ( sentence-meaning dictionary ), yaitu setiap butir leksikal dicantumkan dengan semua hubungan gramatikal yang digunakan secara lengkap pada tahap holofrasis. Pada tahap holofrasis ini kanak-kanak belum mampu menguasai fitur-fitur semantik kerana terlalu membebani ingatan mereka. Jadi, pada awal pemerolehan semantik hubungan hubungan gramatikal inilah yang paling penting karena telah tersedia secara nurani sejak lahir. Sedangkan fitur-fitur semantik hanya perlu pada tahap lanjutan pemerolehan semantik ini.

Jika kanak-kanak telah mencapai tahap dua kata pada usia dua tahun mereka baru memulai menguasai kamus makna kata berdasrkan makna kata untuk menggantikan makna kalimat yang telah dikuasai sebelumnya.

3. Teori Generalisasi

Teori ini diperkenalkan oleh Anglin (1975, 1977). Menurut Anglin perkembangan semantik kanak-kanak mengikuti satu proses generalisasi, yaitu kemampuan kanak-kanak melihat hubungan-hubungan semantik antara nama-nama benda ( kata-kata) mulai dari yang konkret sampai yang abstrak. Pada tahap permulaan pemerolehan semantik ini kanak-kanak hanya mampu menyadari hubungan-hubungan konkret yang khusus di antara benda-benda itu. Bila usianya bertambah mereka membuat generalisasi terhadap kategori-kategori abstrak yang lebih besar. Umpamanya, pada awal perkembangan pemerolehan semantik kanak-kanak telah mengetahui kata-kata melati dan mawar melalui hubungan konkret antara kata itu dengan bunga-bunga tersebut. Pada tahap berikutnya setelah mereka semakin matang, mereka akan menggolongkan kata-kata ini dengan butir leksikal yang lebih tinggi kelasnya atau subordinatnya melalui generalisasi yaitu bunga.

Selanjutnya , setelah usia mereka semakin bertambah, maka mereka pun akan memasukkan bunga ke dalam kelompok-kelompok yang lebih tinggi, yaitu tumbuh-tumbuhan.

4. Teori Primitif Universal

Teori ini mula-mula diperkenalkan oleh Postal (1966), lalu dikembangkan oleh Bierswich (1970) dengan lebih terperinci. Menurut Postal semua bahasa yang ada di dunia ini dilandasi oleh satu perangkat primitife-primitif semantik universal (yang kira-kira sama dengan penanda-penanda semantik dan fitur-fitur semantik), dan rumus-rumus untuk menggabungkan primitif-primitif semantik ini dengan butir-butir leksikal. Sedangkan setiap primitif semantik itu mempunyai satu hubungan yang sudah ditetapkan sejak awal dengan dunia yang ditentukan oleh struktur biologi manusia itu sendiri.

Bierswich (1970) menyatakan bahwa primitif semantik atau komponen-komponen sementik ini mewakili kategori-kategori atau prinsip-prinsip yang sudah ada sejak awal yang digunakan oleh manusia untuk mengolong-golongkan struktur benda-benda atau situasi-situasi yang diamati oleh manusia itu. Selanjutnya ia menjelaskan bahwa primitf-primitif atau fitur-fitur semantik ini tidak mewakili ciri-ciri fisik luar dari benda-benda itu, tetapi mewakili keadaan-keadaan psikologi berdasarkan bagaimana manusia memproses keadaan sosial dengan fisiknya. Selajnjutnya ia menjelaskan bahwa dalam pemerolehan makna kanak-kanak tidak perlu mempelajari kompponen-komponen makna itu karena komponen-komponen itu telah tersedia sejak dia lahir. Yang dipelajari adalah hubungan-hubungan komponen ini dengan “ milik-milik” fonologi dan sintaksis bahasanya. Ini berarti bahwa manusia menafsirkan semua yang diamatinya berdasarkan primitif-primitif semantik yang telah tersedia sejak dia lahir. Dengan demikian hipotesisi primiti-primitif universal ini mau tidak mau harus menghubungkan perkembangan semantic kanak-kanak dengan perkembangan kognitif umum kanak-kanak itu. [6]



[1] Aminuddin, Semantik, Pengantar Studi tentang Makna, (Malang : Sinar Baru Algesindo, 2003 ), h. 15

[2] Abdul Chaer, Psikolinguistik Kajian Teoritik, ( Jakarta : PT RINEKA CIPTA, 2003 ), h. 194-195

[3] Soenjono Dardjowidjojo, Psikolinguistik : Pengantar Pemahaman Manusia, ( Jakarta : Yayasan Obor Indonesia, 2003), h. 181

[4] opcit, Abdul Chaer, h. 195-196

[5] ibid, h.196-197

[6] Ibid, h. 199.

HASIL OBSERVASI PENULIS Pemerolehan Bahasa

Oleh :

Rona Amelia

HASIL OBSERVASI PENULIS

Penuis melakukan observasi kepada tiga orang anak yaitu :

1.

a. Nama : Arini

b. Jenis kelamin : Perempuan

c. Usia : 14 bulan

d. Alamat : Kel Koto Tangah Koto Nan IV. Payakumbuh Barat

Observasi yang pertama dilakukan terhadap anak ini yaitu pada hari minggu tanggal 14 maret tahun 2010, yaitu ketika anak ini minta makan kepada orang tuanya ketika itu sambil yang disajikan oleh orang tuanya lauknya adalah ayam dengan reflek anak tersebut menggungkapkan kata “ tan “ yang artinya ikan , ketiaka dilkukan wawancara dengan dengan orang tuanya ternyata anak ini ketika setiap mintak makan dan ketiaka melihat lauknya dia selalu menggatakan “tan” apapun lauknya

Observasi kedua diaksankan pada hari sabtu tanggal 19 maret tahun 2010 anak tersebut menaiki meja belajar kecil dan menggungkapkan benda tersebut dengan “ tak” yang artinya tu tak yang dimaksud dari kalimat tersebut yaitu bendi yang ditumpangi

Observasi ketiga sabtu tanggal 10 april 2010 ketika anak ini bertemu dengan ibuk-ibuk sebaya neneknya dia bilang “nek”,dan om bagi yang sebaya omnya, dan tanggal 11 aprilnya begitu juga dengan sebutan nte ketiak bertemu denagn sebaya dengan tantenya,

Setelah dilakukan wawancara dengan oranga tuanya yang dipanggilnya nenek denagann sebaya neneknya karena hampir setiap hari dia bertemu dengan nenek tersebut yang sebaya dengan neneknya.

2.

a. Nama : Aulia Putri

b. Jenis kelamin : Perempuan

c. Usia : 19 bulan

d. Alamat : Kel Koto Tangah Koto Nan IV. Payakumbuh Barat

Observasi pada anak ini yang pertama dilakukan pada hari tanggal hari Jumat 16 april tahun 2010 aulia ini ketika bertemu dengan ibuk-ibuk sebaya dengan neneknya ketiaka di tanya siapa yang datang di belum mampu menggungkapkan dengan sebutan nenek.

a. Nama : Irsyad Al-Khalid

b. Umur : 5tahun 5 bulan

c. Tempat tanggal lahir : Payakumbuh 4 Oktober Desember 2005

d. Jenis kelamin : laki-laki

e. Alamat : Kel Koto Tangah Koto Nan IV. Payakumbuh Barat

Observasi yang ketiga ini observasi yang dilakukan kepada pokonakaan penulis, ketika penulis dan pokanan sedang menonton televisi tentang tanaman hias ketika ditayangkan bunga angrek secara spontan anak ini mengungkapkan itu bunga angrek ya nte.

Observasi kedua ketiaka pulang sekolah anak ini menyakan pada neneknya kebetulan anak ini tinggal bersama nenek dan kakeknya.dia menyakan pada neneknya "aku puan-puan atau laki-laki laki nek" maksudnya anak ini menanyaykan dia perempauan atau laki-laki.

C. Analisis Penulis

Dari hasil obervasi yang penulis lakukan terhadap pemerolahan semantik 3 anak diatas dapat penulis analisisis sebagaimana dibawah ini:

a.) Analisis terhadap anak yaang berusia 14 bulan

Pemerolehan semantik pada usia 14 bulan berarti pemerolehan semantik pada anak ini tahap pemerolehan makna yaitu tahap penyempitan kata yaitu antara umur 1:0-1:6 pada tahap ini kanak-kanak menggap satu benda yang dicakup oleh satu benda tertentu yang dicakup oleh satu makna menjadi nama dari benda itu.

Sementara yang dilapangan sebagian sudah sesuai dengan teorinya sebagai contoh ketika anak ini minta makan dengan apapun sambalnya dia akan menyebutnya dengan sebutan "tan", akan tetapi lain halanya anak ini telah mampu menyebutkan nama nenek ketika bertemu dengan selain neneknya saja, sementara apabila bertemu dengan om yang sebaya omnya sudah mampu mnyapa dengan panggilan

Setelah dilakukan observasi teryata anak ini hidup dilingkungan yang banyak bertemu dengan orang baru dan sering dilihatnya karena orang tuanya mepunyai bengkel mobil tahap penyempitan makna kata, dan otomatis anak ini sering berintreaksi dengan orang lain selain anggota keluarganya.sehingga dia mampu meyapa orang-orang yang sering dilihatnya

b.) Anlisis terhadap anak yang kedua

Pemerolehan semantik pada usia 19 bulan berarti pemerolehan semantik pada anak ini Tahap Generalisasi berlebihan. Tahap ini berlangsung antara usia satu tahun setengah sampai dua tahun setengah (1:6 – 2:6). Pada tahap ini kanak-kanak mulai menggeneralisasikan makna suatu kata secara berlebihan. Pada tahap ini kanak-kanak mulai menggeneralisasikan makna suatu kata secara berlebihan.

Dilapangan belum sesuai dengan teorinya sebagian contoh anak ini belum mampu menggungkapkan ibuk-ibuk yang seusia dengan neneknya dengan sebutan nenek. Setelah dilakukan wawancara dengan orang tuanya ternyata anak ini jarang dibawa keluar dan yang sering ditemuinya hanyalah anggota keluarganya saja seperti mam , papanya an neneknya .

Dapat disimpulkan penuis simpulkan bahwa pemerolahan semantik anak yang pertama lebih cepat dari pada anak yang kedua yang seharusnya sesuai dengan teori, anak yang kedua pemerolahan semantiknya lebih dahulu dan cepat dari anak pertama akan tetapi sebaliknya.

Teori mengatakan salah satu asumsi yang menjadi dasar hipotesis fitur-fitur semantic adalah karena pemilihan fitur-fitur yang berkaitan ini didasarkan pada pengalaman kanak-kanak sebelumnya, maka fitur-fitur ini pada umumnya didasarkan pada informasi persepsi atau pengamatan, setelah dilakukan wawancara denagan masing-masing orang tua, ternyata anak yang pertama lebih banyak berintreaksi dengan orang dewasa sehingga informasi persepsinya lebih banayak dan cepat dibangdingkan anak yang kedua informasi pengamatan lebih sedikit dibandingkan anak yang pertama

Analisa terhadap anak beusia 5 tahun 5bulan

Sementara analisis terhadap anak yang ketiga yaitu berusia 5,5 tahun sesui teori ini sesuia dengan tahap generalisasi disini anak Tahap ini berlangsung setelah kanak-kanak berusia lima tahun. Pada tahap ini kanak-kanak telah mulai mampu mengenal benda-benda yang sama dari sudut persepsi, bahwa benda-benda itu mempunyai fitur-fitur semantic yang sama.

Pada anak yang ketika ini sudah sesuai dengan teori karena anak ini sudah mampu mengenal benda-benda yang sama dari sudut semantiknya sebagaimna contoh anak ini sudah mampu megkasifikasikan fitur-fitu semantik yang sama seperti dia sudah mampu membedakan anggrek dengan bunga saja, akan tetapi pemerolehan semantiknya belum begitu sempurna.

PENUTUP

  1. Kesimpulan

Berdasarkan teori Clark (1977) dan observasi penulis secara umum menyimpulkan perkembangan pemerolehan semantik ini kedalam emapt tahap, yaitu :

a. Tahap penyempitan makna kata

Tahap ini berlangsung antara umur satu sampai satu setengah tahun ( 1:0 – 1:6 ). Pada tahap ini kanak-kanak menganggap satu benda tertentu yang dicakup oleh satu makna menjadi nama dari benda itu.

b. Tahap Generalisasi berlebihan

Tahap ini berlangsung antara usia satu tahun setengah sampai dua tahun setengah (1:6 – 2:6). Pada tahap ini kanak-kanak mulai menggeneralisasikan makna suatu kata secara berlebihan. Tahap medan semantik

Tahap ini berlangsung antara usia dua tahun setengah sampai lima tahun ( 2:6 - 5:0 ). Pada tahap ini kanak-kanak mulai mengelompokkan kata-kata yang berkaitan ke dalam satu medan semantik. Tahap generalisasi

Tahap ini berlangsung setelah kanak-kanak berusia lima tahun. Pada tahap ini kanak-kanak telah mulai mampu mengenal benda-benda yang sama dari sudut persepsi, bahwa benda-benda itu mempunyai fitur-fitur semantic yang sama. Pengenalan ini semakin sempurna jika kanak-kanak semakin bertanbah usianya.

Dilapangan sudah sesuai dengan dilapangan, hanya saja ada terdapat perbedaan ada anak yang pemerolehan semantiknya lebih cepat dikarenakan lingkungan yang mempengaruhinya sehingga pemerolahan fitur-fitur lebih banyak.

DAFTAR PUSTAKA

Aminuddin, Semantik, Pengantar Studi tentang Makna, Malang : Sinar Baru Algesindo, 2003

Chaer, Abdul, Psikolinguistik Kajian Teoritik, Jakarta : PT Rineka Cipta, 2003,

Dardjowidjojo, Soenjono, Psikolinguistik : Pengantar Pemahaman Manusia, Jakarta : Yayasan Obor Indonesia,

Penutup

Kesimpulan

Berdasarkan teori yang didapati dengan observasi dan analisa yang penulis dapat penulis simpulkan

TIORI PEMEROLEHAN FONOLOGI

oleh :

Zainal Abidin 127 035

ABSTRAK

Setelah penulis memahami tiori Struktur Universal kemudian penulis mengaittkan dengan kenyataan dilapangan, penulis dapat menyimpulkan, memang terbukti sebelum bayi mampu berbicara dia melalui dua tahab yang dibahas pada tiori Struktur Universal yaitu; tahap membabel (prabahasa) dan tahap pemerolehan bahasa nurani.

Tiori Generative Struktur Universal ini, cocok dan sesuai dengan realita yang ada dilapangan khususnya pada bayi yang penulis observasi, meskipun bayi tersebut belumbisa bicara dia memang melalui tahap-tahap pemerolehan ponologo bertingkat seperti digram data yang dijelaskan dalam tiori.

Jelas sudahlah dan penulis sepakat bahwa pada teori ini pemerolehan bahasa melaui penemuan konsep dan pembentukan hipotesis dan menekankan pentingnya faktor kreatifitas dalam pemerolehan bahasa.

Berdasarkan pendapat Weterson diatas penulis setuju dan sepakat, sesuai dengan realita yang ada dilapangan, memang benar kanak-kanak hanya mengucapkan kembali bagian ucapan yang makan waktu lebih kurang 0,2 detik, dan bagian yang diucapkan kembali adalah elemen vokal dan konsonan yang mencapai artikulasi kuat.

Menurut tiori ini berdasarkan bagan-bagan serta keterangan yang dikemukakan diatas memang kanak-kanak melalui hal yang tersebut diatas. Tetapi bayi yang penulis teliti belum melalui semua yang diterangkan diatas, karena bayi tersebut masih dalam rangka tahap membabel (prabahasa). Menurut tiori Kontras dan Proses penulis sepakat dan setuju bahwa bayi /kanak-kanak dengan berdasrkan realita yang penulis lihat dilapangan memang melalui seperti hal yang dijelaskan dalam tiori ini.

BAB I

PENDAHULUAN

Seluruh puji serta sedalam syukur penulis mohonkan kepada Allah SWT. Yang telah meridhoi, merahmati, memberkahi dan dengan pertolongan-Nya penulis telah dapat menulis makalah ini sebaik-baik mungkin. Selawat serta salam juga penulis mohonkan kepada Allah semoga Rasulullah saw, keluarganya, keterunannya, sahabatnya, serta orang-orang pengikutnya, dalam keridhoan-Nya.

Makalah ini penulis tulis untuk memenuhi salah satu tugas dalam mata kuliah Pskolinguistik yaitu sebagai pengganti ujuan mid semester yang dibinbing oleh dosen Dr. Abdulhalim Hanafi, M.A dan Nurlaila, M.A, semoga dengan bimbingan beliau penulis mendapatkan ilmu yang berkah dan bermanfa’at. Dan dengan keikhlasan beliau dalam membimbing penulis untuk menyelesaikan perkuliahan ini, semoga jadi ’amal sholeh disisi Allah SWT amiin yaa rabbal’alamin.

A. Latar Belakang Masalah

Adapun yang melatar belakangi masalah yang penulis bahas dalam makalah ini adalah begitu pesat dan cepatnya bayi yang bernama Agung Saputra ini, mengerti dan merespon apa-apa yang kita katakan dan kita ucapkan kepadanya sehingga mampu mengeluarkan bunyi-bunyi serta gerakan-gerakan tubuhnya membuktikan bahwa dia mengerti dan paham apa yang kita katakan padanya, hal ini juga membuktikan bahwa dia berkomunikasi dengan kita. Dengan demikian penulis tertarik untuk membahas pemerolehan fonologi bagi anak, sehingga dengan demikian penulis ingin mengetahui diantara sekian banyak tiori-tiori yang membahas tentang fonologi mana yang lebih cocok dan sesuai dengan bayi yang penulis observasi.

B. Rumusan Masalah

Berdasarkan dengan latarbelakang masalah diatas maka dari itu dapat penulis rumuskan masalah-masalah yang terkait dengan fonologi adalah :

1. Adanya diantara bayi-bayi yang cepat dan tanggap dalam merespon /berkomunikasi meskipun belum mampu untuk berbicara.

2. Ada diantarnya yang lamban salah satu diantara perkembangan fisik dengan kemampuan untuk berbicara.

3. Dan ada diantarnya yang bersamaan perkembangan fisik dengan kemampuan bicaranya.

4. Ada diantarnya yang sudah berkembang fisik dengan baik begitu juga bicaranya tetapi kurang tepat /pas dengan kata-kata yang sebenarnya.

C. Batasan Masalah

Sesuai dengan rumusan masalah yang telah penulis cantumkan diatas, maka penulis membatasi masalah yang akan penulis bahas :

1. Adanya diantara bayi-bayi yang cepat dan tanggap dalam merespon /berkomunikasi meskipun belum mampu untuk berbicara.

2. Dan ada diantarnya yang bersamaan perkembangan fisik dengan kemampuan bicaranya.


BAB II

TIORI PEMEROLEHAN FONOLOGI

Banyak teori yang menjelaskan masalah pemerolehan bahasa (fonologi) diantranya :

1. Teori Strukur Universal

Teori struktur universal ini dikembangkan oleh Jakobson (1968). Oleh karena itu sering juga disebut teori Jakobson. Pada intinya teori ini mencoba menjelaskan pemorelahan berdasarkan struktur-struktur universal lunguistik yakni hukum- hukum struktural yang megatur perubahan bunyi.

Dalam penelitiannya Jakobson mengamati pengeluaran bunyi-bunyi oleh bayi –bayi pada tahap membabel (babling) dan menemukan bahwa bunyi yang normal mengeluarkan berbagai bunyi yang normal mengeluarkan berbagai ragam bunyi dan vokalisasinya baik bunyi vokal maupun bunyi konsonan. Namun ketika bayi mulai memperoleh “kata” pertamanya ( kira-kira 1-0 tahun) makanya kebanyakan bunyi-bunyi ini menghilang. Malah sebagian dari bunyi-bunyi itu baru muncul kembali beberapa tahun kemudian. Dari pengamatannya Jakobson menyimpulkan adanya dua tahap dalam pemerolehan fonologi yaitu :

a. Tahap membabel prabahasa.

b. Tahap pemerolehan bahasa nurani.

Pada tahap prabahasa bunyi-bunyi yang dihasilkan bayi tidak menujukkan suatu urutan perkembangan tertentu, dan sama sekali tidak mempunyai hubungan dengan masa pemerolehan bahasa berikutnya. Jadi pada tahap membabel ini bayi hanya melatih alat-alat vokalnya dengan cara mengeluarkan bunyi-bunyi tanpa tujuan tertentu, atau bukan untuk berkomunikasi, sebaliknya, pada tahap pemerolehan bahasa yang sebenarnya bayi mengikuti suatu pemerolehan bayi yang relative universal dan tidak berubah.[1]

Menurut Jakobson diantara kedua tahap itu terdapat masa tidak adanya kegiatan yang menunjukkan tidak adanya kesinambungan diantara kedua tahap itu, meskipun masanya sangat singkat dan tidak tampak jelas. Banyak pakar psikolunguistik perkembangan menerima teori Jakobson mengenai masa senyap ini. Beberapa bukti yang memperkuat teori Jakobson ini adalah sebagai berikut:

a. Bunyi likuida [l] dan [r] yang sering muncul pada tahap membabel, hilang pada tahap mengeluarkan bunyi bahasa yang sebenarnya. Bunyi ini baru muncul lagi ketika bayi berumur tiga setengah tahun (3:6) atau (4:0) bahkan ketika berumur lima tahun (5:0).

b. Bayi-bayi yang pekak membabel dengan cara yang sama dengan yang sama dengan yang normal. Namun, setelah tahap membabel ini selesai bayi-bayi ini pun akan berhenti mengeluarkan bunyi-bunyi.

c. Menurut penelitian Port dan Preston (1972), VOT (voice onset time = waktu antara pelepasan bunyi hambat dan bergetarnya pita suara) seperti konsonan [d] dan [t] tidak sama pada tahap membabel dengan VOT pada tahap mengeluarkan bunyi bahasa yang sebenarnya; dan VOT ketika berusia satu tahun (1 : 0) sama dengan VOT orang dewasa. Perbedaan VOT ini membuktikan adanya masa peralihan diantara tahap membabel dengan tahap mengeluarkan bunyi yang sebenarnya.

Jika tahap pemerolehan bahasa yang sebenarnya dimulai, maka akan terdapat urutan peringkat perkembangan yang teratur dan tidak berubah meskipun taraf kemajuan tiap individu tidak sama. Perkembangan peringkat ini ditentukan oleh humum-hukum yang bersifat universal yang oleh Jakobson disebut “ the laws of irreversible solidarity. (1968 : 68)[2]

Jadi pada teori ini dapat disimpulkan pemerolehan fonologi berdasarkan struktur-struktur universal luguistik, dan terdapat dua tahap dalam pemerolehan fonolgi yaitu pemerolehan tahap membabel prabahasa, tahap pemerolehan bahasa nurani.

2. Teori Generative Struktur Universal

Teori Struktural Universal yang diperkenalkan oleh Jakobson di atas telah diperluas oleh Moskowitz (1970, 1971) dengan cara menerapkan unsur-unsur fonologi generatif yang diperkenalkan oleh Chomsky dan Halle (1968). Yang paling menonjol dari teori Moskowitz ini adalah “penemuan konsep” dan “pembentukan hipotesis” berupa rumus-rumus yang dibentuk oleh kanak-kanak berdasarkan Data Linguistik Utama (DLU), yaitu kata-kata dan kalimat-kalimat yang didengarnya sehari-hari.[3]

Moskowitz yang tidak sejalan dengan teori Chomsky yaitu mengenai konsep-konsep yang harus ditentukan oleh anak-anak untuk mengasimilasikan DLU lebih berkaitan dengan proses struktur nurani yang dihipotesiskan. Namun, kesimpulan lain menunjukkan adanya keselarasan yang tinggi dengan teori Chomsky yakni karena Moskowitz menentang teori pemerolehan bahasa dengan peniruan, serta menekankan pentingnya faktor kreatifitas dalam pemerolehan bahasa pada umumnya dan proses pemerolehan fonologi khususnya. Dalam proses pemerolehan bahasa kanak-kanak menemukan konsep-konsep serta menerapkan konsep-konsep itu untuk menciptakan bahasa.[4]

Keberhasilan utama yang dicapai si bayi pada tahap membabel adalah penemuan unit-unit kalimat yang merupakan unit lunguistik yang pertama. Ini ditandai dengan munculnya intonasi dan hentian-hentian dalam ucapannya; dan ini merupakan permulaan analisis bahasa segmental. Penemuan unit kalimat ini juga mencerminkan satu langkah utama kearah sosialisasi, yakni pembelajaran semantic karena kalimat sebagai suatu rangkaian bunyi panjang yang terbatas memiliki makna tertentu. Pada tahap penemuan unit kalimat ini muncullah satu proses pemorolehan fonologi yang bertingkat-tingkat sebagaimana bagan dibawah ini.

Data lugistik sebagai keluaran

Data yang diingat terus


Data yang diingat semakin lama


Data yang lebih lama diingat


Data yang dilupakan


Data lunguistik sebagai masukan

Proses dimulai dengan masuknya data lunguistik (berupa bunyi ucapan) ke dalam kotak 1. Data yang tidak dapat segera dipindahkan kedalam kotak 2 akan terbuang dari kotak 1; sedangkan yang lain segera dipindahkan kedalam kotak 2 data ini akan diingat dengan lebih lama. selanjutnya data ini dapat dipindahkan kekotak 3 agar data tersebut dapat tinggal lebih lama lagi. Adaikata karena sesuatu sebab data ini tidak bisa tinggal lebih lama , maka data ini akan kembali 1, dan menggalamai proses yang sama dengan data baru lainya. Data yang telah lama ada dikotak 3 akan dikirim kekotak 4 dengan syarat data tersebut terus muncul berulang-rulang. Data yang telah disampaikan kekotak 4 ini akan terus dapat dikeluarkan sebagai keluaran.[5]

Jelaslah bahwa pada teori ini pemerolehan bahasa melaui penemuan konsep dan pembentukan hipotesis dan menekankan pentingnya faktor kreatifitas dalam pemerolehan bahasa.

3. Teori Prosodi- Akuistik

Teori prosodi- akuistik ini diperkenalkan oleh Weteson (1976) sesudah dia merasa tidak puas dengan pendekatan fonemik segmental yang dikatakannya tidak memberikan gambaran yang sebenarnya mengenai pemerolehan fonologi.

Weterson (1971) berpendapat bahwa pemerolehan bahasa adalah satu proses sosial sehingga kajianya lebih tepat dilakukan dirumah dalam konteks sosial yang sebenarnya daripada pengkajian data-data eksprimen, lebih-lebih untuk mengetahui pomerolehan fonologi.

Weterson (1970) juga menemukan dan hubungan akuistik antara bentuk-bentuk ucapan kanak-kanak dengan fitur-fitur bentuk ucapan orang dewasa. Kanak-kanak hanya mengucapkan kembali bagian ucapan yang makan waktu lebih kurang 0,2 detik, dan bagian yang diucapkan kembali adalah elemen vokal dan konsonan yang mencapai artikulasi kuat.[6]

4. Teori Kontras dan Proses

Teori ini diperkenalkan oleh Ingram (1974, 1979) yakni suatu teori yang menggabungkan bagian-bagian penting dari teori Jakobson dengan bagian-bagian penting dari teori Stampe; kemudian menyelaraskan hasil penggabungan dengan teori perkembangan dari Piaget. Menurut Ingram kanak-kanak memperoleh system fonologi orang dewasa dengan cara menciptakan strukturnya sendiri; dan kemudian mengubah struktur ini jika pengetahuannya mengenai system orang dewasa semakin baik. Perkembangan fonologi ini melalui asimilasi dan akomodasi yang terus-menerus (menurut teori piaget): mengubah struktur untuk menyelaraskannya dengan kenyataan.

Peristiwa ini dapat digambarkan sebagai berikut:

Kata kanak-kanak kakkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkankankanakkanak

system kanak-kanak kakkkanak kakanakkanak

Kata orang dewasa

Ingram menegaskan kita harus mengakui adanya ketiga peringkat perkembangan fonologi kanak-kanak seperti telah digambaran dalam bagan. Kita harus dapat menerangkan bagaimana peringkat kedua (system kanak-kanak) terjadi. Untuk itu kita harus mempertimbangkan bagaimana kanak-kanak mengamati dan mengeluarkan ucapan-ucapan. Oleh karena persepsi kanak-kanak belum lengkap, maka pemerolehan system kanak-kanak haruslah digambarkan sebagai berikut.

persepsi

organisasi

Kata orang dewasa aaadewasa

Kata kanak-kanak

Pengeluaran

Bagan diatas menjelaskan bahwa suatu ujaran yang tepat mengenai perkembangan fonologi kanak-kanak harus dapat menerangkan ketiga peringkat diatas yaitu persepsi, organisasi dan pengeluaran.

Karena fonologi membicarakan kontras-kontras dan berusaha memberikan satu pengucapan pada tiap morfem, maka kanak-kanak haruslah berusaha memperoleh kontras-kontras dalam pengucapan-pengucapan itu. Uraian kontras-kontras fonologi orang dewasa inilah yang harus diberikan oleh peringkat organisasi ucapan kanak-kanak untuk kontras itu.

Lihat bagan berikut.

Persepsi senarai bunyi dan suku kata orang dewasa

Proses-proses

Organisasi senarai bunyi dan suku kata yang berkontras

Proses-proses


Pengeluaran senarai bunyi dan suku kata yang dikeluarkan

Tahap-tahap pemorelahan fonologi yang dibuat Ingram diatas sejalan dengan tahap-tahap perkembangan kognitif dari Pieget (1962) pada tahap persepsi, yang belum produktif itu, terdapat dua subtahap yaitu (a) vokalisasi praucapan dan (b) tahap fonologi primitif.[7]

BAB III

HASIL OBSERVASI

A. Waktu dan Tempat Observasi

1. Adapun waktu yang penulis lakukan untuk mengobservasi bertepatan pada hari Jum'at-Sabtu 21-22 Mai 2010. Pada sebenarnya mulai perkuliahan Pskolinguistik setelah pertemuan pertama Ustazah Nurlaila, M.A, memberikan tugas untuk pengganti ujian mid semester mengobservasi serta menganalisis tiori yang bersangkutan dengan pembahasan masalah yang penulis bahas. Mulai dari itu penulis selalu mengamati dan memperhatikan perkembangan bunyi-bunyi yang di lafalkan oleh bayi tersebut, karena penulis tinggal dirumah kontrakan mereka, dua kamar bagaian belakang tempat kos penulis dkk.

2. Tempat pelaksanaan observasi yaitu dirumah kontrakan orang tua bayi yang berhalamat di Talago. No 83 Jl. Sudirman, Jorong Kubura Rajo, Kecamatan Lima Kaum, Kabupaten Tanah Datar.

B. Biodata Bayi yang Diteliti

1. Nama : Agung Saputra

2. Jenis kelamin : Laki-laki

3. Umur : 15 Januari 2009 -27 Mai 2010 = 71 Minggu (1 Tahun 12 Minggu).

4. Tempat dan tanggal lahir : Talago, Kubura Rajo 15 Januari 2009

5. Anak ke : 4

6. Alamat : Talago. No 83 Jl. Sudirman, Jorong Kubura Rajo, Kecamatan Lima Kaum, Kabupaten Tanah Datar.

7. Nama ayah : Syafrial RN

8. Nama ibu : Yusrita

9. Pekerjaan ayah : Analis

10. Pekerjaan ibu : RT

C. Laporan kedua orang tua bayi serta kenyataan yang Penulis dapatkan disaat Observasi.

Sesuai dengan telah penulis lakukan observasi maka dapat penulis laporkan sebagai berikut :

1. Bayi yang bernama Agung Saputra, setelah diperhatikan dan diamati dia memang sanggup untuk memperoleh fonologi dengan baik.

2. Sesuai dengan tiori struktur universal yang dikemukakan oleh Jakobson bahwa memperoleh fonologi ada dua tahab, yaitu tahab membabel (prabahasa) dan pemerolehan bahasa nurani. Maka dari itu sesuai dengan hasil observasi dan setelah diamati, dapat disimpulkan bahwa bayi yang bernama Agung Saputra telah hampir selesai melalui tahap pertama dan sekarang sedang menjalani (menempuh) tahab kedua.

3. Bayi yang bernama Agung Saputra bisa merespon apa yang kita katakan dan mengerti teguran, seperti: tutup pintu, awas jatuah, jan mamanjek, jan diawai tu aak, dll.

4. Bayi ini meskipun dia belum sangup berbahasa (berbicara), tetapi dia sudah basa membedakan antara suruhan dan larangan.

5. Adapun bunyi-bunyi yang dapat dikeluarkan atau dilafalkan oleh bayi tersebut adalah:

a) Disaat memanggil ibunya bunyi yang dikeluarkan maa, kadang–kadang sudah sanggup melafalkan dengan lengkap (mamma).

b) Memanggil ayahnya bunyi yang dikeluarkan aaaaaa.

c) Sedangkan memanggil kakaknya bunyi yang dikeluarkan ma maa.

d) Dan disaat ia inyin pergi atau mengikuti (maikuik) kepada ayah, ibu, atau kakanya yang mau berpergian, maka dia mengucapkan atau melafalkan bunyi nah-nah sambil mengacungkan kedua tangannya agar digendong.

e) Meminta susu dia mengeluarkan bunyi nen-nen.

f) Sedangkan untuk meminta makan dia melafalkan bunyi mammam.

g) Sedangkan untuk meminta minum dia melafalkan bunyi 'uh ibunya menanyakan minum? dia jawab 'uh-'uh.

h) Disaat menyambut kedatangan ayahnya dia melafalkan bunyi aaaa (maksudnya papa).

i) Disaat menyambut kedatangan ibunya dia melafalkan bunyi maaa kadang-kadang mammaa.

j) Disaat menyambut kedatangan kakaknya dia melafalkan bunyi aaaaa.

k) Disaat meminta sesuatu seperti main-mainan, minta digendong, mengajak untuk bermain bersamanya dia mengeluarkan bunyi 'ah-'ah.

l) Disaat dia main mobil-mobilan dengan kakaknya dia menyeluarkan bunyi-bunyi nyaung-nyaung.

BAB IV

PEMBAHASAN

A. Analisis atau kaitan antara tiori dengan kenyataan dilapangan.

1. Kaitan dengan tiori Struktur Universal

Setelah penulis memahami tiori Struktur Universal kemudian penulis mengaittkan dengan kenyataan dilapangan, penulis dapat menyimpulkan, memang terbukti sebelum bayi mampu berbicara dia melalui dua tahab yang dibahas pada tiori Struktur Universal yaitu; tahap membabel (prabahasa) dan tahap pemerolehan bahasa nurani.

Tetapi menurut Jakobson beberapa bukti yang memperkuat teorinya yang ada dibawah ini, penulis tidak bisa memberikan argumen atau kaitanya dengan kenyataan terhadap bayi yang penulis observasi, karena bayi tersebut belum melalui tahap-tahap, seperti penjelasan dibawah ini:

1. Bunyi likuida [l] dan [r] yang sering muncul pada tahap membabel, hilang pada tahap mengeluarkan bunyi bahasa yang sebenarnya. Bunyi ini baru muncul lagi ketika bayi berumur tiga setengah tahun (3:6) atau (4:0) bahkan ketika berumur lima tahun (5:0).

2. Bayi-bayi yang pekak membabel dengan cara yang sama dengan yang sama dengan yang normal. Namun, setelah tahap membabel ini selesai bayi-bayi ini pun akan berhenti mengeluarkan bunyi-bunyi.

3. Menurut penelitian Port dan Preston (1972), VOT (voice onset time = waktu antara pelepasan bunyi hambat dan bergetarnya pita suara) seperti konsonan [d] dan [t] tidak sama pada tahap membabel dengan VOT pada tahap mengeluarkan bunyi bahasa yang sebenarnya; dan VOT ketika berusia satu tahun (1 : 0) sama dengan VOT orang dewasa. Perbedaan VOT ini membuktikan adanya masa peralihan diantara tahap membabel dengan tahap mengeluarkan bunyi yang sebenarnya.

Jadi berdasarkan tiga poin bukti yang dikemukakan oleh Jakobson diatas, penulis belum bisa mengaitkan dengan keadaan bayi yang penilis obsevasi, karena bayi tersebut masih dalam suasana membabel. Pada teori ini, penulis sepakat dan dapat disimpulkan pemerolehan fonologi berdasarkan struktur-struktur universal luguistik, terdapat dua tahap dalam pemerolehan fonolgi yaitu pemerolehan tahap membabel prabahasa, tahap pemerolehan bahasa nurani.

2. Kaitan dengan tiori Generative Struktur Universal

Setelah penulis amati dan pahami. Tiori Generative Struktur Universal ini, cocok dan sesuai dengan realita yang ada dilapangan khususnya pada bayi yang penulis observasi, meskipun bayi tersebut belumbisa bicara dia memang melalui tahap-tahap pemerolehan ponologo bertingkat seperti digram data yang dijelaskan dalam tiori.

Jelas sudahlah dan penulis sepakat bahwa pada teori ini pemerolehan bahasa melaui penemuan konsep dan pembentukan hipotesis dan menekankan pentingnya faktor kreatifitas dalam pemerolehan bahasa.

3. Kaitan dengan tiori Prosodi-akuistik

Berdasarkan pendapat Weterson diatas penulis setuju dan sepakat, sesuai dengan realita yang ada dilapangan, memang benar kanak-kanak hanya mengucapkan kembali bagian ucapan yang makan waktu lebih kurang 0,2 detik, dan bagian yang diucapkan kembali adalah elemen vokal dan konsonan yang mencapai artikulasi kuat.

4. Kaitan dengan tiori Kontras dan Proses

Menurut tiori ini berdasarkan bagan-bagan serta keterangan yang dikemukakan diatas memang kanak-kanak melalui hal yang tersebut diatas. Tetapi bayi yang penulis teliti belum melalui semua yang diterangkan diatas, karena bayi tersebut masih dalam rangka tahap membabel (prabahasa). Menurut tiori Kontras dan Proses penulis sepakat dan setuju bahwa bayi /kanak-kanak dengan berdasrkan realita yang penulis lihat dilapangan memang melalui seperti hal yang dijelaskan dalam tiori ini.

BAB V

PENUTUP

A. Kesimpulan

Dari pembahasan diatas dapat penulis tarik sebuah kesimpulan sebagai berikut, bayi yang bernama Agung Saputra sesuai dengan umur serta perkembangan fisiknya, juga kemampuannya dalam memperoleh ponologi. Penulis bisa menyatakan tidak ada gangguan ataupun hambatan baginya ini berdasarkan tiori, observasi, serta hasil analisis penulis.

B. Saran

Berdasarkan makalah yang telah penulis bahas diatas. Maka dari itu, penulis menyerankan kepada kita semua (pembaca) baik itu yang telah mempunyai sibuah hati maupun yang belum, agar dapat berbahasa dengan baik /berbicara yang bagus-bagus dihadapan bayinya. Karena semau bayi yang normal, apapun perkataan /pembicaraan kita, dia selalu menyerab meskipun itu baik atau pun buruk, seiring berjalanya waktu dia selalu akan mengikuti bahasa, logat, dan gaya bahasa lingkungan sekitarnya.

Sekali lagi penulis sarankan kepada kita semua, agar bisa menjadi orang tua yang baik juga mendidik, serta mengarahkan anak-anaknya kepada yang lebih baik. Mudah-mudahan anak-anak yang dititipkan Allah kepada kita jadi anak yang sholeh dan sholehah. Amiin yaa Rabbal'alamin.

C. Harapan

Semoga dengan makalah yang telah penulis bahas diatas, dapat kita ambil sebagai pedoman, sekurang-kurangnya untuk mengingatkan kita, menjadi orang tua yang perhatian terhadap bayinya dalam rangka membantu bainya untuk memperoleh bahasa yang baik.

D. Kesan

Semenjak mengikuti pertemuan pertama perkuliahan Pskolinguistik sampai sekarang antara lain:

1. Merasa cemas karena takut tidak bisa mengikuti perkuliahan ini dengan baik.

2. Setelah diikuti perkuliahan ini ternyata asik dan menyenangkan, dengan perkuliahan ini menambah penyetahuan dan wawasan dalam menghadapi (bergaul) dengan anak-anak.

3. sedangkan kesan dalam menyelesaikan makalah ini, memang di akui kalau dipandang disegi capeknya, memang agak capek. Tetapi penulis tidak merasa keberatan dan juga tidak terpaksa. Bahkan penulis merasa keasikan dan menyenangkan, disebabkan bayi yang penulis teliti setiap hari berkomunikasi dan bergaul dengan penulis.



[1] Abdul Chaer, Psikolunguistik Kajian Teoritik, ( Jakarta : PT. Rineka Cipta) . h 202-203

[2] Ibid h. 203

[3] Ibid h. 205

[4] http//sastra daerahhusu.blogspot com 2009/05. Diakses Tanggal 18 April 2010 Makalah Pemerolehan Fonologi oleh Fulfina Tahun Ajaran 2009/2010

[5] Op.Cit. h 206-207

[6] Op.cit. h 210-212

[7] Op.cit. h 212-213